Isu Flu Burung Bikin Resah, Dokter Hewan DKPP Tarakan Pastikan Ayam di Pasaran Aman Dikonsumsi

benuanta.co.id, TARAKAN – Beredarnya informasi terkait flu burung yang dikaitkan dengan penjualan ayam di Tarakan sempat menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Menanggapi hal itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Tarakan memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus flu burung pada unggas maupun manusia di Tarakan, sehingga masyarakat diminta tidak panik.

Medik Veteriner DKPP Tarakan, drh. Richard Alfonsus Saroha S, mengungkapkan pengawasan kesehatan hewan terus dilakukan secara rutin melalui sistem pemantauan berbasis laporan dari peternak, pelaku usaha, hingga masyarakat. Jika ada indikasi penyakit atau kematian unggas dalam jumlah tidak wajar, tim DKPP langsung turun melakukan pemeriksaan lapangan.

“Belum ada kasus. Artinya kita lakukan monitoring dan pengawasan berbasis laporan dari peternak, pelaku usaha ataupun masyarakat,” ungkapnya, Sabtu (25/4/2026).

Ia menyebut DKPP juga melibatkan berbagai unsur di lapangan, mulai dari RT, RW, Babinsa, Bhabinkamtibmas hingga warga, agar segera melaporkan jika ada gejala mencurigakan pada ternak ayam. Langkah ini dilakukan agar potensi penyakit bisa cepat ditangani sebelum meluas.

“Kami bekerja sama dengan RT RW, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan masyarakat untuk melaporkan jika ada indikasi gejala penyakit ayam yang massal atau banyak,” ujarnya.

Menurut Richard, jika ditemukan laporan kematian tinggi pada ayam, sampel akan segera dikirim ke laboratorium terakreditasi untuk diuji. Pemeriksaan dilakukan di laboratorium kesehatan hewan Provinsi Kalimantan Utara maupun Balai Veteriner Banjarbaru.

“Dari gejala itu kita akan lakukan pengujian laboratori ke laboratorium yang terakreditasi,” tegasnya.

Ia menjelaskan tidak semua kematian ayam disebabkan flu burung. Di lapangan, kasus yang lebih sering ditemukan justru penyakit ND atau Newcastle Disease, yang dikenal masyarakat sebagai penyakit ngorok pada ayam. Penyakit tersebut berbeda dengan flu burung karena tidak menular ke manusia.

“Biasanya kebanyakan di Tarakan itu kasus ND atau penyakit ngorok. Beda, kalau ND hanya antar unggas saja, dia tidak zoonosis atau menular ke manusia,” terangnya.

Terkait keamanan konsumsi daging ayam, masyarakat diminta tetap tenang dan memilih ayam yang sehat serta segar. DKPP menegaskan daging ayam aman dikonsumsi apabila dimasak dengan matang sempurna.

“Carilah yang memang sehat ya. Dengan mengonsumsi ayam sehat, kita akan aman,” katanya.

Ia menambahkan proses pemasakan yang benar menjadi kunci penting dalam mencegah risiko penularan penyakit dari pangan hewani. Menurutnya, virus pada daging akan mati ketika dimasak hingga matang sempurna.

“Kalau dikonsumsi pun dengan pematangan yang sempurna, biasanya virusnya mati,” tambahnya.

Selain pengawasan penyakit, DKPP juga terus melakukan pembinaan kepada peternak terkait biosecurity atau keamanan hayati di kandang. Edukasi diberikan mulai dari penyemprotan desinfektan, kebersihan kandang, hingga tata cara keluar masuk orang dan ternak ke area peternakan.

“Kalau selama ini pencegahan yang kita galakkan ini kunjungan lapangan, pembinaan terkait biosecurity,” katanya.

DKPP menegaskan apabila sewaktu-waktu terjadi kematian ayam secara mendadak dan massal, petugas tidak menunggu jadwal pemeriksaan rutin tahunan. Tim akan langsung turun ke lokasi untuk penanganan cepat.

“Kalau ada kematian mendadak yang dalam keadaan massal banyak, kita langsung periksa. Kita langsung terjun,” bebernya.

Masyarakat pun diimbau tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya. Pemerintah memastikan kondisi kesehatan unggas di Tarakan sejauh ini aman dan terus dipantau.

“Dengan mengonsumsi ayam sehat dan dimasak matang, masyarakat tidak perlu panik,” tutupnya. (*)

Reporter: Eko Saputra

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *