Fenomena Hidrometeorologi Kering Landa Kaltara, Masyarakat Diminta Waspada Kebakaran

benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan mengumumkan peringatan dini potensi kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah karena hidrometeorologi kering.

Sehingga masyarakat Tarakan diimbau tetap waspada, mengingat cuaca saat ini sangat terik sehingga menimbulkan kekeringan dan rawan kebakaran lahan dan hutan.

Kepala BPBD Kota Tarakan, Yonsep menuturkan, cuaca terik merupakan salah satu akibat dari bencana hidrometeorologi kering. Oleh karena itu ia meminta masyarakat agar menghindari aktivitas di luar rumah dengan paparan sinar matahari secara langsung.

Baca Juga :  Beban Puncak Capai 81,52 MW, PLN Pastikan Sistem Kelistrikan Kaltara Tetap Aman

“Tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu sumber api seperti (membakar) sampah, membuka lahan kebun dengan cara membakar dan lainnya. Jika melihat titik api atau situasi membahayakan, segera hubungi Call Centre 112 atau Emergency Call BPBD Kota Tarakan di 082254590564,” jelasnya, Jumat (30/5/2025).

Sementara itu, Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi mengatakan karakteristik cuaca di Kaltara jika tidak hujan dalam tiga hari maka seperti kekeringan atau sering disebut kemarau oleh masyarakat.

Baca Juga :  Perkuat Konektivitas Transportasi Laut, Pemprov Kaltara Dorong Penambahan Trayek Kapal Bersubsidi ke Kemenhub RI

Adapun hidrometeorologi kering menurutnya adalah karakteristik wilayah di Kaltara.

“Jadi, partikel-partikel atau lapisan bagian atas permukaan tanah itu menjadi kering, sehingga kalau digambarkan dalam sebuah peta, sebuah gambar yang mewakili kondisi kemudahan kebakar, seperti yang sampaikan dari BPPD di mana pada peta warnanya merah, itu artinya sangat mudah terjadi kebakaran,” terangnya.

Baca Juga :  Pembukaan Piala Gubernur Futsal Kaltara, Kolaborasi Bangun Prestasi Pelajar

Ia menjelaskan kekeringan tersebut hanya terjadi pada permukaan tanah, tidak sampai ke lapisan tanah di bawahnya. Kekeringan tersebut terjadi pada alang-alang atau dedaunan yang menutupi permukaan tanah sehingga mudah terbakar.

“Ini yang kering itu di permukaan, namun walaupun di permukaan, imbauan kami untuk selalu berhati-hati agar tidak melaksanakan kegiatan yang bisa memicu terjadinya karhutla,” pungkasnya. (*)

Reporter: Hendi Suryadi

Editor: Endah Agustina 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *