Akses Jalan Ditutup selama Proses Penyiraman Batu Bara Terbakar di Pantai Amal

Tarakan66 views

benuanta.co.id, TARAKAN – Titik api dari material batu bara di depan gedung baru Universitas Borneo Tarakan (UBT), Jalan Amal Lama, Kelurahan Pantai Amal, Kecamatan Tarakan Timur, ditangani secara terpadu pada Sabtu (5/9/2026). Penanganan sementara dilakukan dengan penyiraman, pengamanan area, penutupan jalan terdampak, serta rencana pengupasan badan jalan untuk mengantisipasi material kembali menyala.

Kapolres Tarakan bersama sejumlah pejabat Polres Tarakan meninjau langsung lokasi sekitar pukul 11.00 WITA. Penanganan turut melibatkan BPBD Kota Tarakan, aparat kewilayahan, tokoh masyarakat, dan warga sekitar. Kasi Humas Polres Tarakan, IPTU Rusli, menjelaskan peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi titik api sekaligus menentukan langkah penanganan di lokasi.

“Penanganan dilakukan bersama-sama dengan instansi terkait dan masyarakat untuk mengurangi titik api serta mencegah dampak yang lebih luas,” jelasnya.

Salah satu langkah awal yang dilakukan adalah penyiraman pada area yang terdapat material batu bara terbakar. Penyiraman dilakukan untuk menurunkan suhu material dan mengurangi potensi penyebaran bara maupun asap yang dapat terbawa angin ke lingkungan sekitar.

Baca Juga :  Fasilitasi Layanan Kependudukan bagi Penyandang Disabilitas lewat Jemput Bola

“Air disiramkan untuk membantu mengurangi titik api dan meminimalisir kemungkinan bara atau asap menyebar ke area sekitar,” katanya

Selain penanganan terhadap titik api, badan jalan yang terdampak material batu bara juga mendapat perhatian. Area jalan yang terdapat material tersebut ditutup secara total sementara waktu demi keselamatan masyarakat dan untuk memberikan ruang bagi petugas melakukan penanganan.

“Untuk area yang terdapat material batu bara dilakukan penutupan agar masyarakat tidak melintas di lokasi yang berpotensi membahayakan,” terangnya.

Petugas selanjutnya akan melakukan pengupasan pada bagian badan jalan yang terdampak. Upaya tersebut dilakukan untuk mengisolasi material batu bara yang berada di permukaan maupun di bawah jalan sehingga potensi munculnya kembali titik api dapat diantisipasi.

“Material yang berada di dalam atau di bawah permukaan jalan perlu ditangani karena masih ada kemungkinan kembali menyala,” imbuhnya.

Baca Juga :  Kabut Asap Selimuti Tarakan, Aktivitas Laut dan Penerbangan Diminta Waspadai Jarak Pandang

Sebagai bagian dari penanganan lanjutan, rencananya akan dibuat penampungan air di sekitar lokasi material batu bara. Penampungan tersebut akan digunakan untuk mendukung proses pendinginan dan memudahkan petugas apabila masih ditemukan material yang kembali mengeluarkan panas atau terbakar.

“Penampungan air nantinya disiapkan untuk mendukung proses pendinginan dan mempermudah penanganan apabila masih terdapat titik yang berpotensi kembali terbakar,” “lanjutnya.

Selama proses penanganan dan perbaikan jalan berlangsung, masyarakat diminta menggunakan jalur alternatif. Pengendara dapat melintas melalui Jalan Amal Baru Gang Polmas RT 5, Kelurahan Pantai Amal, atau menggunakan jalur Karungan.

“Masyarakat diimbau mengikuti jalur alternatif yang telah disiapkan selama proses penanganan di lokasi berlangsung,” imbaunya.

Khusus kendaraan bus serta orang tua yang mengantar dan menjemput siswa SMP Negeri 10 Tarakan, arus kendaraan diarahkan melalui Jalan Amal Baru Gang Polmas RT 5. Pengaturan tersebut dilakukan untuk mengurangi kepadatan sekaligus menjaga keselamatan pengguna jalan di sekitar kawasan sekolah.

Baca Juga :  DPRD Soroti Celah Pengawasan Aplikator Ojol di Tarakan, Pemda Tak Punya Wewenang Cabut Izin

“Untuk bus dan kendaraan orang tua siswa SMP Negeri 10 Tarakan diarahkan melalui Gang Polmas agar aktivitas antarjemput tetap berjalan,” tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut, Kapolres Tarakan didampingi Wakapolres Tarakan dan sejumlah Pejabat Utama Polres Tarakan. Penanganan juga melibatkan langsung anggota BPBD Kota Tarakan.

“Penanganan di lapangan dilakukan dengan melibatkan unsur kepolisian, BPBD, aparat kewilayahan dan masyarakat,” paparnya.

Menurutnya, langkah penanganan sementara tersebut masih akan dilanjutkan sesuai kondisi material dan perkembangan di lapangan. Keselamatan masyarakat menjadi perhatian utama, terutama karena lokasi material batu bara berada di sekitar akses jalan yang digunakan warga.

“Penanganan akan terus disesuaikan dengan kondisi di lapangan, dengan prioritas utama keselamatan masyarakat,” tandasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *