benuanta.co.id, BULUNGAN – Kain putih terbentang di atas meja. Lilin, pewarna dan berbagai peralatan batik terlihat di sekitar para pengrajin. Dengan penuh ketelitian, tangan-tangan penyandang disabilitas di Galeri Batik Tiga Ale “Leto” Bulungan terus bergerak menyelesaikan kain batik yang mereka kerjakan.
Bagi mereka, membatik bukan pekerjaan yang mudah. Ada proses panjang yang harus dilewati, mulai dari membuat pola, memberi lilin, mewarnai, menjemur hingga merebus kain. Namun keterbatasan fisik tidak membuat semangat mereka berhenti.
Anastasia Oni Kein, salah satu pengrajin batik sekaligus Ketua HWDI Kabupaten Bulungan, mengatakan awal belajar membatik menjadi pengalaman yang cukup sulit. Mereka harus menyesuaikan setiap tahapan dengan kondisi masing-masing.
“Pertama kami buat batik itu sulit, apalagi kami daksa. Cara mengukur, merebus sampai menjemurnya itu ada kendala,” kata Anastasia, Jumat (14/8/2026).
Dalam prosesnya, mereka saling membantu. Pengrajin penyandang tuna rungu juga ikut mengambil bagian, terutama dalam proses menjemur, merebus hingga membantu pekerjaan lainnya. Salah satu tantangan yang paling sering mereka hadapi justru datang dari cuaca. Kalau hujan turun, pekerjaan bisa berhenti. Sebab kain batik harus benar-benar kering sebelum masuk ke proses selanjutnya.
“Kalau hujan itu lama. Batik harus kena panas matahari. Kalau tidak kering, lilinnya bisa pecah-pecah dan hasil batiknya kurang bagus,” ujarnya.
Meski begitu, mereka tidak memilih menyerah. Anastasia bercerita, hasil batik pertama yang dibuat bahkan sempat membuat mereka kecewa. Motif dan hasil akhirnya belum sesuai yang diharapkan. Tapi dari situ mereka terus mencoba.
“Pertama buat itu jelek sekali, agak kecewa. Lama-lama kami buat lagi, hasilnya mulai bagus. Apalagi kalau ada yang beli, tambah semangat lagi,” tuturnya.
Kegiatan membatik ini berawal dari pelatihan yang difasilitasi oleh Dinas Sosial Kabupaten Bulungan. Setelah pelatihan, para anggota HWDI kemudian sepakat melanjutkan kegiatan tersebut. Awalnya hanya beberapa orang yang ikut. Mereka kemudian mengajak anggota lainnya untuk bergabung.
Kini, setelah sekitar tiga bulan menekuni pembuatan sekaligus penjualan batik, karya mereka mulai dilirik. Sejumlah kain sudah dibeli pihak pemerintah dan masyarakat juga mulai mengenal hasil karya mereka.
Untuk harga, masih disesuaikan dengan ukuran dan tingkat kesulitan motif. Salah satu kain dengan panjang sekitar 2,7 meter misalnya, dibanderol sekitar Rp300 ribu. Anastasia dan teman pengrajin lainnya juga mulai memanfaatkan media sosial untuk promosi.
WhatsApp dan TikTok digunakan untuk memperkenalkan batik sekaligus menunjukkan proses pembuatannya. Ketika ada kegiatan pemerintah daerah, mereka juga membawa hasil karya untuk dipamerkan sekaligus dijual.
Bagi Anastasia, setiap kain yang selesai dibuat punya cerita sendiri. Bukan hanya soal warna dan motif, tetapi juga tentang perjuangan para pengrajin disabilitas untuk membuktikan bahwa mereka mampu berkarya.
“Biar orang lihat, ternyata disabilitas juga semangat,” katanya.
Dalam kondisi cuaca panas, para pengrajin bisa menyelesaikan sekitar dua hingga tiga kain dalam sehari. Namun jika hujan datang, proses produksi terpaksa dihentikan sementara.
Kini mereka berharap Galeri Batik Tiga Ale “Leto” tidak berhenti hanya sebagai tempat membuat batik. Mereka ingin usaha ini terus berkembang dan semakin banyak masyarakat yang mengenal serta membeli hasil karya mereka.
“Walaupun batik kami belum terlalu bagus seperti batik yang lain, tetap semangat. Kami mau memberikan yang terbaik untuk pembeli,” kata Anastasia.
Dari selembar kain, mereka sedang menunjukkan satu hal sederhana: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya.(*)
Reporter: Alvianita
Editor: Endah Agustina








