M4CR Buka Akses Pasar Produk Pesisir, Kipas Batik Tana Tidung Tembus Bali

TANA TIDUNG – Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) memberikan dampak terhadap pengembangan usaha kelompok masyarakat di wilayah pesisir Kalimantan Utara (Kaltara). Melalui bantuan peralatan, pendampingan, hingga akses pemasaran, program tersebut dinilai mampu mendorong produktivitas sekaligus membuka peluang tambahan penghasilan bagi masyarakat.

Salah satunya dirasakan Kelompok Inggil Ataka dari Desa Tengku Dacing. Perwakilan kelompok, Mita, mengatakan kehadiran M4CR memberikan ruang bagi kelompok perempuan untuk kembali produktif melalui pengembangan berbagai produk olahan dan kerajinan lokal.

Ia mencontohkan, sebelum mendapatkan dukungan M4CR, kelompoknya masih berjalan secara mandiri. Kondisi tersebut membuat semangat sebagian anggota kelompok menurun karena kegiatan produksi belum mampu memberikan penghasilan tambahan secara konsisten.

“Dengan adanya bantuan M4CR melalui matching grant, kami sangat terbantu. Ibu-ibu yang sebelumnya kurang bersemangat, sekarang semangatnya tumbuh kembali karena bisa mendapatkan penghasilan tambahan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Rehabilitasi Mangrove Kaltara Capai 10.900 Hektare, Kemenhut Dorong Pendekatan Silvofishery

Salah satu produk unggulan yang dikembangkan kelompok tersebut adalah kipas batik khas Kabupaten Tana Tidung. Produk ini bahkan telah dipasarkan ke luar daerah, mulai dari Tarakan hingga Bali. Selain melalui pemasaran mandiri, kelompok juga memanfaatkan Dekranasda sebagai salah satu wadah untuk memperkenalkan produk mereka.

Tidak hanya kerajinan kipas, Kelompok Inggil Ataka turut mengembangkan sejumlah produk lainnya, seperti virgin coconut oil (VCO), nata de coco, serundeng, sambal belondo, hingga amplang. Keberagaman produk tersebut menjadi peluang bagi kelompok untuk memperluas sumber pendapatan masyarakat.

Namun tantangan geografis masih menjadi persoalan dalam pengembangan usaha. Lokasi Desa Tengku Dacing yang relatif sulit dijangkau membuat distribusi dan pemasaran produk membutuhkan upaya lebih. Mita mengaku harus melewati jalur sungai kecil untuk menjangkau wilayah tersebut.

“Terkadang saya juga berpikir bagaimana memasarkan produk ini sampai ke luar. Tetapi tantangan geografis tidak mengecilkan hati kami. Kami tetap berusaha agar produk ini bisa dikenal lebih luas, salah satunya dengan terus berkonsultasi bersama M4CR,” jelasnya.

Baca Juga :  H-6 Porprov II Kaltara, Gubernur Zainal Minta Persiapan Pertandingan Terus Dimatangkan

Dukungan M4CR juga tidak hanya dirasakan dari sisi pemasaran dan penguatan kelompok. Inggil Ataka telah menerima bantuan mesin 3 in 1 yang diharapkan dapat dimanfaatkan untuk menciptakan produk baru. Dengan fasilitas tersebut, kelompok berupaya melanjutkan pengembangan usaha meskipun pendampingan program nantinya berakhir.

Mita mengakui, berakhirnya M4CR menjadi kekhawatiran tersendiri bagi kelompoknya. Selama ini, pendampingan dilakukan secara berkala untuk memantau perkembangan produk, termasuk mendorong perluasan pemasaran. Karena itu, ia berharap program serupa tetap berlanjut atau setidaknya ada skema pendampingan lanjutan.

“Semoga apa yang sudah diberikan M4CR tidak membuat kami berhenti ketika programnya selesai. Kami berharap tetap bisa melakukan pengembangan-pengembangan ke depannya, bukan setelah M4CR berhenti, usaha kami juga ikut menghilang,” harapnya.

Baca Juga :  Job Fair Kaltara 2026 Bidik Tenaga Kerja Lokal untuk Industri Smelter dan CFPP

Kebutuhan keberlanjutan pendampingan juga disampaikan Kelompok Masyarakat Tunas Abadi Jaya. Perwakilan kelompok, Anas Tahir, mengatakan pihaknya masih membutuhkan bimbingan dalam menerapkan teknik silvofishery atau sistem budidaya perikanan yang terintegrasi dengan ekosistem mangrove.

Menurutnya, teknik tersebut masih tergolong baru bagi para petambak di kelompoknya. Mereka baru mulai mempelajari dan menerapkannya sehingga membutuhkan waktu serta pendampingan untuk memastikan metode tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Terus terang, dengan teknik silvofishery ini kami petambak masih baru pertama kali mencoba. Jadi, saat kami baru belajar langsung ditinggalkan, kami tidak tahu bagaimana keberlanjutannya. Harapannya M4CR tetap berlanjut agar kami tetap mendapatkan pendampingan,” tutupnya. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Endah Agustina