benuanta.co.id, TARAKAN – Kota Tarakan mencatatkan deflasi sebesar 0,06 persen pada April 2026, setelah sebelumnya mengalami inflasi pada Februari dan Maret 2026, serta deflasi pada Januari 2026.
Dinamika ini dipengaruhi kombinasi kenaikan tarif transportasi dan penurunan harga sejumlah komoditas pangan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan, Umar Riyadi, menjelaskan, secara bulanan (month to month/mtm), angkutan udara menjadi komoditas dominan penyumbang inflasi sebagai respons atas kenaikan harga avtur yang diiringi regulasi pemerintah terkait tarif batas atas angkutan udara.
“Angkutan udara dominan memberikan andil inflasi month to month, bersama dengan tomat, namun tekanan tersebut diredam oleh komoditas yang mengalami deflasi seperti cabai rawit, daging ayam ras, dan emas perhiasan,” ujarnya.
Secara rinci, angkutan udara menyumbang inflasi sebesar 0,1197 persen, diikuti tomat (0,1131 persen), angkutan laut (0,0531 persen), bawang merah (0,0507 persen), air kemasan (0,0454 persen), kangkung (0,0293 persen), susu cair kemasan (0,0242 persen), ikan bandeng/ikan bolu (0,0140 persen), kue kering berminyak (0,0131 persen), dan cat tembok (0,0113 persen).
Sementara itu, komoditas yang dominan menyumbang deflasi meliputi cabai rawit (-0,2812 persen), daging ayam ras (-0,1513 persen), emas perhiasan (-0,1303 persen), ikan layang/ikan benggol (-0,0349 persen), daun seledri (-0,0094 persen), kentang (-0,0066 persen), cabai merah (-0,0064 persen), susu bubuk untuk balita (-0,0063 persen), bayam (-0,0060 persen), dan beras (-0,0048 persen).
Dari sisi kelompok pengeluaran, Kelompok Transportasi menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil sebesar 0,17 persen. Disusul Kelompok Penyediaan Makan Minum/Restoran sebesar 0,03 persen. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga serta Kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga masing-masing memberikan andil sebesar 0,02 persen, sementara Kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan sebesar 0,01 persen.
Di sisi lain, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama deflasi dengan andil sebesar 0,19 persen. Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya juga memberikan andil deflasi sebesar 0,12 persen, terutama akibat turunnya harga emas perhiasan.
Secara kumulatif, inflasi kalender (year to date/ytd) Kota Tarakan hingga April 2026 tercatat sebesar 1,00 persen, sementara inflasi tahunan (year on year/yoy) mencapai 2,90 persen. Umar menjelaskan bahwa pada Januari hingga Maret 2026, pembentukan inflasi tahunan masih dipengaruhi *low base effect* akibat kebijakan diskon tarif listrik dari pemerintah.
“Namun pada April 2026, efek tersebut tidak lagi dirasakan, sehingga besaran inflasi year on year makin mendekati range target 2,5 persen ± 1 persen,” sebutnya.
Ia menambahkan, apabila pola inflasi pada sisa bulan tahun 2026 mengikuti tren tahun 2025, maka inflasi Kota Tarakan sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 2,90 persen.
Sebagai perbandingan, inflasi Provinsi Kalimantan Utara pada April 2026 tercatat sebesar 0,02 persen (mtm), dengan inflasi kalender 1,16 persen dan inflasi tahunan 2,68 persen. Sementara secara nasional, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,13 persen, inflasi kalender 1,06 persen, dan inflasi tahunan 2,42 persen.
Dengan kondisi tersebut, inflasi di Kota Tarakan dinilai masih relatif terkendali, meskipun terdapat tekanan dari sektor transportasi yang diimbangi oleh penurunan harga komoditas pangan. (*)
Reporter: Sunny Celine T
Editor: Endah Agustina







