benuanta.co.id, TARAKAN – Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara (Kaltara) yang mencapai 4,96 persen pada Triwulan II-2026 belum sepenuhnya lepas dari persoalan struktural. Bank Indonesia menilai ketergantungan terhadap sektor pertambangan dan bahan mentah masih menjadi salah satu tantangan utama perekonomian daerah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Agus Taufik, mengatakan ekonomi Kaltara tetap tumbuh tinggi pada Triwulan II-2026, terutama karena ditopang sektor industri pengolahan yang tumbuh 28,06 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Namun, di balik pertumbuhan tersebut, terdapat sejumlah persoalan yang perlu dibenahi agar ekonomi Kaltara tidak terlalu bergantung pada sektor berbasis komoditas.
“Perekonomian Kaltara masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti tingginya ketergantungan pada sektor pertambangan dan bahan mentah terhadap harga komoditas global, keterbatasan aksesibilitas dan infrastruktur, serta kompetensi SDM lokal yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan industri,” ujarnya.
Ketergantungan terhadap komoditas mentah membuat perekonomian daerah memiliki kerentanan ketika harga komoditas global mengalami perubahan. Kondisi tersebut menjadi tantangan di tengah upaya Kaltara mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Di sisi lain, industri pengolahan mulai menunjukkan kontribusi yang signifikan. Sektor tersebut tumbuh 28,06 persen, seiring peningkatan produksi kayu dan penjualan produk baru aluminium dari penyewa kawasan Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI).
Kondisi tersebut membuka peluang bagi Kaltara untuk mempercepat transformasi dari ekonomi berbasis bahan mentah menuju ekonomi yang menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Hilirisasi industri logam dasar dan pangan menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan. Selain itu, optimalisasi ekspor produk lokal ke negara tetangga dan pengembangan ekonomi digital juga dinilai dapat memperluas sumber pertumbuhan ekonomi daerah.
“Ke depan, peluang pertumbuhan ekonomi daerah didukung oleh hilirisasi industri logam dasar dan pangan, optimalisasi ekspor produk lokal ke negara tetangga, serta pengembangan ekonomi digital,” ungkapnya.
Tantangan lainnya berada pada sisi sumber daya manusia. Kompetensi tenaga kerja lokal yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan industri menjadi pekerjaan rumah ketika investasi dan aktivitas industri terus berkembang.
“Artinya, pertumbuhan ekonomi Kaltara perlu diikuti peningkatan kualitas SDM, infrastruktur dan aksesibilitas agar manfaat pertumbuhan industri dapat lebih banyak dirasakan masyarakat daerah,” tutupnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Ramli







