benuanta.co.id, NUNUKAN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Nunukan menunjukkan peningkatan pada 2026. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan mencatat jumlah kejadian maupun luasan lahan yang terbakar lebih tinggi dibandingkan 2025.
Kasubbid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Nunukan, Mulyadi, mengatakan berdasarkan laporan yang dihimpun, terdapat 20 kejadian Karhutla sepanjang 2026, dengan luasan lahan terbakar yang tercatat sekitar 35,5 hektare.
Sementara pada 2025, tercatat 11 kejadian Karhutla dengan luasan lahan yang terdata sekitar 22 hektare. Dengan demikian, jumlah kejadian meningkat sekitar 81,8 persen, sedangkan luasan lahan terbakar bertambah sekitar 61,4 persen.
“Data yang kami himpun menunjukkan adanya peningkatan kejadian Karhutla dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Mulyadi.
Menurutnya, kejadian Karhutla pada 2026 hingga bulan Juni tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Nunukan. Lokasi yang terdampak antara lain Kecamatan Nunukan, Nunukan Selatan, Sebatik Barat dan sejumlah wilayah lainnya.
Salah satu kejadian dengan luasan terbesar pada 2026 tercatat di Jalan Tanjung Cantik, Desa Binusan, Kecamatan Nunukan, dengan luas lahan terbakar sekitar 9,5 hektare. Kejadian lainnya tercatat di sejumlah titik dengan luasan antara 0,5 hingga 2,5 hektare.
Sementara pada 2025, kebakaran dengan luasan terbesar dalam laporan terjadi di Desa Puput, Kecamatan Krayan Barat, dengan luas sekitar 6 hektare. Kemudian kebakaran di Desa Long Bawan dan Desa Long Katung, Kecamatan Krayan, masing-masing sekitar 3 hektare. Mulyadi menyebut peningkatan kasus tersebut menjadi perhatian BPBD, terutama karena Karhutla dapat meluas apabila tidak segera ditangani.
Selain kondisi cuaca dan lahan yang mudah terbakar, aktivitas manusia juga menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Dalam laporan BPBD 2025, terdapat kejadian yang disertai keterangan dugaan pembakaran sampah maupun pembukaan lahan dengan cara dibakar.
Karena itu, upaya pencegahan dinilai penting dilakukan sejak tingkat masyarakat. Pengawasan terhadap aktivitas pembakaran lahan dan respons cepat ketika muncul titik api menjadi bagian penting dalam menekan risiko Karhutla.
“Yang paling penting adalah pencegahan. Masyarakat juga harus berhati-hati dalam melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan api, terutama saat kondisi lahan kering,” ujar Mulyadi.
BPBD Nunukan juga terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran serta berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mempercepat penanganan apabila terjadi karhutla.
Peningkatan jumlah kejadian dari 11 kasus pada 2025 menjadi 20 kasus pada 2026 menjadi sinyal bahwa kewaspadaan terhadap karhutla di Nunukan perlu diperkuat, termasuk di wilayah yang sebelumnya telah beberapa kali mengalami kebakaran. (*)
Reporter: Novita A.K
Editor: Endah Agustina







