benuanta.co.id, TARAKAN – Kebutuhan masyarakat terhadap layanan internet yang terus meningkat dinilai perlu diikuti dengan kesiapan infrastruktur perkotaan. Perkembangan kebutuhan komunikasi yang semakin luas sejak pandemi Covid-19 membuat internet tidak lagi sekadar menjadi fasilitas tambahan, melainkan telah menjadi bagian penting dalam aktivitas masyarakat.
Akademisi Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr. Margiyono, S.E., M.Si., mengungkapkan perkembangan kota selalu berjalan beriringan dengan meningkatnya kebutuhan energi dan komunikasi. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari pertumbuhan aktivitas masyarakat.
“Semakin maju suatu kota, maka kebutuhan energinya makin besar,” ungkapnya, Ahad (2/8/2026).
Hal serupa terjadi pada kebutuhan komunikasi. Dr. Margiyono melihat perubahan paling signifikan terjadi setelah pandemi 2019-2021 ketika penggunaan internet semakin melekat dalam kehidupan masyarakat. Internet kini digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga menunjang pendidikan dan aktivitas bisnis.
“Internet itu sekarang nampaknya menjadi basic need yang keempat,” katanya.
Menurutnya, tingginya kebutuhan tersebut membuat perusahaan penyedia layanan terus memperluas jangkauan dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Kondisi itu pada dasarnya merupakan perkembangan positif karena semakin banyak masyarakat yang dapat memperoleh akses komunikasi.
“Dampaknya tentu multifungsi, untuk komunikasi, edukasi pendidikan, dan juga bisnis,” jelasnya.
Namun, Dr. Margiyono menilai pertumbuhan layanan tersebut juga perlu diikuti perencanaan infrastruktur yang matang. Sebab, sistem pelayanan komunikasi memiliki karakteristik berbeda dengan jaringan energi yang relatif lebih terkonsentrasi.
“Untuk pelayanan komunikasi ini banyak sekali perusahaan yang memberikan layanan kepada masyarakat, baik melalui kabel atau nirkabel,” ujarnya.
Ia menjelaskan layanan komunikasi saat ini menggunakan dua pola utama, yakni jaringan nirkabel dan jaringan kabel. Layanan nirkabel memanfaatkan pemancar untuk mengirimkan jaringan kepada pengguna, sementara sejumlah layanan lainnya masih mengandalkan jaringan kabel yang membutuhkan infrastruktur tiang dan kabel di ruang publik.
“Secara umum sarana komunikasi kita bagi menjadi dua, yaitu kabel dengan nirkabel,” sebutnya.
Menurut Dr. Margiyono, perkembangan kebutuhan tersebut perlu dipandang sebagai bagian dari proses pembangunan kota dalam jangka panjang. Ketika penduduk dan aktivitas ekonomi bertambah, kebutuhan terhadap jaringan komunikasi juga akan ikut meningkat sehingga pemerintah perlu memikirkan bagaimana infrastruktur tersebut ditata sejak awal.
“Jumlah penduduk akan makin banyak, aktivitas ekonominya makin banyak, maka kebutuhan tentang kabel tadi tidak bisa dihindarkan,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong adanya komunikasi antara pemerintah dengan perusahaan penyedia layanan agar perkembangan jaringan tidak berjalan sendiri-sendiri. Penataan dinilai perlu dilakukan secara bertahap sehingga ekspansi layanan tetap berjalan tanpa mengabaikan kondisi ruang kota.
“Ada baiknya pemerintah kota mengkomunikasikan dengan pihak-pihak yang memberikan layanan ini untuk melakukan penataan,” ujarnya.
Dr. Margiyono bahkan menyarankan agar pembangunan infrastruktur komunikasi ke depan mulai mempertimbangkan jalur khusus. Salah satu pilihan yang menurutnya dapat dipikirkan adalah penggunaan jalur bawah tanah sehingga ekspansi jaringan tidak terus menambah beban infrastruktur di ruang udara kota.
“Barangkali ada jalur tersendiri, ada terowongan tersendiri yang digunakan oleh pelayanan-pelayanan seperti kabel,” tambahnya.
Menurutnya, langkah tersebut justru akan lebih mudah jika direncanakan sejak Tarakan belum berkembang terlalu besar. Ia mengingatkan persoalan infrastruktur akan semakin kompleks apabila pertumbuhan kota terus berlangsung sementara sistem jaringan tidak dipersiapkan sejak awal.
“Mumpung kota kita belum terlalu maju, ada baiknya mulai sekarang,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina








