benuanta.co.id, TARAKAN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap kualitas udara menyusul konsentrasi partikulat halus PM2,5 yang dalam dua pekan terakhir beberapa kali menembus angka 50. Data Air Quality Monitoring System (AQMS) menunjukkan konsentrasi PM2,5 bahkan sempat mencapai 62 pada 9 Agustus 2026 sekitar pukul 23.00 WITA.
Perlu diketahui, PM2.5 adalah partikel udara yang berukuran sangat kecil, yakni kurang dari atau sama dengan 2,5 mikrometer (mikron).
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup serta Pengelolaan Keanekaragaman Hayati DLH Tarakan, Chaizir Zein, mengatakan angka tersebut belum masuk kategori kuning. Namun, posisinya sudah cukup dekat dengan ambang perubahan kategori.
“Kalau sudah 70, dia masuk kuning. Makanya ini kita harus melakukan mitigasi,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu diantisipasi agar konsentrasi partikulat tidak terus meningkat. Salah satu langkah yang didorong DLH yakni mencegah aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar. Chaizir mengatakan kondisi cuaca yang relatif kering membuat vegetasi dan semak belukar lebih mudah terbakar. Situasi itu kemudian diperparah apabila terjadi pembakaran lahan oleh masyarakat.
“Yang pertama karena kondisi alam. Curah hujan yang kurang mengakibatkan banyak semak belukar kering yang mudah terbakar. Yang kedua bisa juga karena ulah manusia atau masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar,” ungkapnya.
Selain asap dari kebakaran, debu yang meningkat pada kondisi kering juga berpotensi memengaruhi kualitas udara. Aktivitas kendaraan turut menjadi salah satu sumber pencemar, meski parameter yang paling terlihat meningkat saat ini adalah PM2,5 dan PM10.
DLH memantau kondisi tersebut melalui AQMS yang terpasang di belakang Kantor DLH Tarakan. Data alat tersebut dikirim secara berkala dan terhubung dengan sistem ISPUnet sehingga dapat dipantau secara daring.
Chaizir menyebut masyarakat perlu ikut mencegah peningkatan konsentrasi partikulat, terutama dengan tidak melakukan pembakaran terbuka.
“Memberikan informasi dan imbauan kepada masyarakat agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar,” tegasnya.
Ia memastikan kualitas udara Tarakan saat ini masih berada dalam kategori aman. Namun, langkah mitigasi dinilai perlu dilakukan sebelum konsentrasi PM2,5 menembus angka 70. DLH juga berharap curah hujan kembali meningkat. Hujan dinilai dapat membantu menurunkan konsentrasi partikulat di udara.
“Semoga hujan rutin. Hujan juga salah satu faktor yang sangat membantu karena bisa melunturkan kadar PM2,5 di udara,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina








