Keren! Koperasi Merah Putih Selumit Jadi Model Percontohan Nasional

benuanta.co.id, TARAKAN – Koperasi Merah Putih (KMP) di Kelurahan Selumit, Kota Tarakan, mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat.

Rombongan dari Deputi Koperasi Kementerian Koperasi dan UKM bersama Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, serta didampingi Sekda Kota Tarakan dan Camat Tarakan Tengah, melakukan kunjungan langsung untuk memantau progres koperasi yang kini ditetapkan sebagai model percontohan nasional.

Ketua Koperasi Merah Putih Selumit, Saifullah menjelaskan rangkaian kunjungan mencakup peninjauan fasilitas utama KMP, mulai dari ruang pertemuan, gudang penyimpanan, hingga lokasi produksi pupuk berbahan dasar limbah laut. Tak hanya itu, rombongan juga mengunjungi kandang ayam serta tempat penyimpanan hasil pangan seperti telur dan apotek koperasi.

“Pada hari ini rombongan Deputi meninjau kesiapan dan kemajuan yang ada di KMP Kelurahan Selumit ini,” ujarnya, Kamis (10/7/2025).

Evaluasi dari tim Deputi menyatakan Koperasi Merah Putih Selumit dinilai siap secara infrastruktur maupun pengelolaan. Kandang ayam yang digunakan dinilai ramah lingkungan karena tidak berbau, berkat penggunaan dekomposer di bagian alas kandang.

“Tadi kata tim Deputi kandangnya bersih, tidak berbau dan minim lalat. Artinya pengelolaan sudah sangat baik,” terangnya.

Ia mengungkapkan rasa syukurnya atas status percontohan nasional yang kini disandang koperasi tersebut. “Alhamdulillah, sesuai Inpres Nomor 9, Kota Tarakan menjadi daerah pertama di Kalimantan Utara yang koperasinya terbentuk seratus persen. Dan lebih istimewa lagi, Selumit ditunjuk sebagai koperasi model nasional,” ungkapnya

Menurut Saifullah, penunjukan ini sekaligus menjadi tantangan besar bagi seluruh pengurus dan anggota koperasi untuk terus berbenah dan bekerja lebih keras. “Kami semua, pengurus, pengawas dan anggota, kompak bersatu menyukseskan amanah ini,” ujarnya.

Salah satu program unggulan yang menjadi sorotan nasional adalah pemanfaatan limbah laut, seperti kulit udang dan ikan rucah, menjadi produk bernilai ekonomis seperti tepung dan pupuk. Program ini, menurutnya, berangkat dari latar belakang para pengurus koperasi yang memang pelaku usaha perikanan dan ekspedisi. “Biasanya limbah ini dibuang nelayan, sekarang kami ubah jadi bahan pakan ternak dan pupuk organik,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahan limbah ini diperoleh dari kelompok petugu yang sebelumnya membuang sisa udang atau ikan tidak layak jual. Saat musim panen laut tiba, limbah bisa mencapai dua ton setiap air (periode pasang-surut), dan sejauh ini baru lima kelompok yang rutin menyuplai.

“Kami ambil kulit udang dari nelayan yang cuma butuh udang keringnya. Begitu juga ikan-ikan kecil yang biasanya dibuang, kami jadikan tepung,” terangnya.

Saifullah juga mengungkapkan gudang penampungan sudah tersedia berkat kerja sama internal koperasi. Hal ini sekaligus menunjukkan sinergi dan kolaborasi antaranggota koperasi yang berbasis gotong royong.

“Salah satu sekretaris kami punya usaha ekspedisi dan gudangnya kami manfaatkan untuk menampung bahan baku limbah,” imbuhnya.

Sebagai penutup, Saifullah berharap agar status percontohan nasional ini bukan hanya menjadi kebanggaan sementara, tetapi menjadi motivasi untuk terus mengembangkan koperasi ke arah yang lebih profesional dan produktif.

“Kami ingin jadi contoh nyata bahwa koperasi bisa mandiri, berbasis lingkungan, dan tetap mengakar pada semangat gotong royong,” tutupnya. (*)

Reporter: Eko Saputra

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *