Kerja Sama Jatim-Kaltara Dorong Produk Lokal Tembus Pasar Ekspor lewat Surabaya

Ekonomi47 views

benuanta.co.id, TARAKAN – Potensi komoditas Kalimantan Utara (Kaltara) dinilai masih memiliki ruang besar untuk menembus pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional. Penguatan konektivitas perdagangan melalui Surabaya menjadi salah satu peluang yang didorong dalam Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur-Kalimantan Utara, terutama untuk mengembangkan komoditas seperti sarang burung walet, hasil perikanan, dan produk berbasis kelapa.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengatakan pertemuan antara pelaku usaha Jawa Timur dan Kalimantan Utara menjadi momentum untuk saling mengenali potensi produk dan mempertemukannya dengan jaringan pasar yang lebih luas. Menurutnya, kerja sama tersebut tidak seharusnya berhenti pada transaksi dalam forum, tetapi harus ditindaklanjuti hingga menghasilkan pengembangan pasar.

“Apa yang menjadi kekuatan belum semua tereksplor,” ungkapnya dalam kegiatan Misi Dagang dan Investasi di Tarakan, Selasa (8/9/2026).

Salah satu potensi yang secara khusus disoroti Khofifah adalah komoditas sarang burung walet Kalimantan Utara. Ia menilai besarnya potensi walet di Kaltara perlu diikuti dengan langkah konkret untuk mempertemukan produsen dengan trader dan buyer yang memiliki akses pasar internasional.

“Untuk sarang burung walet, Kaltara ini budayanya, tapi saya belum lihat ada transaksi sarang burung walet,” katanya.

Khofifah kemudian mengaitkan peluang tersebut dengan pengalaman Jawa Timur dalam membuka akses perdagangan sarang burung walet ke pasar luar negeri. Ia menyebut akses yang sebelumnya sulit melalui Hong Kong kini mulai terbuka, bahkan dengan nilai perdagangan yang signifikan.

“Tiga tahun lalu kita susah memasukkan produk sarang burung walet melalui Hong Kong, tapi dua bulan lalu kita bisa memasukkan dalam transaksi yang cukup prestisius,” bebernya.

Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa peluang pasar sarang burung walet tidak hanya berasal dari satu negara. Trader dan buyer dari sejumlah negara mulai terlibat dalam perdagangan komoditas tersebut sehingga membuka peluang yang lebih besar bagi daerah penghasil.

“Trader-nya makin banyak, banyak yang mengikuti transaksi, dan bayarnya juga dari beberapa negara, bukan hanya dari Hong Kong, tapi kita juga menemukan dari Republik Rakyat Tiongkok, juga dari Korea Selatan,” jelasnya.

Baca Juga :  Investasi Rp11 Triliun Masuk Kaltara, Siapa Paling Diuntungkan?

Karena itu, Khofifah meminta pelaku usaha Jawa Timur yang hadir dalam forum tersebut untuk melihat potensi sarang burung walet Kaltara sebagai peluang bisnis yang perlu ditindaklanjuti. Ia mendorong agar komoditas tersebut tidak hanya menjadi potensi daerah, tetapi dapat masuk ke dalam jejaring perdagangan yang telah dimiliki pelaku usaha Jawa Timur.

“Ini bisa menjadi catatan penting, baik trader dan buyer yang dari Jawa Timur, untuk bisa melakukan langkah tindak lanjut dari potensi sarang burung walet yang ada di Kaltara ini,” tegasnya.

Khofifah mengatakan pengalaman serupa juga pernah ditemukan dalam misi dagang Jawa Timur ke daerah lain. Saat berkunjung ke Gorontalo, misalnya, pihaknya menemukan jenis ikan tertentu yang selama ini justru dibeli oleh pengusaha Jawa Timur melalui China. Temuan tersebut menunjukkan adanya rantai perdagangan yang dapat dipangkas apabila produsen dan pembeli dipertemukan secara langsung.

“Mereka kaget bahwa ternyata China membeli ikan itu dari Gorontalo, setelah sampai di China diimpor oleh kawan-kawan dari KADIN Jatim,” terangnya.

Menurut Khofifah, pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa kegiatan misi dagang dapat membuka fakta baru mengenai rantai pasok suatu komoditas. Produk daerah yang selama ini tidak diketahui memiliki pasar ternyata dapat langsung dihubungkan dengan pembeli ketika pemerintah dan pelaku usaha melakukan penjajakan secara langsung.

“Jadi sering kita temukan fenomena seperti ini selama kita misi dagang,” katanya.

Peluang serupa juga ditemukan pada komoditas berbasis kelapa. Khofifah menceritakan ketika Jawa Timur melakukan misi dagang ke Hong Kong sekitar empat tahun lalu, terdapat permintaan tinggi terhadap batok arang kelapa, termasuk dalam bentuk cair. Permintaan tersebut kemudian dipertemukan dengan potensi produksi di daerah lain di Indonesia.

“Mereka membutuhkan batok arang kelapa dalam bentuk cair, ternyata pada saat kita misi dagang ke Lampung, kita menemukan batok arang kelapa cair itu sudah diproduksi di Lampung dalam jumlah yang cukup besar,” ujarnya.

Ketika kembali melakukan misi dagang ke Hong Kong, permintaan terhadap batok arang kelapa tersebut ternyata masih tinggi. Penelusuran berikutnya ke Gorontalo dan Sulawesi Utara juga menemukan ketersediaan komoditas yang besar, sehingga memperlihatkan pentingnya mempertemukan kebutuhan pasar dengan sentra produksi.

Baca Juga :  Jatim Bidik Usaha Sarang Burung Walet, Pemprov Kaltara Siap Sambut Kerja Sama

“Kemarin ketika kita ke Hong Kong lagi, kebutuhan batok arang kelapa juga masih sangat tinggi, dan ketika kemudian kembali kita ke Gorontalo dan kita ke Sulawesi Utara, ternyata batok arang kelapa baik di Gorontalo maupun di Sulawesi Utara jumlahnya sangat besar,” imbuhnya.

Dari pengalaman tersebut, Khofifah menilai kerja sama Jawa Timur dan Kalimantan Utara perlu diarahkan pada proses pemetaan dan pengembangan produk secara berkelanjutan. Kesepakatan yang telah dibuat dalam misi dagang tidak cukup hanya ditandatangani, tetapi perlu diperluas agar potensi yang ada dapat benar-benar masuk ke pasar.

“Apa yang ditandatangani, transaksi tadi, ini sesuatu yang harus dikembangkan, diluaskan kembali,” tegasnya.

Ia juga menilai Surabaya memiliki posisi strategis sebagai pintu bagi produk Kalimantan Utara untuk menjangkau pasar luar negeri. Efisiensi distribusi dan akses ekspor menjadi alasan utama mengapa pelaku usaha Kaltara didorong memanfaatkan konektivitas dengan Jawa Timur.

“Proses untuk bisa membawa produk-produk ini ke luar negeri itu paling efisien dari Surabaya,” lanjutnya.

Konektivitas tersebut diperkuat dengan keberadaan jalur tol laut yang menghubungkan berbagai wilayah dengan Surabaya. Khofifah menyebut dari 41 kapal pada jalur tol laut yang ada, sebanyak 24 di antaranya melalui Surabaya, sehingga posisi tersebut dinilai strategis bagi pengembangan perdagangan dan ekspor produk daerah.

“Dari 41 kapal jalur tol laut, hari ini sudah 24 lewat Surabaya,” tuturnya.

Menurutnya, konektivitas tersebut dapat memberikan efisiensi dan efektivitas bagi pelaku usaha, khususnya ketika produk daerah diarahkan ke pasar ekspor. Karena itu, ia mengajak pengusaha Kalimantan Utara untuk memaksimalkan akses yang tersedia melalui Jawa Timur.

“Kalau kita ingin ekspor, maka pintunya memang paling efisien itu dari Surabaya. Pengusaha-pengusaha dari Kaltara, ayo bersama-sama kita memaksimalkan,” ajaknya.

Khofifah menilai penguatan perdagangan tidak dapat hanya mengandalkan pembiayaan dan intervensi pemerintah. Peran sektor swasta juga perlu diperluas agar mampu memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi melalui investasi dan pengembangan usaha.

Baca Juga :  Hapelnas 2026, Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Perkuat Kedekatan dan Dengarkan Pelanggan

“Creative financing bisa disupport oleh peningkatan PID, tapi creative financing bisa dilakukan melalui sektor-sektor private,” jelasnya.

Karena itu, pola kerja sama antardaerah diarahkan untuk mempertemukan pelaku usaha dengan sumber daya, pasar, dan mitra yang dibutuhkan. Khofifah menilai penguatan aksesibilitas tersebut menjadi bagian penting dari misi dagang Jawa Timur dengan berbagai provinsi mitra, termasuk Kalimantan Utara.

“Yang kita lakukan ini membangun aksesibilitas, akses para pelaku-pelaku usaha dari Jawa Timur dengan provinsi mitra,” ujarnya.

Khofifah berharap kerja sama yang dibangun bersama Kalimantan Utara mampu memberikan manfaat bagi kedua pihak, baik melalui perluasan pasar, peningkatan kualitas produk, maupun pengembangan jejaring usaha. Ia menekankan bahwa kekuatan ekonomi masing-masing daerah akan lebih optimal apabila dikembangkan melalui kolaborasi.

“Kita tumbuh bersama, kita berkembang bersama, kita maju bersama, dan insyaallah kita sejahtera bersama,” harapnya.

Dalam forum tersebut, Khofifah juga menekankan pentingnya kolaborasi antarasosiasi dan pelaku usaha dari kedua provinsi. KADIN, HIPMI, IWAPI, APINDO, serta asosiasi lainnya diharapkan tidak hanya hadir dalam forum, tetapi ikut memperkuat pasar dan kualitas produk sesuai kebutuhan konsumen.

“Kolaborasi di antara mereka akan menguatkan baik dari sisi penguatan pasar maupun dari sisi kualitas produk sesuai dengan kebutuhan pengembangan pasar yang ada,” lanjutnya.

Dengan demikian, Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur-Kalimantan Utara tidak hanya diarahkan untuk mempertemukan penjual dan pembeli, tetapi juga menjadi ruang untuk menemukan potensi yang belum tergarap, membuka jalur distribusi baru, dan menghubungkan produk lokal dengan jaringan pasar yang lebih luas. Khofifah menegaskan, capaian forum tersebut harus dilanjutkan melalui tindak lanjut nyata atas seluruh peluang dan transaksi yang telah dibangun.

“Mari kita tindak lanjuti dengan keluarbiasaan untuk menjalankan seluruh komitmen transaksi yang tadi sudah kita tandatangani bersama,” tutupnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *