benuanta.co.id, NUNUKAN – Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah, menyebabkan longsor yang merusak bagian sayap jembatan penghubung di Jalan Sinta RT 14, Dusun Berjoko. Akibatnya, jembatan tersebut ambruk dan kini tidak lagi dapat digunakan oleh masyarakat.
Kerusakan infrastruktur vital itu terjadi setelah curah hujan tinggi memicu abrasi di sekitar penyangga jembatan. Struktur penahan tanah yang terus tergerus akhirnya tidak mampu menahan beban, hingga menyebabkan jembatan runtuh.
Pemerintah Kecamatan Sebatik Tengah bersama pemerintah desa langsung turun ke lokasi untuk melakukan monitoring dan memastikan kondisi terkini pascakejadian, Selasa (2/6/2026).
Camat Sebatik Tengah, Aris Nur, mengatakan hasil peninjauan menunjukkan jembatan tersebut sudah tidak aman dan tidak bisa dilalui baik oleh pejalan kaki maupun kendaraan.
“Berdasarkan hasil monitoring lapangan, jembatan penghubung di Jalan Sinta RT 14 Desa Sungai Limau saat ini sudah tidak dapat dilalui. Kami mengimbau masyarakat untuk mengutamakan keselamatan dan menggunakan jalur alternatif yang tersedia,” ujarnya.
Putusnya akses penghubung tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas sehari-hari warga. Sejumlah pelajar dan tenaga pengajar di Darul Furqon, serta masyarakat yang hendak menuju kebun, kini harus mencari jalur lain bahkan menyeberangi sungai dengan berjalan kaki.
Pemerintah Desa Sungai Limau bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan Ketua RT setempat telah mengingatkan warga agar tidak nekat melintasi area jembatan yang rusak karena berisiko membahayakan keselamatan.
Sebagai solusi sementara, pemerintah desa bersama masyarakat berinisiatif membangun jembatan darurat agar mobilitas warga, khususnya kendaraan roda dua, dapat kembali berjalan.
“Pemerintah desa bersama masyarakat akan membangun jembatan darurat sementara untuk memudahkan mobilitas warga. Selain itu, koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan BPBD Kabupaten Nunukan telah dilakukan guna mempercepat penanganan lebih lanjut,” tambah Aris Nur.
Salman (32), warga Dusun Berjoko, mengaku kondisi jembatan yang runtuh sangat menyulitkan aktivitas masyarakat. Menurutnya, akses tersebut merupakan jalur utama yang setiap hari digunakan warga untuk menuju kebun, sekolah, maupun pusat aktivitas lainnya.
“Kami sangat terdampak karena jembatan ini merupakan akses utama warga. Sekarang kalau mau ke kebun atau mengantar anak sekolah harus memutar bahkan ada yang terpaksa menyeberangi sungai. Kami berharap pemerintah bisa segera membangun jembatan darurat dan mempercepat perbaikan permanennya,” ujar Irfan.
Pemerintah Kecamatan Sebatik Tengah berharap pembangunan akses darurat dapat segera terealisasi sehingga aktivitas masyarakat tidak terganggu dalam waktu lama. Di sisi lain, dukungan penanganan dari pemerintah daerah diharapkan dapat mempercepat pembangunan kembali jembatan permanen demi memulihkan konektivitas warga Desa Sungai Limau.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan tingginya risiko bencana hidrometeorologi di wilayah perbatasan, terutama saat curah hujan tinggi yang berpotensi memicu longsor dan kerusakan infrastruktur penting bagi masyarakat. (*)
Reporter: Soni Irnada
Editor: Ramli







