Dari Garut ke Tarakan, Pedagang Bendera Musiman Andalkan Momen HUT RI untuk Cari Rezeki

benuanta.co.id, TARAKAN – Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, Mamat memilih meninggalkan kampung halamannya di Garut, Jawa Barat, untuk mencari rezeki di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ia datang sebagai pedagang musiman yang menjual berbagai atribut kemerdekaan.

Ia tidak hanya sendiri berjualan di Kota Tarakan, dirinya datang bersama 6 orang lainnya. Salah satunya berjualan di Kabupaten Tana Tidung. Sedangkan 5 lainya tersebar di sudut-sudut kota. Di lapaknya, Mamat menawarkan beragam perlengkapan perayaan 17 Agustus, mulai dari bendera Merah Putih, umbul-umbul, background dekorasi, hingga berbagai aksesori bertema kemerdekaan.

Baca Juga :  Buka 13 Lowongan, PT PRI Jadi Perusahaan yang Paling Diminati Pencari Kerja

“Yang dijual bendera, umbul-umbul, background sama aksesori,” ujarnya, Sabtu (1/8/2026).

Namun, Mamat bukanlah pemilik usaha tersebut. Seluruh barang yang dijual merupakan milik bosnya yang berada di Garut dan dikirim ke Tarakan. Ia hanya bertugas menjual dengan sistem komisi. “Soal modal itu urusan bos. Saya cuma jual saja, sistemnya komisi,” bebernya.

Apabila penjualan sedang ramai, komisi yang diterimanya selama satu musim bisa mencapai sekitar Rp12 juta. Namun, angka tersebut belum termasuk biaya makan, tempat tinggal, hingga ongkos perjalanan selama berada di Tarakan.

Baca Juga :  Pesisir Tarakan Jadi Wilayah Rawan Peredaran Narkotika

“Kalau lagi bagus (penjualan) bisa sampai Rp12 juta, tapi itu belum bersih. Bersihnya paling sekitar separuh karena masih buat ongkos dan kebutuhan selama di sini,” sebutnya.

Kendati demikian, harapan besar masih disimpan Mamat. Ia meyakini puncak penjualan baru akan terjadi mendekati Hari Kemerdekaan. “Biasanya mulai ramai sekitar tanggal 12 sampai 16 Agustus. Kalau ada rezeki ya ramai,” ungkapnya.

Baca Juga :  Bendera HUT RI Belum Terlalu Diminati di Tarakan, Pedagang Bilang Sepi

Dirinya mengaku, dibanding beberapa tahun sebelumnya, penjualan atribut kemerdekaan saat ini cenderung menurun. Selama tiga hari membuka lapak, ia baru mampu menjual sekitar tiga hingga empat bendera setiap harinya.

“Sekarang lagi menurun. Tahun kemarin juga begitu,” tuturnya.

Meski belum ramai pembeli, Mamat tetap optimistis masyarakat akan mulai berburu bendera dan atribut kemerdekaan dalam beberapa hari ke depan sehingga dapat membawa pulang hasil yang lebih baik kepada keluarganya yang berada di Garut. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *