Lonjakan Kasus ISPA Nunukan, Kabut Asap Jadi Perhatian Serius

Nunukan36 views

benuanta.co.id, NUNUKAN – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Nunukan kembali meningkat saat kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan, Miskia, menyebut perubahan angka kasus ISPA sepanjang Agustus menunjukkan kondisi yang belum stabil. Situasi itu dinilai perlu mendapat perhatian karena terjadi bersamaan dengan persoalan kualitas udara akibat kabut asap.

“Trennya memang fluktuatif. Setelah sempat turun, minggu ke-34 kembali meningkat. Ini yang perlu kita waspadai,” kata Miskia.

Data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan menunjukkan terdapat sekitar 380 kasus ISPA pada Minggu Epidemiologi ke-34.

Jumlah itu bertambah sekitar 50 kasus dibanding pekan sebelumnya yang mencatat sekitar 330 kasus.

Kenaikan tersebut memutus tren penurunan kasus ISPA yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Pada Minggu Epidemiologi ke-31, kasus berada di angka sekitar 420, kemudian turun menjadi 350 kasus pada pekan ke-32 dan kembali turun ke kisaran 330 kasus pada pekan ke-33.

Baca Juga :  Akses Jalan Krayan Selatan Mulai Pulih, Distribusi BBM dan Pasokan Kebutuhan Kembali Normal

“Memasuki pekan ke-34, jumlah kasus kembali bergerak naik,” terangnya.

Meski waktunya beriringan dengan munculnya kabut asap, Dinas Kesehatan belum memastikan paparan asap sebagai penyebab langsung kenaikan kasus tersebut.

Miskia menjelaskan, ISPA tidak hanya dipengaruhi satu faktor. Perubahan cuaca, kondisi lingkungan, daya tahan tubuh hingga paparan polusi udara dapat menjadi pemicu.

Namun, keberadaan kabut asap tetap menjadi ancaman kesehatan karena paparan udara tercemar dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.

Data BMKG Nunukan mencatat jarak pandang di wilayah Nunukan pada pukul 11.00 WITA, Rabu (2/9), berada sekitar 4,5 kilometer. Pada saat yang sama, kualitas udara masih berada dalam kategori sedang.

Baca Juga :  Pemkab Matangkan Agenda HUT Nunukan ke 27 Tahun

Dinkes Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Nunukan mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh paparan asap, khususnya ketika harus beraktivitas dalam kondisi udara yang kurang baik.

“Asap bisa menyebabkan iritasi pada mata, hidung dan tenggorokan. Batuk, pilek bahkan sesak napas bisa muncul, terutama jika seseorang terpapar dalam waktu yang cukup lama,” ujarnya.

Risiko lebih besar berada pada kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, ibu hamil dan lanjut usia. Warga yang memiliki riwayat asma, bronkitis atau gangguan paru juga diminta lebih berhati-hati karena paparan asap berpotensi memperburuk kondisi kesehatan.

Untuk mengurangi risiko, masyarakat yang harus keluar rumah disarankan menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak. Ketika kabut asap semakin pekat, paparan sebaiknya ditekan semaksimal mungkin.

Langkah pencegahan juga perlu dilakukan di dalam rumah dengan memastikan pintu dan jendela tertutup rapat agar asap tidak mudah masuk. Masyarakat juga dianjurkan menjaga konsumsi air, asupan makanan bergizi dan waktu istirahat.

Baca Juga :  Penyaluran Benih Hortikultura, Petani di Nunukan Diminta Optimalkan Lahan

Dinkes meminta warga segera mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan yang tidak kunjung membaik.

“Kalau batuk berkepanjangan, sesak atau ada gangguan pernapasan, jangan menunggu sampai kondisinya berat. Segera periksa ke fasilitas kesehatan,” tegasnya.

Di sisi lain, Dinkes menilai persoalan kesehatan akibat asap tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengimbau masyarakat memakai masker. Selama sumber asap dari karhutla masih ada, risiko gangguan kesehatan tetap terbuka.

Sehingga, pengendalian karhutla menjadi bagian penting dalam memutus paparan asap sekaligus menekan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Kenaikan kembali kasus ISPA pada pekan ke-34 menjadi sinyal agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama selama kualitas udara belum kembali normal. (*)

Reporter: Novita A.K

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *