Investasi Rp11 Triliun Masuk Kaltara, Siapa Paling Diuntungkan?

Ekonomi32 views

benuanta.co.is, TARAKAN – Masuknya investasi hingga Rp11 triliun ke Kalimantan Utara (Kaltara) menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, besarnya angka investasi tersebut dinilai belum cukup menjadi ukuran keberhasilan apabila manfaat ekonomi yang dihasilkan belum sepenuhnya kembali kepada masyarakat dan sektor-sektor lokal.

Akademisi Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr. Margiyono, S.E., M.Si., menilai investasi yang masuk ke Kaltara harus mampu memperkuat perekonomian daerah melalui pemanfaatan bahan baku, sumber daya, serta tenaga kerja lokal. Menurutnya, investasi tidak semestinya hanya menjadikan Kaltara sebagai lokasi aktivitas produksi tanpa memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.

“Kalau kita memang melakukan investasi, sejogianya investasi apa pun, investasi dari mana pun, tetap harus diutamakan menggunakan input lokal,” ungkapnya.

Ia mengatakan, informasi mengenai realisasi investasi senilai Rp11 triliun perlu dilihat secara lebih luas dalam kaitannya dengan aktivitas ekonomi dan perputaran dana di Kaltara. Berdasarkan data yang dibacanya dari Bank Indonesia, penyaluran kredit perbankan di Kaltara hingga Juni telah mencapai sekitar Rp46 triliun secara akumulatif.

“Di dalamnya itu ada kredit investasi, kredit modal kerja dan juga kredit konsumsi,” katanya.

Menurut Dr. Margiyono, angka tersebut menunjukkan adanya perputaran dana dan aktivitas ekonomi yang cukup besar di Kaltara. Meski demikian, investasi yang masuk harus memiliki keterhubungan dengan sektor-sektor ekonomi lokal agar keuntungan yang dihasilkan tidak lebih banyak mengalir keluar daerah.

Baca Juga :  Telkomsel Maknai Hari Pelanggan Nasional 2026 Bersama Pelanggan di Kalimantan

“Yang menjadi pertanyaan paling mendasar, kita dapat apa? Kita ini sedang melayani siapa?” tegasnya.

Ia menjelaskan, Kaltara memiliki berbagai potensi sumber daya yang dapat menjadi basis pengembangan investasi dan industri, mulai dari batu bara, gas, minyak, perkebunan sawit dan kakao, hingga sektor perikanan serta rumput laut. Potensi tersebut, menurutnya, perlu diolah dan dikembangkan melalui investasi yang mampu menciptakan nilai tambah di daerah.

“Kalau kita ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, maka input lokal adalah yang harus menjadi perhatian,” ujarnya.

Pemanfaatan input lokal, lanjutnya, tidak hanya berkaitan dengan penggunaan bahan baku yang tersedia di Kaltara. Investasi juga harus membuka ruang sebesar-besarnya bagi pemanfaatan sumber daya manusia dan tenaga kerja lokal sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

“Kalau dia diolah, pabriknya yang bekerja orang lokal, petaninya orang lokal, nelayannya orang lokal, pekebunnya orang lokal,” katanya.

Dr. Margiyono mengingatkan, investasi dapat kehilangan manfaat ekonominya bagi daerah apabila sebagian besar komponennya justru berasal dari luar. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika modal, tenaga kerja, bahan baku hingga kepemilikan usaha didominasi pihak luar, sementara Kaltara hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan produksi.

Baca Juga :  ‘Kumpaunomic’ Bisa Bikin Desil Bergeser, Ekonom Dorong Masyarakat Ubah Konsumsi Jadi Aset

“Kalau pekerjanya juga dari luar, investasinya dari luar, tenaganya dari luar, inputnya dari luar, pertanyaan paling mendasar kita dapat apa?” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran investasi seharusnya tidak hanya menghasilkan angka pertumbuhan ekonomi secara statistik, tetapi juga mampu menciptakan perputaran ekonomi yang lebih luas di tengah masyarakat. Aktivitas investasi yang terhubung dengan sektor lokal dinilai dapat menciptakan efek berantai mulai dari pembukaan lapangan kerja hingga peningkatan pendapatan masyarakat.

“Supaya kita melayani ekonomi kita, kita melayani masyarakat kita dan penduduk kita, maka harus mengolah input lokal,” imbuhnya.

Ia juga menyinggung kondisi konsumsi masyarakat Kaltara yang menurutnya masih relatif kecil. Rendahnya pengeluaran masyarakat tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pergerakan ekonomi tidak secepat daerah lain yang memiliki tingkat konsumsi dan daya beli lebih tinggi.

“Konsumsi kita kecil, belanja kita kecil, maka ekonomi kita bergeraknya menjadi lambat,” lanjutnya.

Dalam kondisi tersebut, Dr. Margiyono menilai investasi memiliki peran penting untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru. Namun, investasi harus diarahkan pada sektor-sektor produktif yang mampu menggerakkan ekonomi dari hulu hingga hilir dan tidak hanya menghasilkan keuntungan bagi investor.

Baca Juga :  Ekonomi Tumbuh 4,96 Persen, BI Soroti Ketergantungan Kaltara pada Tambang

“Investasi apa pun, investasi dari mana pun, tetap harus diutamakan menggunakan input lokal,” sebutnya.

Ia menambahkan, investasi yang memanfaatkan potensi daerah dapat menghasilkan dampak ekonomi berlapis. Selain menciptakan lapangan pekerjaan, industrialisasi berbasis sumber daya lokal juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, mengurangi pengangguran dan kemiskinan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

“Kalau nilai tambahnya diciptakan di daerah, maka dampaknya akan menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” tambahnya.

Karena itu, Dr. Margiyono menilai keberhasilan investasi di Kaltara tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa besar modal yang berhasil masuk. Menurutnya, ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh investasi tersebut mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat dan memperkuat struktur ekonomi daerah.

“Kita bicara tentang kepentingan nasional atau upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Ia pun mendorong agar setiap investasi yang masuk ke Kaltara memiliki keterkaitan kuat dengan bahan baku, sumber daya, dan tenaga kerja daerah. Dengan pola tersebut, uang dan aktivitas ekonomi diharapkan dapat lebih banyak berputar di dalam Kaltara serta menciptakan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

“Yang penting adalah pemanfaatan bahan baku lokal, sumber daya lokal atau tenaga kerja lokal,” tandasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *