Kunjungan Wisman ke Nunukan Naik 14,82 Persen pada Agustus 2026

Nunukan5 views

benuanta.co.id, NUNUKAN – Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) melalui pintu keimigrasian di Kabupaten Nunukan mencapai 1.418 kunjungan pada Agustus 2026. Angka tersebut meningkat 14,82 persen dibandingkan Juli 2026 yang tercatat sebanyak 1.235 kunjungan. Dalam sebulan, terjadi penambahan 183 kunjungan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan, Dr. Iskandar Ahmaddien, mengatakan kenaikan tersebut perlu dibaca bersama indikator pariwisata lainnya, terutama rata-rata lama menginap dan aktivitas ekonomi yang dilakukan pengunjung selama berada di Nunukan.

“Pada Agustus 2026 tercatat 1.418 kunjungan wisatawan mancanegara, meningkat sekitar 14,82 persen dibandingkan Juli. Namun, rata-rata lama menginap masih 1,25 hari. Tantangannya bukan hanya bagaimana meningkatkan jumlah orang yang datang, tetapi bagaimana kunjungan tersebut memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi Nunukan,” ujar Iskandar.

Berdasarkan data BPS, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel dan akomodasi lainnya di Nunukan pada Agustus 2026 tercatat 23,58 persen. Sementara Rata-Rata Lama Menginap Tamu (RLMT) berada di angka 1,25 hari.

Menurutnya, angka tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang untuk meningkatkan lama tinggal pengunjung sekaligus memperluas aktivitas ekonomi yang tercipta selama berada di Nunukan.

Sebagai wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, mobilitas orang di Nunukan memiliki karakter yang beragam. Kunjungan melalui pintu keimigrasian tidak seluruhnya berkaitan dengan aktivitas wisata, tetapi juga dapat dipengaruhi kepentingan keluarga, pekerjaan, perdagangan dan aktivitas lintas batas lainnya.

Baca Juga :  Cuaca di Nunukan Didominasi Cerah Berawan, Hujan Ringan Berpotensi Terjadi di Sebagian Wilayah

Namun, tingginya mobilitas tersebut dapat menjadi peluang ekonomi apabila tersedia lebih banyak aktivitas yang mendorong pengunjung untuk tinggal lebih lama.

“Semakin lama seorang pengunjung berada di suatu daerah, semakin besar peluang terjadinya aktivitas ekonomi, mulai dari penggunaan hotel dan penginapan, konsumsi makanan dan minuman, transportasi lokal, perdagangan, jasa perjalanan hingga pembelian produk UMKM,” jelasnya.

Iskandar menilai posisi Nunukan sebagai wilayah perbatasan menjadi salah satu keunggulan yang dapat dikembangkan untuk memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Potensi Pulau Sebatik, wisata alam dan bahari, kuliner khas daerah, budaya masyarakat perbatasan hingga produk UMKM dapat dikemas menjadi pengalaman yang menarik bagi pengunjung.

“Pengunjung yang awalnya datang untuk urusan keluarga, pekerjaan atau aktivitas lintas batas dapat diberikan pilihan untuk menikmati kuliner, berbelanja produk lokal, mengunjungi destinasi atau memperpanjang masa tinggal,” katanya.

Dengan semakin banyak pilihan aktivitas, peluang belanja pengunjung di sektor lokal juga ikut terbuka. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor pariwisata, tetapi juga pelaku UMKM, pedagang kuliner, pengusaha transportasi, pengelola penginapan hingga penyedia jasa lainnya.

Baca Juga :  Catat Tanggalnya! Job Fair Nunukan 2026 Siap Digelar di Paras Perbatasan

“Kita mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki semua daerah, yaitu posisi geografis sebagai wilayah perbatasan negara. Tantangannya adalah bagaimana mobilitas yang sudah tinggi dapat dikonversi menjadi aktivitas ekonomi lokal,” jelasnya.

Salah satu upaya yang dapat dikembangkan, lanjut dia, yakni menghadirkan paket perjalanan yang menghubungkan sejumlah potensi wisata di Nunukan dan Sebatik. Paket perjalanan dua hingga tiga hari, misalnya, dapat menggabungkan wisata alam, kuliner, budaya, pengalaman kawasan perbatasan serta kunjungan ke sentra UMKM.

Agenda budaya, kuliner, olahraga dan ekonomi kreatif dengan karakter khas perbatasan juga dapat menjadi daya tarik tambahan agar pengunjung memiliki alasan untuk tinggal lebih lama.

“Indikator keberhasilan pengembangan pariwisata Nunukan ke depan sebaiknya tidak hanya dilihat dari berapa banyak orang yang datang, tetapi juga berapa lama mereka tinggal dan seberapa besar aktivitas ekonomi yang tercipta selama berada di Nunukan,” tuturnya.

TPK hotel dan akomodasi lainnya yang masih berada pada angka 23,58 persen juga menunjukkan adanya ruang bagi sektor akomodasi untuk berkembang seiring dengan meningkatnya mobilitas pengunjung.

Jika lama tinggal dapat ditingkatkan, aktivitas ekonomi yang tercipta juga berpotensi semakin luas. Pengunjung tidak hanya membutuhkan tempat menginap, tetapi juga makanan, transportasi, oleh-oleh, jasa perjalanan dan berbagai kebutuhan lainnya.

Baca Juga :  Batik Lulantatibu Dibawa ke Panggung Nasional, Dekranasda Nunukan Bidik Pasar Lebih Luas

Sehingga, pengembangan pariwisata perlu melibatkan keterhubungan antara hotel, restoran, transportasi, pelaku perjalanan, UMKM dan masyarakat.

Promosi digital juga dinilai penting agar potensi wisata dan produk lokal Nunukan lebih mudah ditemukan calon pengunjung. Informasi mengenai destinasi, kuliner, akomodasi, transportasi, agenda kegiatan dan produk UMKM perlu dikemas secara sederhana dan mudah diakses.

“Orang datang, tinggal lebih lama, makan di Nunukan, menggunakan jasa lokal, berbelanja produk UMKM dan mengunjungi destinasi kita. Di situlah data pariwisata dapat diterjemahkan menjadi peluang pembangunan ekonomi,” katanya.

Peningkatan kunjungan wisman menjadi momentum bagi Nunukan untuk mengoptimalkan mobilitas lintas negara agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. BPS Kabupaten Nunukan akan terus menyediakan data pariwisata secara objektif dan berkelanjutan sebagai bahan evaluasi bagi pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi dan masyarakat.

Dengan keterlibatan berbagai pihak, peningkatan kunjungan wisman diharapkan tidak berhenti sebagai angka statistik, tetapi dapat membuka ruang lebih besar bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha dan memperkenalkan produk lokal Nunukan. (*)

Reporter: Novita A.K

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *