oleh

Begini Penjelasan Psikolog Terkait ‘Gangguan Jiwa’ yang Disebut Exhibisionisme

benuanta.co.id, TARAKAN – Pria yang viral di media sosial (medsos) lantaran memamerkan alat kelamin kepada seorang wanita disebut mengidap Exhibisionisme. Hal itu diterangkan langsung Psikolog Klinis Rumah Sakit Umum Kota Tarakan (RSUKT), Henni Budiastuti, M.Psi.

Kata Henni, pelaku yang menunjukkan kelamin tersebut termasuk dalam gangguan jiwa.

“Kita menyebutnya dengan sebutan Exhibisionisme, atau penyimpangan seksual di mana penderitanya kerap memperlihatkan kemaluannya di tempat umum,” ujar Henni, Selasa (31/8/2021).

Dijelaskan Henni, ada beberapa penyebab seseorang bisa mengalami gangguan Exhibisionisme, salah satunya yakni proses belajar. Saat masih kecil orang tua perlu mengajarkan pendidikan seks usia dini pada anak, agar anak tidak mendapatkan info lebih dulu di luar, entah dari internet, ataupun melihat secara langsung.

Baca Juga :  Pemerintah Mulai Salurkan Bantuan Tunai ke 750 PKL dan Warung

Bisa jadi ada proses belajar yang salah dari orang tersebut, khususnya dalam memahami tentang konsep seksual. Orang zaman sekarang menganggap seksual itu tabu, sehingga berpikir tidak perlu diajarkan ke anak kecil.

“Tapi sesungguhnya edukasi tentang seks ini penting, karena itu tadi jangan sampai anak kita menilai seksual itu lebih ke arah yang menyimpangnya,” terangnya.

Proses belajar ini bisa dalam kategori pola asuh orang tua dan bisa dalam kategori dia belajar di lingkungan. Yang kedua bisa juga karena masalah kepuasan seksual yang tidak didapatkan dari pernikahan.

Baca Juga :  Ketua GP Ansor Kaltara Harap Nakhoda PBNU Berganti Wajah

“Mungkin yang bersangkutan tidak pernah mendapatkan pujian terkait bentuk tubuh dari istri ataupun suami. Sehingga dia mencari perhatian itu ke orang lain,” sebutnya.

Henni lanjut menjelaskan, bisa jadi orang yang mengidap ekshibisionis ini memiliki kepribadian anti sosial, atau bagaimana cara dia melihat, memahami, dan berhubungan dengan dunia luar sangat kurang.

Baca Juga :

“Biasanya orang yang anti sosial cenderung bermusuhan dan acuh tak acuh pada lingkungan. Dirinya tidak peduli dengan respon orang sekitar, bahkan tidak memikirkan penyebab dari apa yang mereka lakukan,” pungkasnya.

Selain itu, bisa jadi juga orang yang mengalami gangguan ini sejak kecil sudah terpapar oleh seks, entah itu sering melihat orang tuanya melakukan hubungan seks atau pelecehan seksual di masa kecil.

Baca Juga :  Belasan Anak Yatim di Tarakan Akan Terima Bantuan Sosial Tahap Satu

Jadi manusia pada umumnya memiliki yang namanya perkembangan psikoseksual, lalu dalam masa perkembangan ada yang namanya fase phalic atau Fase di mana anak suka memegang alat kelaminnya.

“Bisa jadi tidak ada pemahaman dari orangtua terkait hal tersebut, sehingga di larang, Padahal ini merupakan fase perkembangan seksual yang jika tidak terpenuhi akan berakibat pada perkembangan psikoseksualnya di kemudian hari, seperti yang terjadi pada kejadian ini,” tutupnya. (*)

Reporter : Matthew Gregori Nusa

Editor : Nicky Saputra

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *