Bau Busuk Masih Muncul di Jalan Gajah Mada dan Cendrawasih

TARAKAN – Pengerjaan drainase di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Karang Anyar Pantai, Kota Tarakan, mulai dilakukan setelah sebelumnya kawasan tersebut dikeluhkan warga akibat kondisi jalan yang rusak, aliran air yang mengganggu, serta bau menyengat yang diduga berasal dari limbah usaha laundry. Namun, warga menilai persoalan itu belum sepenuhnya teratasi karena kondisi yang sempat membaik setelah peninjauan pemerintah kini kembali dikeluhkan.

Lis, warga RT 4 Karang Anyar Pantai yang sehari-hari berjualan di sekitar Jalan Gajah Mada, mengungkapkan aliran air yang diduga bercampur limbah laundry sempat tidak lagi mengarah ke kawasan tersebut setelah pemerintah melakukan peninjauan. Kondisi itu membuat jalan lebih kering, tidak berbau, dan dinilai lebih aman dilalui pengendara.

“Kemarin waktu pemerintah datang, sudah bagus. Tidak ada air, tidak bau, dan tidak ada kecelakaan. Sekarang mulai lagi ini,” ungkapnya, Selasa (3/11/2026).

Menurut Lis, aliran air tersebut kembali mengarah ke kawasan Jalan Gajah Mada sekitar dua minggu setelah peninjauan. Kondisi itu kemudian berlangsung kembali hingga hampir satu pekan terakhir, sehingga warga yang beraktivitas di sekitar lokasi harus menghadapi persoalan serupa.

“Dua minggu tidak dialirkan ke sini. Sekarang sudah mau satu minggu lagi dialirkan ke sini lagi,” jelasnya.

Ia menyebut bau paling menyengat biasanya muncul pada pagi hari, terutama sekitar pukul 07.00 hingga 08.00 Wita. Bau tersebut mengganggu warga dan pedagang yang mulai beraktivitas sejak pagi, terlebih karena banyak lalat di sekitar lokasi.

“Saya di sini tiap hari dari pagi sampai jam 12 siang. Kondisi paling bau itu pagi, jam tujuh sampai jam delapan. Bau, lalat banyak, kasihan orang-orang,” ujarnya.

Lis menilai kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga membuat warga mempertanyakan arah aliran air yang diduga berasal dari usaha laundry. Menurutnya, terdapat sungai besar di sekitar kawasan yang dinilai dapat menjadi alternatif aliran, sehingga ia berharap persoalan tersebut dapat ditangani secara menyeluruh.

“Kalau dari saya, nomor satu laundry itu harus dikondisikan. Suruh mengalir ke sana (arah parit besar), karena ada sungai besar di situ,” ucapnya.

Lis mengaku melihat adanya aktivitas penggalian di sekitar drainase Jalan Gajah Mada. Ia memahami pengerjaan itu ditujukan untuk mengatasi saluran yang tersumbat dan membantu mengalirkan air agar tidak meluap. Meski demikian, menurutnya, pengerjaan di bagian yang telah digali belum memberikan perubahan berarti pada bagian jalan tempat ia berjualan karena belum seluruh bagian saluran ditangani.

Baca Juga :  Penggalian Drainase Mampet, Pemkot Menunggu Normalisasi Provinsi

“Penggalian ini untuk yang mampet, biar airnya mengalir ke sana dan tidak meluap lagi. Tetapi bagian sini belum digali, jadi belum berpengaruh,” bebernya.

Selain persoalan bau dan aliran air, Lis juga menyoroti kebiasaan sebagian warga di sekitar lokasi yang menurut pengamatannya kerap menyapu area sekitar pada pagi hari, tetapi kemudian membuang sampah hasil sapuan tersebut langsung ke dalam drainase. Ia menilai kebiasaan itu perlu menjadi perhatian karena sampah yang masuk ke saluran berpotensi menambah sumbatan dan menghambat aliran air.

“Kadang juga saya lihat ada warga yang menyapu dan buang sampahnya itu masuk ke drainase, ini kan bisa bikin tambah tersumbat,” ujarnya.

Ia berharap pengerjaan drainase tersebut dapat dilanjutkan hingga bagian yang masih bermasalah dan benar-benar memperbaiki aliran air. Lis mengatakan kondisi jalan sempat terlihat lebih baik ketika aliran air tidak lagi mengarah ke lokasi tersebut, tetapi perubahan itu tidak bertahan lama.

“Kemarin sudah sempat bersih, tidak ada air dan tidak bau. Senang saya melihatnya. Sekarang mulai lagi muncul genangan,” tuturnya.

Selain persoalan aliran air, Lis menyoroti kerusakan permukaan jalan yang menurutnya membahayakan pengendara. Ia mengaku pernah melihat sejumlah pengendara terjatuh ketika melintasi bagian jalan yang rusak dan licin, termasuk anak-anak sekolah yang sedang berangkat pada pagi hari.

“Kasihan anak-anak sekolah. Mereka jatuh, seragamnya basah, badannya lecet. Pernah juga ada ibu-ibu sekitar umur 65 tahun jatuh saat naik sepeda motor,” katanya.

Lis menyebut kejadian pengendara terjatuh pernah cukup sering terlihat, terutama ketika kondisi jalan basah dan permukaannya tidak rata. Berdasarkan pengamatannya, jumlah pengendara yang terjatuh pada pagi hingga menjelang siang pernah mencapai beberapa orang dalam sehari. Namun, angka tersebut merupakan perkiraan berdasarkan pengamatannya, bukan data resmi kecelakaan.

“Kalau pagi sampai siang, bisa tujuh sampai sepuluh orang. Belum lagi kalau siang, sore, atau malam,” terangnya.

Baca Juga :  Kelurahan Juata Laut Didorong Jadi Kampung Rescue, Nelayan Jadi Sasaran Edukasi Hadapi Kondisi Darurat

Ia juga mengaku pernah berinisiatif menaruh kerikil di bagian jalan yang dinilainya berbahaya agar pengendara lebih mudah melintas. Namun, upaya tersebut tidak menyelesaikan persoalan karena kondisi jalan kembali bermasalah. Lis berharap perbaikan drainase dan jalan dapat dilakukan secara menyeluruh agar warga tidak terus menghadapi risiko yang sama.

“Saya pernah kasih batu kerikil juga untuk timbunan, tetapi habis. Kalau bisa, jangan sampai orang jatuh lagi, apalagi anak-anak sekolah,” sebutnya.

Lis turut mengatakan, terkadang ada warga yang sukarela menimbun jalan yang berlubang dengan material pasir dan batu. Ia mengatakan material tersebut sempat menutup bagian yang bermasalah, tetapi kondisi jalan kembali seperti semula.

“Kadang ada warga yang bawa timbunan, ditaruh di dalam. Sudah ditutup, tetapi mulai lagi,” katanya.

Ia berharap pemerintah tidak hanya melakukan penggalian drainase, tetapi juga memastikan penyebab persoalan aliran air dan kerusakan jalan ditangani sampai tuntas. Menurutnya, kondisi yang membaik sesaat belum cukup apabila air kembali mengalir ke lokasi yang sama dan membahayakan masyarakat.

“Kalau sudah jalan sudah bagus dan tidak bau. Maka tidak ada kecelakaan. Harapan saya bisa secepatnya ditangani biar masyarakat sekitar dan pengguna jalan merasa nyaman,” pungkasnya.

OMZET PEDAGANG MENURN SEJAK JALAN RUSAK

Salah satu pedagang makanan yang berjualan di sekitar Jalan Gajah Mada. (FOTO: EKO SAPUTRA/BENUANTA)

Lis, warga RT 4 Karang Anyar Pantai yang sehari-hari berjualan di sekitar jalan itu, mengaku mengalami penurunan omzet karena pembeli berkurang dan sebagian orang enggan melintas akibat kondisi jalan yang tidak nyaman.

Lis mengatakan jumlah pembeli yang datang sebelum kondisi jalan kembali bermasalah jauh lebih banyak dibandingkan sekarang. Ia memperkirakan omzet penjualannya yang biasanya mencapai Rp500 ribu hingga Rp600 ribu kini hanya sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu.

“Biasa omzet saya Rp500 ribu sampai Rp600 ribu. Sekarang paling Rp200 ribu sampai Rp300 ribu. Banyak penurunan, sangat berpengaruh,” ungkapnya, Senin (3/11/2026).

Menurut Lis, berkurangnya pembeli tidak terlepas dari kondisi jalan yang rusak serta bau menyengat yang muncul dari aliran air di sekitar lokasi. Situasi tersebut membuat orang enggan berhenti untuk berbelanja maupun melintasi kawasan tempat ia berdagang.

“Malas orang lewat karena baunya. Mau ke sini orang jadi malas sehingga pembeli jadi kurang,” katanya.

Baca Juga :  Kualitas Udara Tarakan Membaik, ISPU Kini Berada di Angka 68

Ia menjelaskan, dirinya berjualan sejak pagi hingga sekitar pukul 12.00 Wita. Waktu tersebut bertepatan dengan periode ketika bau paling menyengat biasanya muncul, yakni sekitar pukul 07.00 hingga 08.00 Wita. Kondisi itu membuat aktivitas berdagangnya berlangsung di tengah lingkungan yang kurang nyaman bagi dirinya maupun calon pembeli.

“Saya jualan dari pagi sampai jam dua belas. Paling bau itu pagi, jam tujuh sampai jam delapan,” ujarnya.

Lis menilai persoalan tersebut tidak hanya merugikan pedagang, tetapi juga mengganggu warga yang tinggal dan beraktivitas di sekitar Jalan Gajah Mada. Selain bau dan banyaknya lalat, kondisi jalan yang rusak turut menimbulkan kekhawatiran bagi pengendara yang melintas.

“Bau, lalat banyak. Kasihan orang-orang di sini. Kalau orang mau lewat saja sudah malas karena kondisinya seperti ini,” tuturnya.

Ia mengatakan kondisi jalan sempat membaik setelah pemerintah datang meninjau kawasan tersebut. Ketika aliran air yang dikeluhkan warga tidak lagi mengarah ke lokasi itu, permukaan jalan menjadi lebih kering dan bau berkurang. Namun, menurutnya, kondisi tersebut tidak bertahan lama karena aliran air kembali muncul.

“Kemarin sudah bersih, tidak ada air, tidak bau. Senang sekali saya. Tetapi sekarang mulai lagi,” katanya.

Ia menuturkan pernah berinisiatif menaruh kerikil di bagian jalan yang rusak untuk membantu pengendara melintas. Namun, upaya itu tidak menyelesaikan persoalan secara permanen. Ia berharap perbaikan jalan dilakukan bersamaan dengan pembenahan drainase agar kerusakan tidak terus berulang dan masyarakat kembali merasa nyaman melintas di kawasan tersebut.

“Saya pernah kasih batu kerikil juga, tetapi habis. Kalau jalan bagus dan tidak bau, orang juga lebih nyaman lewat,” tuturnya.

Lis berharap pemerintah segera menuntaskan persoalan tersebut karena dampaknya dirasakan langsung oleh warga dan pedagang yang setiap hari beraktivitas di kawasan itu. Ia menilai perbaikan bukan sekadar menyangkut kondisi jalan, melainkan juga keselamatan pengendara, kenyamanan lingkungan, dan keberlangsungan usaha kecil di sekitarnya.

“Ini juga uang rakyat. Kalau bisa, diselesaikan betul-betul. Kami yang setiap hari di sini tahu persis kondisinya,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli