Bengis! Detik-detik Terakhir Nyawa AGR Dirampas Sepupu Sendiri

benuanta.co.id, TARAKAN – Satu tahun 8 bulan lamanya AGR tak kunjung pulang ke rumah. Remaja berusia 17 tahun itu sempat dikabarkan hilang dan meninggalkan rumah dengan menahan amarah kepada orang tuanya.

Namun setahun lebih menghilang, belakangan ini akhirnya terkuak kepergiannya itu membawa kabar duka. AGR yang masih duduk di bangku kelas 2 SMK itu tewas secara tragis di tangan sepupunya sendiri EG (23). Mirisnya lagi, pembunuhan itu juga turut dibantu istri EG, yakni AF (22) dan rekannya MD (45).

Pada rilis yang digelar Polres Tarakan, pada Jumat (2/12/2022), Kasat Reskrim Polres Tarakan, IPTU Muhammad Aldi mengungkapkan ED sempat mengaku membunuh seseorang kepada salah satu orang.  Namun belum diketahui nyawa siapa yang dirampasnya.

“Informasi saat itu yang kami dapat hanya isu, dan setelah terdapat informasi ini kami melakukan penyelidikan kita periksa saksi di tempat yang berbeda-beda. Ada yang di Pulau Tibi, ada di Sajau dan Bulungan. Gunanya untuk dapat informasi di tahun 2021 itu,” ungkapnya dihadapan awak media, Jumat (2/12/2022).

Dari pengakuan ED yang nekat membunuh itu menjadi dasar kuat penyidik bahwa orang yang dimaksud adalah AGR. Polisi pun langsung melakukan tindak lanjut berupa mencari titik penguburan jasad AGR.

Baca Juga :  Putri Candrawathi sebut Brigadir J Ancam Bunuh Orang-orang Terdekatnya

Kecurigaan polisi kembali menguat ketika EG memberikan pengakuan berbelit-belit kepada penyidik. Awalnya ia menyampaikan telah membuang jasad AGR ke laut hingga menenggelamkannya di sebuah parit.

“Sampai tiga hari baru bisa kita temukan, dari hasil pemeriksaan BAP, kondisi terakhir EG sudah menyampaikan secara utuh kejadian 2021, perkara ini juga yang utamanya (faktor) ekonomi,” lanjutnya.

Sebelum meregang nyawa, AGR lebih dulu diculik tersangka pada hari ketiga bulan Ramadan, tepatnya April 2021 lalu. Berdasarkan pengakuan EG, ia tega melakukan penculikan lantaran terdesak uang operasional usaha kepiting milik orang tuanya telah habis digunakan untuk judi online dan game.

“Saat itu biasanya AGR ke pondok jam 6 pagi namun ia datang lebih cepat yakni jam 5 pagi. EG sama istrinya mengikat AGR di sebuah kursi dengan tali seadanya, kemudian ada juga tali rafia yang baru dibeli dan kembali memperkuat ikatan AGR di kursi tersebut,” urainya.

Setelah mengikat AGR, ED dan istrinya meninggalkan korban untuk pergi ke wilayah kota. ED yang saat itu sendiri memanggil MD dan membuat video intimidasi ditujukan ke orang tua AGR untuk meminta tebusan senilai Rp 200 juta.

Baca Juga :  Putri Tolak Keras Dianggap Ganti Pakaian untuk Skenario Pembunuhan

Setelah video dibuat, AGR memberontak dengan berteriak. Berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) AGR merasa tak terima, karena selama ini AGR peduli dengan keluarga EG yang terkendala perekonomian.

Saat korban memberontak, EG yang gelap mata langsung menusuk paha AGR untuk diam. Merasa terancam karena takut kejadian ini akan dimonitor oleh pihak kepolisian akhirnya terjadi diskusi antara EG dan MD untuk menghabisi nyawa korban.

“Yang tertuang di dalam BAP, pembunuhan diawali pencekikan menggunakan kabel kemudian kedua tersangka saling menarik dari kiri dan kanan, sebelum memastikan korban meninggal, EG sempat mendekap korban dan menusuk bagian dada korban,” bebernya.

Setelah yakin AGR tak bernyawa barulah dibalut dengan terpal dan kain kemudian dibawa ke kebun nanas. Pemilihan lokasi penguburan ini dikarenakan tanahnya yang lembut serta mudah untuk dicangkul. Saat itu MD menggali dengan kedalaman kurang lebih 50 centimeter, setelahnya korban ditimbun dengan tanah dan ditinggal.

Demi menghilangkan jejak, kedua tersangka membersihkan darah yang bersimbah di pondok lokasi tempat AGR dihabisi. Saat itu AGR membawa tas yang berisi laptop dan juga 1 unit motor, namun kedua tersangka membuang tas tersebut serta meninggalkan motor dengan kunci yang masih tergantung.

Baca Juga :  Satu DPO Kasus Pencurian Tertangkap di Belakang BRI, Judi Slot Jadi Alasannya

“Pikiran mereka dengan begitu polisi tidak akan mencurigai mereka,” sebut Aldi.

Selama penyidikan, jasad AGR juga telah diautopsi dan akan dilakukan tes DNA serta kecocokan rahang gigi. Menurut keterangan, korban memiliki riwayat kesehatan medis pada gigi.

Saat ditemukan, AGR sudah dalam kondisi rangka tulang belulang dengan kondisi yang tidak lengkap. Diduga lokasi tersebut juga kerap kali didatangi oleh binatang seperti anjing.

Keseluruhan barang bukti saat ini belum sepenuhnya berada di tangan penyidik, seperti bukti video intimidasi dan badik yang diduga digunakan untuk menikam AGR.

“Kabel untuk mengikat leher korban ditemukan di area pondok, sementara tali rafia itu ada di dalam tanah sewaktu digali. Tulang belulangnya ada yang kurang di tangan bagian kiri, kalau keterangan saksi daerah tersebut sering digali anjing,” tuturnya.

Sementara untuk luka tusuk sendiri diindentifikasi dari robekan pakaian korban. Kondisi pakaian korban pun juga tak utuh diduga karena cakaran kuku dan gigi binatang yang mendatangi TKP tersebut. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *