Barantin Butuh 17 Ribu Pegawai, Abdul Karding: Kita Baru Punya 5.900 Pegawai

benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Karantina Indonesia (Barantin) masih menghadapi kesenjangan kebutuhan sumber daya manusia untuk menjalankan pelayanan karantina di berbagai wilayah. Dari kebutuhan sekitar 17 ribu pegawai, jumlah personel yang tersedia saat ini baru mencapai 5.900 orang.

Kondisi tersebut disampaikan Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, saat berdiskusi dengan pelaku usaha dan eksportir dalam kegiatan di Tarakan. Dalam kesempatan itu, Karding membeberkan perbandingan antara kebutuhan personel dengan jumlah pegawai yang dimiliki Barantin saat ini.

“Kebutuhan pegawai kita itu butuh 17 ribu, yang ada sekarang baru 5.900,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pemerataan Listrik di Desa, 63 Titik Jaringan Disiapkan

Jika dibandingkan, terdapat selisih sekitar 11.100 pegawai antara kebutuhan dan jumlah personel yang tersedia. Karding menjelaskan penambahan sumber daya diperlukan untuk memperkuat pelayanan di berbagai titik yang memiliki aktivitas lalu lintas komoditas.

“Seluruh pelabuhan yang alur barangnya, komoditasnya itu sering dan banyak, saya mau pasang,” katanya.

Penempatan personel nantinya akan mempertimbangkan tingkat aktivitas di masing-masing wilayah. Karding menyebut banyaknya titik pelayanan membuat Barantin harus menentukan lokasi yang menjadi prioritas agar penambahan personel dapat diarahkan ke titik yang membutuhkan.

“Kaltara itu kalau tidak salah ada 95 titik,” bebernya.

Baca Juga :  BKD Kaltara Tangani Puluhan Pelanggaran Disiplin ASN, Didominasi Bolos Kerja

Keterbatasan personel juga berkaitan dengan target Barantin memperluas waktu operasional pelayanan. Karding menginginkan layanan karantina dapat berlangsung selama 24 jam untuk mengikuti kebutuhan aktivitas transportasi dan distribusi komoditas.

“Saya maunya itu kan semua pelayanan 24 jam,” tegasnya.

Menurut Karding, layanan sepanjang waktu diperlukan karena jadwal keberangkatan moda transportasi tidak dapat selalu menyesuaikan dengan jam operasional pelayanan. Pesawat maupun kapal memiliki jadwal yang harus dipenuhi sehingga proses pelayanan perlu mampu mengikuti pergerakan tersebut.

“Namanya pesawat tidak bisa menunggu, kapal, jadwalnya berangkat ya berangkat aja,” jelasnya.

Baca Juga :  Gubernur Minta ATR/BPN Benahi Tumpang Tindih Lahan di Kaltara

Selain menambah personel, Barantin juga menyiapkan digitalisasi sebagai salah satu cara meningkatkan efisiensi pelayanan. Karding mengatakan proses yang tidak memerlukan pertemuan langsung seharusnya dapat dilakukan melalui sistem digital.

“Saya pengen ada digitalisasi,” singkatnya.

Penerapan digitalisasi tersebut diarahkan untuk mengurangi proses tatap muka yang tidak diperlukan dalam pelayanan. Dengan demikian, pertemuan antara petugas dan pengguna layanan dapat difokuskan pada proses yang memang membutuhkan interaksi langsung.

“Seluruh sektor yang tidak perlu ketemu fisik gak perlu lah,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *