benuanta.co.id, NUNUKAN – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Nunukan mengingatkan pentingnya peran ketua RT dalam menjaga stabilitas sosial dan mencegah potensi konflik di tengah keberagaman masyarakat perbatasan.
Ketua FKUB Kabupaten Nunukan, Ustad H. Hermansyah menegaskan kerukunan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun tokoh agama, melainkan harus dibangun dari lingkungan terkecil di masyarakat.
Menurutnya, ketua RT memiliki posisi strategis karena menjadi pihak yang paling dekat dengan warga dan kerap menjadi rujukan saat muncul persoalan sosial di lingkungan masing-masing.
“Ketua RT merupakan garda terdepan dalam menjaga keharmonisan masyarakat. Kerukunan harus dimulai dari lingkungan sekitar sebelum berkembang menjadi budaya bersama di tingkat yang lebih luas,” katanya.
Dengan adanya pertemuan ini, ia menyampaikan merupakan ruang diskusi untuk memperkuat komunikasi antarwarga sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi gesekan sosial yang dapat mengganggu kondusivitas daerah.
Lurah Nunukan Barat, Raimondus Bin Geovgerius, mengatakan keberagaman yang ada di wilayahnya harus menjadi kekuatan sosial, bukan sumber perpecahan. Karena itu, komunikasi dan kolaborasi antarwarga perlu terus diperkuat.
Ia berharap forum semacam ini dapat mempererat hubungan antarwarga serta membangun kesadaran bersama untuk menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Nunukan, Hasan Basri menekankan stabilitas daerah tidak dapat dipisahkan dari kuatnya toleransi dan semangat kebersamaan di masyarakat.
“Sinergi antara pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, aparat keamanan, dan warga menjadi faktor penting dalam menjaga situasi tetap aman dan kondusif,” jelas Hasan.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nunukan, H. Aliansyah, menyampaikan materi tentang kerukunan beragama di wilayah perbatasan. Ia menilai keberagaman suku, budaya, dan agama yang dimiliki Kabupaten Nunukan merupakan modal sosial yang harus dijaga bersama.
Aliansyah menegaskan, posisi Nunukan sebagai beranda terdepan Indonesia menuntut masyarakatnya untuk terus menunjukkan praktik toleransi dan hidup berdampingan secara damai.
“Kerukunan tidak cukup hanya menjadi slogan. Dibutuhkan sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, dan komunikasi yang baik agar kehidupan masyarakat tetap aman dan harmonis,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan moderasi beragama menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga persatuan di tengah masyarakat yang majemuk. Dengan kondisi wilayah yang berbatasan langsung dengan negara lain, kerukunan masyarakat Nunukan dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga citra Indonesia di kawasan perbatasan.
Kegiatan dialog tersebut diikuti 25 peserta yang terdiri dari ketua RT dan unsur Kelurahan Nunukan Barat. Hadir pula Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta Babinpotmar Nunukan Barat yang turut memberikan dukungan terhadap upaya menjaga kondusivitas wilayah. (*)
Reporter: Novita A.K
Editor: Endah Agustina







