Kodaeral XIII Perketat Patroli Laut Cegah Penyelundupan Narkoba ke Kaltara

benuanta.co.id, BULUNGAN – Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) XIII Kalimantan Utara (Kaltara) memperketat patroli di perairan perbatasan untuk mencegah masuknya narkotika dari luar negeri. Pengawasan dilakukan melalui patroli rutin kapal perang (KRI) hingga penyisiran di jalur sungai yang diduga menjadi akses penyelundupan.

Komandan Kodaeral XIII Kaltara, Laksamana Muda TNI Sumarji Bimoaji mengatakan, pengamanan wilayah laut menjadi salah satu langkah utama untuk menekan peredaran narkoba yang masuk melalui jalur perairan.

“Kami mengoptimalkan unsur-unsur yang kami miliki. Ada beberapa KRI di jajaran kami yang melaksanakan patroli rutin untuk pengamanan sekaligus mencegah masuknya narkoba,” ujarnya beberapa waktu lalu usai menghadiri peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026.

Baca Juga :  Raihan IPSEA 2026 Jadi Bukti Komitmen Gubernur Dorong Percepatan Pembangunan di Perbatasan Kaltara

Menurut dia, patroli tidak hanya dilakukan oleh unsur Kodaeral XIII, tetapi juga melibatkan Armada II. Sejumlah kapal perang yang bertugas mengamankan wilayah Ambalat turut diberi tugas melakukan pencegahan penyelundupan narkotika.

Operasi pengamanan, kata Bimo, tidak terbatas di laut lepas. Personel TNI AL juga melakukan penyisiran hingga ke sejumlah sungai yang diduga dimanfaatkan sebagai jalur masuk barang terlarang. Dalam beberapa operasi, aparat sempat mendeteksi keberadaan pelaku. Namun, mereka kerap berhasil melarikan diri saat mengetahui adanya patroli.

Baca Juga :  HANI 2026, BNNP Kaltara Perkuat Pengawasan Pelabuhan dan Bandara dari Ancaman Narkoba

“Beberapa kali kami melakukan patroli dan mendapatkan kontak. Namun selama ini mereka berhasil melarikan diri,” katanya.

Meski demikian, aparat berhasil mengamankan sejumlah barang bukti. Beberapa orang juga sempat ditangkap, meski sebagian besar berstatus sebagai kurir. Seluruh hasil penindakan kemudian diserahkan kepada kepolisian dan kejaksaan untuk diproses sesuai ketentuan hukum.

Bimo mengakui jalur laut dari Malaysia dan Filipina masih menjadi titik paling rawan penyelundupan narkoba ke Kalimantan Utara. Kondisi geografis wilayah perbatasan membuat para pelaku terus mencari celah untuk menghindari pengawasan aparat.

“Mereka juga cerdas melihat situasi. Kalau ada patroli kami di satu titik, mereka akan mencari jalur lain atau jalur tikus yang kosong,” ujarnya.

Baca Juga :  Mahasiswa Pastikan Kawal Tuntutan ke Bea Cukai Tarakan, Ultimatum Aksi Jilid II Jika Tak Ada Tindaklanjut

Karena itu, Kodaeral XIII terus memperkuat koordinasi dengan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP), Kepolisian, serta pemerintah daerah. Menurut Bimo, pemberantasan narkoba tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja, melainkan membutuhkan sinergi seluruh pihak.

“Butuh dukungan semua pihak agar kita bisa menjaga generasi muda dari penyalahgunaan narkoba. Kami tetap berkomitmen menjalankan tugas pokok sekaligus mencegah masuknya narkoba ke wilayah Kaltara,” pungkasnya. (*)

Reporter: Ike Julianti

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *