benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan mencatat sedikitnya enam titik kebakaran lahan sepanjang Agustus. Kondisi cuaca kering disertai angin kencang membuat potensi kebakaran lahan menjadi perhatian serius.
Kepala BPBD Tarakan, Yonsep, mengatakan enam titik kebakaran lahan tersebut tersebar di sejumlah kawasan, di antaranya Juata Permai, arah Juata Laut hingga Pantai Amal. Salah satu titik kebakaran bahkan sempat mendekati kawasan Hutan Lindung dan usaha masyarakat berupa kandang ayam.
“Tidak. Baru mendekati, tapi petugas sudah bisa mengendalikan,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi kebakaran pada Selasa (11/8/2026) malam cukup cepat meluas akibat hembusan angin kencang dari arah laut. Meski demikian, api berhasil dikendalikan sehingga tidak sampai mengenai kandang ayam maupun kawasan yang dilindungi.
Mengantisipasi kondisi cuaca yang masih kering, BPBD Tarakan telah meningkatkan kesiapsiagaan dengan menetapkan status Siaga Darurat Kering. Yonsep menjelaskan, status tersebut tidak hanya berkaitan dengan ancaman kekeringan, tetapi juga mengantisipasi dampak cuaca ekstrem yang berpotensi memicu bencana lain, termasuk kebakaran lahan.
“Yang kita persiapkan, saya sudah menandatangani Siaga Darurat Kering. Jadi kita harap dalam kondisi siaga ini bukan hanya kekeringan, tapi dampak cuaca ekstrem juga,” ungkapnya.
BPBD juga telah melakukan koordinasi lintas sektor, termasuk dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Koordinasi tersebut disiapkan untuk menghadapi kemungkinan kebakaran lahan yang lebih luas dan membutuhkan penanganan secara terintegrasi.
Yonsep mengatakan, kesiapsiagaan juga mencakup pengaturan sumber air apabila kebakaran terjadi di lokasi yang sulit dijangkau. Dalam kondisi kekeringan, BPBD akan berkoordinasi dengan dinas terkait dan pihak pemadam kebakaran untuk memobilisasi sumber air yang berada di sekitar lokasi kejadian.
“Jadi nanti mobilisasi dalam hal ini adalah mengambil sumber air yang ada di sekitar, jadi spotting. Tugas ini akan berkoordinasi kepada siapa dan dengan siapa,” jelasnya.
Menurutnya, pola koordinasi tersebut penting agar penanganan kebakaran tidak berjalan sendiri-sendiri. Terlebih, kondisi cuaca kering dapat membuat api lebih cepat merambat apabila tidak segera ditangani.BPBD pun mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap aktivitas pembakaran lahan sebagai hal sederhana. Terutama ketika pembakaran dilakukan saat kondisi panas dan angin bertiup kencang.
Yonsep menyebut, berdasarkan informasi yang diterima, terdapat aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat yang diduga menjadi awal munculnya kebakaran. Masyarakat disebut melakukan pemisahan area, namun api tetap berpotensi tidak terkendali karena kondisi cuaca.
“Kalau dibakar seperti hari ini, ini kayak disiram bensin,” tegasnya.
Ia meminta masyarakat yang hendak melakukan pembakaran untuk membuka lahan agar terlebih dahulu berkoordinasi dengan pihak terkait, mulai dari Dinas Kehutanan, BPBD, lurah hingga camat. Dirinya menegaskan larangan secara mutlak terhadap aktivitas masyarakat dalam membuka lahan juga bukan menjadi solusi. Namun, aktivitas tersebut harus dilakukan dengan pengawasan dan koordinasi agar tidak menimbulkan kebakaran yang lebih luas.
“Tidak mungkin kita melarang masyarakat untuk membakar untuk membuka lahan untuk berkebun, karena itu mereka punya. Tapi itu harus terjaga, termonitor dengan baik,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina







