Dampak Rupiah Melemah, Warga RI di Perbatasan Nunukan-Malaysia Merasakan Harga Barang Impor Melonjak

benuanta.co.id, NUNUKAN – Melemahnya nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar (USD) Amerika Serikat mulai menimbulkan kekhawatiran di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. Ketergantungan masyarakat terhadap barang-barang impor dari negara tetangga Malaysia, membuat gejolak nilai tukar mata uang asing langsung berdampak pada harga kebutuhan sehari-hari.

Sejumlah pedagang dan warga di perbatasan mulai merasakan kenaikan harga berbagai produk konsumsi maupun kebutuhan rumah tangga dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat yang semakin tertekan di tengah meningkatnya biaya hidup.

Berdasarkan pantauan di sejumlah toko dan pasar di Nunukan termasuk Sebatik, beberapa komoditas mengalami penyesuaian harga. Minyak goreng kemasan impor yang sebelumnya dijual sekitar Rp22 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp25 ribu. Susu kental manis asal Malaysia meningkat dari Rp14 ribu menjadi Rp17 ribu per kaleng, sementara mi instan impor naik dari Rp6 ribu menjadi Rp7.500 per bungkus.

Kenaikan juga terjadi pada produk otomotif. Harga oli motor impor yang sebelumnya berkisar Rp65 ribu kini mencapai Rp75 ribu per botol, sedangkan ban motor impor naik dari Rp275 ribu menjadi sekitar Rp310 ribu per unit.

Baca Juga :  Harga Konsumen Stabil, Nunukan Catat Deflasi pada Mei 2026

Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUKMPP) Kabupaten Nunukan, Muhtar, mengakui pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi memberikan dampak terhadap harga sejumlah komoditas di wilayah perbatasan yang masih bergantung pada pasokan luar daerah maupun barang impor.

Menurutnya, kondisi geografis Nunukan sebagai daerah perbatasan membuat pergerakan nilai tukar mata uang asing relatif cepat memengaruhi harga barang di pasaran.

“Beberapa komoditas yang memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor atau pasokan dari luar daerah memang berpotensi mengalami penyesuaian harga. Namun sampai saat ini kami terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan harga barang kebutuhan masyarakat di pasar,” ujar Muhtar pada Senin (8/6/2026).

Ia menjelaskan, pemerintah daerah melalui DKUKMPP terus berkoordinasi dengan distributor, pelaku usaha, dan instansi terkait untuk memastikan ketersediaan stok barang serta menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.

“Kami berupaya agar distribusi barang tetap lancar dan stok kebutuhan pokok masyarakat tetap tersedia. Pengawasan juga terus dilakukan untuk mengantisipasi adanya kenaikan harga yang tidak wajar maupun praktik penimbunan barang,” katanya.

Baca Juga :  Pantai Ratu Intan Tak Kunjung Hidup, Ekonom Menilai Kesalahan Strategi

Muhtar menambahkan, hingga saat ini harga kebutuhan pokok strategis di Kabupaten Nunukan masih relatif terkendali meskipun terdapat kenaikan pada beberapa produk yang berkaitan dengan komponen impor.

“Masyarakat tidak perlu panik. Pemerintah akan terus memantau perkembangan pasar dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama di tengah dinamika ekonomi global saat ini,” tegasnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih memanfaatkan produk-produk lokal yang tersedia di Kabupaten Nunukan sebagai salah satu upaya mengurangi ketergantungan terhadap barang impor sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Sementara itu, seorang pedagang di Nunukan, Siti Aminah (38), mengatakan kenaikan harga mulai terjadi karena biaya pengadaan barang dari distributor semakin tinggi.

“Sebagian besar barang yang kami jual berasal dari luar daerah bahkan ada yang didatangkan dari Malaysia. Ketika kurs naik, harga modal juga ikut naik sehingga kami terpaksa menyesuaikan harga jual,” ujarnya.

Kondisi tersebut juga dirasakan masyarakat. Misba (42), warga Kecamatan Nunukan Timur, mengaku kini harus lebih selektif dalam berbelanja kebutuhan rumah tangga.

Baca Juga :  Tarif Tiket Pesawat Penyumbang Terbesar Inflasi Tarakan pada Mei 2026

“Biasanya dengan uang Rp200 ribu bisa membawa pulang banyak barang. Sekarang jumlah barang yang didapat jauh lebih sedikit karena harganya naik satu per satu,” katanya.

Tidak hanya rumah tangga, pelaku usaha kecil juga mulai merasakan dampak pelemahan rupiah. Kenaikan harga bahan baku, kemasan, dan perlengkapan usaha dikhawatirkan akan mengurangi keuntungan bahkan berpotensi menaikkan harga jual produk kepada konsumen.

Sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Nunukan menjadi salah satu daerah yang paling cepat merasakan dampak perubahan nilai tukar. Banyak kebutuhan masyarakat masih bergantung pada pasokan luar negeri sehingga fluktuasi kurs berpengaruh langsung terhadap harga barang di pasaran.

Masyarakat berharap pemerintah dapat mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mengendalikan harga kebutuhan pokok agar daya beli warga tidak semakin tergerus.

Bagi warga perbatasan, melemahnya rupiah bukan sekadar persoalan ekonomi makro. Ketika nilai tukar menurun, dampaknya langsung terasa pada pengeluaran rumah tangga, biaya usaha, hingga kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi masyarakat. (*)

Reporter: Soni Irnada

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *