TARAKAN – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) mencatat progres rehabilitasi mangrove di Kalimantan Utara (Kaltara) sekitar 10.900 hektare dari target kurang lebih 14.000 hektare selama periode 2024–2027. Meski capaian tersebut menunjukkan perkembangan, efektivitas pengelolaan kawasan dan dampak ekonomi bagi masyarakat masih menjadi pekerjaan yang perlu dipastikan.
PPIU Manager M4CR Kalimantan Utara Tahun 2026, Akhmad Ashar Sarif, menjelaskan, target rehabilitasi mangrove di Kaltara mencapai sekitar 14.000 hektare. Dari target tersebut, pelaksanaan kegiatan telah mencapai kurang lebih 10.900 hektare.
Ia menyebutkan, masih terdapat sejumlah lokasi yang masuk dalam rencana pengerjaan lanjutan. Sekitar 800 hektare telah memperoleh persetujuan, sementara kurang lebih 370 hektare lainnya masih dalam proses untuk mendapatkan persetujuan.
“Yang sudah disetujui sekitar 800 hektare, kemudian ada lagi kurang lebih 370 hektare yang akan disetujui,” jelasnya.
Dengan tambahan tersebut, Kemenhut melalui M4CR masih berupaya mengejar target rehabilitasi yang telah ditetapkan. Namun, capaian luasan tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Kondisi vegetasi, keberlanjutan kawasan, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga mangrove juga menjadi aspek penting untuk diperhatikan.
“Rencana ke depan kami masih ada penyusunan RK, sudah disahkan 800 hektar, dan rencana nanti akan disahkan lagi 370-an hektar. Jadi ada 1.100-an hektar,” terangnya.
Salah satu pendekatan yang turut didorong adalah silvofishery, yaitu sistem pengelolaan tambak yang memadukan kegiatan budidaya perikanan dengan keberadaan mangrove. Skema ini dinilai dapat menjadi jalan tengah antara kebutuhan ekonomi masyarakat dan perlindungan lingkungan pesisir.
Namun, Akhmad mengingatkan dampak silvofishery terhadap peningkatan hasil usaha dan keberlanjutan ekosistem masih perlu diteliti lebih lanjut. Pemantauan yang dilakukan selama ini masih banyak bertumpu pada perkembangan kelompok di lapangan sehingga diperlukan validasi melalui penelitian agar dampaknya dapat diukur secara lebih kuat.
Coastal Enterprise Coordinator M4CR, Nugroho Sulistyo, menambahkan, peningkatan produksi pada sejumlah kelompok masyarakat tercatat sekitar tiga hingga lima kali lipat dibandingkan kondisi awal. Meski demikian, angka tersebut merupakan peningkatan volume produksi dan tidak bisa langsung disamakan dengan kenaikan pendapatan.
“Iya, before and after kami baru menangkap peningkatan produksi, belum pada peningkatan nilai tambah dari rupiahnya. Ya, karena kalau produksi nanti rupiahnya bisa tidak selalu linier, karena harganya bisa fluktuatif toh. Tapi dari nilai-nilai produksi itu berkisar antara 3 sampai tadi yang rata-rata itu sekitar 5 kali dari sebelumnya,” jelasnya.
Menurutnya, harga komoditas yang berubah-ubah dapat memengaruhi nilai penjualan. Karena itu, peningkatan produksi belum tentu membuat pendapatan masyarakat naik dengan persentase yang sama.
Nugroho juga menyebutkan, sebagian masyarakat pesisir telah memiliki kegiatan perdagangan hingga ke pasar ekspor, khususnya untuk komoditas udang. Namun, M4CR belum memiliki pendataan sistematis terhadap seluruh aktivitas ekspor tersebut karena kegiatan serupa juga dilakukan oleh kelompok di luar program.
“Sejak dulu, sejak dulu. Karena hasil udang misalnya, hasil udang di Kaltara itu kan terkenal disukai oleh luar negeri karena disebut udang organik, tidak banyak menggunakan pakan dan lain sebagainya. Nah, ini merupakan nilai plus lah dari produk kita,” ungkapnya.
Tantangan lainnya adalah memastikan pengelolaan tambak tidak mengurangi fungsi ekologis mangrove. Akhmad menilai, dukungan pemerintah daerah dan pengaturan tata ruang menjadi bagian penting agar kawasan mangrove tetap terlindungi dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat berlangsung sesuai daya dukung lingkungan.
Dengan progres rehabilitasi yang telah mencapai sekitar 10.900 hektare, pekerjaan berikutnya bukan sekadar menuntaskan sisa target.
Kemenhut juga perlu memastikan kawasan yang direhabilitasi benar-benar terjaga, pendekatan silvofishery memberikan dampak yang terukur, serta peningkatan produksi masyarakat berujung pada manfaat ekonomi yang nyata. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina







