Waspada! Puncak Pasang Laut Tarakan Capai 3,5 Meter pada 13 September

Tarakan107 views

benuanta.co.id, TARAKAN – Warga pesisir dan masyarakat yang tinggal di permukiman atas air di Kota Tarakan diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir rob yang diperkirakan terjadi pada pertengahan September 2026. Fenomena ini dipengaruhi fase bulan baru yang berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut hingga mencapai 3,5 meter.

Forecaster on Duty BMKG Tarakan, Muhammad Reza Saputra, mengungkapkan fenomena pasang tertinggi berkaitan dengan fase bulan baru atau new moon, yang secara astronomis disebut sebagai fase konjungsi. Pada fase tersebut, posisi bulan berada tepat atau hampir sejajar di antara Bumi dan Matahari.

“Fase bulan baru (new moon) atau yang secara astronomis disebut fase konjungsi adalah ketika posisi bulan berada tepat atau hampir sejajar di antara Bumi dan Matahari,” ungkapnya, Rabu (9/9/2026).

Menurut Reza, pasang surut merupakan fenomena yang terjadi setiap hari, tetapi ketinggian pasang dapat mencapai kondisi maksimum pada fase bulan baru dan bulan purnama. Kondisi tersebut terjadi karena gaya gravitasi Bulan dan Matahari bekerja secara bersamaan terhadap lautan Bumi.

“Pasang surut biasanya itu terjadi setiap hari, tetapi untuk air pasang yang tertinggi itu terjadi pada dua fase bulan, yakni bulan baru (new moon) dan bulan purnama (full moon),” katanya.

Ia menerangkan, posisi Bulan, Bumi, dan Matahari yang hampir sejajar menyebabkan gaya gravitasi Bulan dan Matahari menarik massa air laut dari arah yang relatif sama. Kondisi ini membuat muka air laut mengalami pasang lebih tinggi sekaligus menghasilkan surut yang lebih rendah.

Baca Juga :  Akses Jalan Ditutup selama Proses Penyiraman Batu Bara Terbakar di Pantai Amal

“Posisi yang sejajar ini mengakibatkan gaya gravitasi Bulan dan Matahari bersatu menarik lautan Bumi dari arah yang sejajar sehingga menghasilkan ketinggian pasang yang tinggi dan surut yang rendah,” terangnya.

Untuk periode September 2026, fase bulan baru diperkirakan terjadi pada 11 September. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai masyarakat karena berdekatan dengan periode peningkatan ketinggian pasang air laut di wilayah Tarakan.

“Pada tanggal 11 September ini yang terjadi adalah fase bulan baru,” ujarnya.

Berdasarkan prediksi pasang surut BMKG, ketinggian air laut diperkirakan mencapai puncaknya pada 13 September 2026. Ketinggian maksimal diprediksi mencapai 3,5 meter dari titik surut terendah yang berada pada 0 meter.

“Berdasarkan prediksi pasang surut, puncaknya itu pada tanggal 13, dengan ketinggian maksimal 3,5 meter dari titik surut terendah (0 meter),” bebernya.

Ketinggian tersebut sudah berada di atas ambang batas potensi rob yang berlaku untuk Kota Tarakan. BMKG menyebut ketinggian pasang yang mencapai atau melebihi 3,3 meter sudah memiliki potensi menimbulkan banjir rob, terutama di kawasan yang berada dekat dengan garis pantai maupun permukiman di atas air.

Baca Juga :  Produksi Air Bersih di Tarakan Turun 30 Persen, Pola Distribusi Bergilir Mulai Dilakukan

“Ambang batas di Kota Tarakan ini apabila prediksi melebihi atau sama dengan 3,3 meter itu sudah ada potensi rob,” jelasnya.

Puncak pasang tersebut diperkirakan terjadi dua kali dalam sehari, yakni pada pagi dan malam hari. Pada pagi hari, pasang tertinggi diprediksi berlangsung sekitar pukul 06.00–08.00 WITA, sedangkan pada malam hari terjadi sekitar pukul 19.00–21.00 WITA.

“Waktu pasang tertingginya terjadi pada pagi, jam 06.00 sampai 08.00 WITA, dan malam, sekitar pukul 19.00 sampai 21.00 WITA,” ujarnya.

Selain pasang tinggi, masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi surut selama periode tersebut. BMKG memprediksi titik surut terendah dalam periode 11 hingga 14 September 2026 dapat mencapai 0 meter, dengan titik terendah tersebut diperkirakan terjadi pada 14 September.

“Pada tanggal 14 September 2026, titik surut terendah pada periode ini, yaitu 11 sampai 14 September 2026, adalah mencapai 0 meter,” lanjutnya.

Menghadapi potensi tersebut, warga yang tinggal di kawasan pesisir dan permukiman di atas air di Tarakan diimbau melakukan langkah antisipasi sejak sebelum puncak pasang terjadi. Masyarakat diminta mengamankan barang berharga serta peralatan listrik dengan memindahkannya ke ruangan atau area rumah yang lebih tinggi.

Baca Juga :  Dahului Mobil, Pengendara Motor Tabrak Pejalan Kaki di Depan Kantor Pos Tarakan

“Warga pesisir dan pemukiman di atas air di Tarakan diimbau untuk segera meningkatkan kewaspadaan,” imbaunya.

Kewaspadaan juga diperlukan bagi masyarakat yang menggunakan perahu sebagai sarana aktivitas sehari-hari. Tali tambat perahu perlu dipastikan terikat kuat, tetapi tetap diberikan kelonggaran yang cukup agar dapat menyesuaikan dengan perubahan atau lonjakan muka air laut.

“Antisipasi dengan memastikan tali tambat perahu terikat kuat namun tetap memiliki kelonggaran yang cukup untuk menyesuaikan lonjakan muka air,” tuturnya.

BMKG turut mengingatkan agar pengawasan terhadap anak-anak di lingkungan permukiman pesisir diperketat, khususnya ketika berada di sekitar jembatan kayu maupun pelataran rumah panggung. Kondisi pasang dan perubahan muka air dapat meningkatkan risiko bagi anak-anak yang beraktivitas di kawasan tersebut.

“Perlu memperketat pengawasan terhadap aktivitas anak-anak di sekitar jembatan kayu maupun pelataran rumah panggung,” tegasnya.

Masyarakat juga diminta terus mengikuti perkembangan informasi cuaca dan kondisi pasang surut serta arahan dari aparat maupun pemerintah daerah setempat. Langkah tersebut penting agar masyarakat dapat melakukan penyesuaian aktivitas dan mitigasi lebih awal apabila kondisi di lapangan mengalami perubahan.

“Perlu pula mengikuti arahan dari aparat atau pemerintah daerah setempat,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *