TARAKAN – Kualitas udara di Kota Tarakan masih berada pada kategori sedang di tengah kabut asap yang terpantau di sejumlah wilayah Kalimantan Utara dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pemantauan terbaru, konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 di Tarakan berkisar 16–55 mikrogram per meter kubik (µg/m³), sementara sebaran titik panas di Kalimantan Timur masih berpeluang menjadi sumber kabut asap kiriman ke wilayah ini.
Forecaster On Duty BMKG Tarakan, M. Hatta Rachim, mengungkapkan kondisi kualitas udara tersebut berkaitan dengan kabut asap yang masih teramati di Kalimantan Utara. Selain itu, keberadaan titik panas di luar wilayah Kaltara turut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kondisi udara di Tarakan.
“Kualitas udara di Kota Tarakan pada hari ini terpantau pada kategori sedang, dengan konsentrasi partikulat PM2.5 berkisar antara 16–55 µg/m³,” ungkapnya.
Berdasarkan pantauan citra satelit dalam 24 jam terakhir, terdapat empat titik panas atau hotspot yang terdeteksi di wilayah Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Tana Tidung. Meski demikian, jumlah titik panas yang terpantau di Kalimantan Timur masih cukup banyak sehingga peluang masuknya kabut asap dari luar Kalimantan Utara dinilai masih signifikan.
“Dalam 24 jam terakhir masih terpantau empat titik panas di wilayah Bulungan dan Tana Tidung, sedangkan di Kalimantan Timur jumlahnya masih cukup banyak,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat potensi kabut asap kiriman masih perlu diwaspadai, meskipun sumber asap yang memengaruhi Tarakan belum dapat dipastikan hanya berdasarkan jumlah titik panas. Sebaran titik panas menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam memantau potensi kebakaran hutan dan lahan serta dampaknya terhadap kualitas udara.
“Kabut asap kiriman dari wilayah luar Kalimantan Utara masih berpeluang cukup signifikan,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, cuaca Kota Tarakan selama sepekan ke depan diprakirakan cenderung cerah hingga cerah berawan pada pagi sampai malam hari. Hujan dengan intensitas ringan masih berpotensi terjadi pada dini hari selama satu hingga tiga hari ke depan.
“Secara umum, kondisi cuaca di Kota Tarakan dalam seminggu ke depan diprakirakan cerah hingga cerah berawan pada pagi hingga malam hari, dengan potensi hujan ringan pada dini hari untuk satu sampai tiga hari ke depan,” terangnya.
Untuk kondisi suhu, BMKG memperkirakan suhu rata-rata harian di Tarakan berkisar 28–30 derajat Celsius. Suhu minimum diperkirakan berada pada rentang 24–25 derajat Celsius, sedangkan suhu maksimum mencapai 31–33 derajat Celsius. Kelembapan udara berkisar 65–90 persen, dengan arah angin pada lapisan 3.000 kaki didominasi dari utara hingga timur dan kecepatan rata-rata 5–8 knot.
“Suhu udara minimum diprakirakan 24–25 derajat Celsius dan maksimum 31–33 derajat Celsius, dengan kelembapan udara berkisar 65–90 persen,” paparnya.
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya titik panas serta kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran sembarangan, baik untuk membuka atau membersihkan lahan maupun membakar sampah, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, hutan, dan lahan kering.
“Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, baik untuk membuka atau membersihkan lahan maupun membakar sampah,” imbaunya.
Apabila kabut asap terpantau, masyarakat disarankan menggunakan masker untuk mengurangi paparan langsung, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Kecukupan cairan tubuh juga perlu dijaga, khususnya ketika beraktivitas pada siang hari, guna menghindari dehidrasi dan kelelahan di tengah kondisi cuaca yang relatif panas.
“Jika terpantau kabut asap, masyarakat diimbau tetap menggunakan pelindung masker serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari,” lanjutnya.
Masyarakat juga diminta terus memantau perkembangan cuaca dan peringatan dini melalui kanal informasi resmi BMKG, yakni laman bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg dan @bmkgtarakan. Langkah antisipatif diperlukan untuk mengurangi risiko yang berkaitan dengan cuaca ekstrem, kekeringan, maupun kebakaran hutan dan lahan.
“Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi BMKG serta melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan,” tutupnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli








