benuanta.co.id, TARAKAN – Transformasi layanan yang dilakukan Perpustakaan Daerah Kota Tarakan dalam beberapa tahun terakhir berdampak pada meningkatnya jumlah pengunjung. Tidak lagi sekadar menjadi tempat membaca dan meminjam buku, perpustakaan kini menghadirkan berbagai fasilitas dan kegiatan kreatif untuk menarik minat masyarakat datang dan berliterasi.
Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispuspan) Kota Tarakan, Dharmasastra, mengatakan sejak 2022 pihaknya menerapkan konsep Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Melalui konsep tersebut, perpustakaan didorong menjadi ruang belajar, berkegiatan, hingga pemberdayaan masyarakat.
“Kalau perpustakaan hanya tempat baca buku dan pinjam buku, lama-lama akan ditinggalkan orang. Karena sekarang apa-apa bisa dibaca secara digital. Makanya perpustakaan harus bertransformasi,” ujarnya.
Upaya tersebut terbukti berdampak pada peningkatan kunjungan masyarakat. Pada 2023 jumlah pengunjung tercatat sebanyak 9.859 orang. Angka itu meningkat menjadi 13.528 orang pada 2024 dan kembali naik menjadi 18.022 orang sepanjang 2025. Sementara pada Mei 2026 saja, jumlah kunjungan mencapai 1.401 orang.
Ia menjelaskan, peningkatan itu didukung oleh beragam fasilitas yang tersedia di perpustakaan. Saat ini Perpustakaan Daerah Kota Tarakan memiliki sekitar 59.000 judul buku dan lebih dari 11.000 koleksi buku digital yang terus diperbarui setiap tahun.
Selain koleksi bacaan, perpustakaan juga menyediakan komputer gratis, akses internet gratis di setiap lantai, ruang belajar, layanan perpustakaan keliling, hingga fasilitas bagi mahasiswa dan pelajar yang ingin mengerjakan tugas maupun penelitian.
“Kalau mahasiswa atau masyarakat mau mengerjakan tugas, kami siapkan komputer gratis dan Wi-Fi gratis di setiap lantai. Jadi mereka bisa belajar dengan nyaman di perpustakaan,” terangnya.
Tidak hanya itu, perpustakaan juga memiliki layanan unik berupa badut dan kegiatan mendongeng gratis bagi anak-anak. Layanan tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat yang ingin mengenalkan budaya membaca kepada anak sejak dini.
Menurutnya, salah satu strategi yang diterapkan untuk menarik minat baca masyarakat adalah mengemas kegiatan literasi dalam bentuk hiburan dan aktivitas yang menyenangkan.
“Kalau anak-anak sekarang disuruh duduk membaca dengan cara yang tidak asyik, mereka tidak mau. Makanya kami kemas dalam bentuk entertainment, hiburan, kegiatan yang menarik dan menyenangkan,” ungkapnya.
Melalui pendekatan tersebut, perpustakaan menghadirkan sekitar 12 layanan inovatif. Di antaranya panggung boneka untuk edukasi literasi usia dini, Jumpa Besti (Jumat Pagi Bersama Sahabat Literasi), kelas inklusi seperti belajar membatik dan bahasa isyarat, hingga program Kejar Mimpi, yakni kelas belajar di perpustakaan menjadi pengusaha yang inklusif.
Dalam program Kejar Mimpi, peserta diajak mempraktikkan ilmu dari buku menjadi keterampilan yang bernilai ekonomi, seperti merajut, membuat kue, hingga tata rias.
Selain itu, perpustakaan rutin menggelar lomba mendongeng, lomba bertutur, lomba majalah dinding tiga dimensi, serta Festival Cerita Anak yang dijadwalkan berlangsung pada Juli mendatang.
“Anak-anak tetap membaca buku, tetapi dikemas dalam kegiatan yang menyenangkan. Jadi pengalaman membaca itu tidak lagi membosankan, melainkan menjadi aktivitas yang menarik,” jelasnya.
Meski demikian, Dharmasastra mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, terutama akibat efisiensi anggaran. Dampaknya, perpustakaan belum dapat membuka layanan selama tujuh hari penuh dalam sepekan dan masih membutuhkan tambahan sarana seperti pendingin ruangan.
“Kami tetap berusaha memberikan pelayanan terbaik. Perpustakaan bukan hanya tempat membaca, tetapi juga tempat belajar, berkegiatan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui literasi,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Ramli







