benuanta.co.id, TARAKAN – Keterbatasan kapasitas fasilitas menjadi salah satu pekerjaan rumah yang masih dihadapi Universitas Borneo Tarakan (UBT). Kondisi tersebut membuat kegiatan berskala besar yang melibatkan mahasiswa maupun orang tua belum sepenuhnya dapat dilaksanakan dalam satu lokasi dengan kapasitas yang memadai.
Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Borneo Tarakan, Prof. Dr. Yahya Ahmad Zein, S.H., M.H., saat momen wisuda ke-43 UBT pada Rabu (29/7/2026) lalu. Ia mengungkapkan kebutuhan terhadap fasilitas yang lebih besar menjadi perhatian kampus ke depan, terutama untuk mendukung berbagai kegiatan yang melibatkan banyak peserta.
“Ini terus menjadi PR kami dan akan kami terus perjuangkan setiap tahunnya,” ungkapnya.
Menurutnya, salah satu fasilitas yang dibutuhkan adalah gelanggang olahraga atau GOR yang memiliki kapasitas cukup untuk menampung seluruh peserta sekaligus keluarga dalam kegiatan besar kampus. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai penting agar kegiatan universitas dapat berlangsung lebih representatif.
“Kami akan terus memperjuangkan agar Universitas Borneo Tarakan memiliki gelanggang atau GOR yang mumpuni untuk menampung kapasitas seluruh peserta beserta orang tua dalam gelaran dan event-event besar seperti ini,” ujarnya.
Kebutuhan tersebut terlihat dari kondisi ketika sebagian orang tua dan keluarga harus mengikuti kegiatan dari lokasi berbeda karena keterbatasan daya tampung ruang utama. Situasi itu menjadi gambaran bahwa fasilitas dengan kapasitas lebih besar diperlukan untuk menunjang agenda universitas.
“Orang tua sekarang berada di lantai satu rektorat karena kapasitasnya sangat terbatas,” bebernya.
Ia menyampaikan permohonan maaf kepada para orang tua yang tidak dapat berada di ruangan yang sama dengan keluarga mereka dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, keterbatasan kapasitas bukan sesuatu yang diabaikan oleh pihak universitas, melainkan menjadi catatan yang akan terus diperjuangkan penyelesaiannya.
“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya tidak bisa membersamai di lantai empat ini karena orang tua sekarang berada di lantai satu rektorat,” ucapnya.
Selain persoalan fasilitas, pihak universitas juga terus mendorong penguatan peran UBT sebagai perguruan tinggi yang berada di wilayah perbatasan. Menurut rektor, posisi tersebut memberikan tanggung jawab bagi UBT untuk terus berkontribusi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi perkembangan zaman.
“Universitas Borneo Tarakan yang ada di wilayah perbatasan ini terus mengambil peran strategis untuk mencetak generasi muda yang unggul dan berkarakter,” terangnya.
Ia menambahkan, pengembangan UBT tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan di tingkat daerah, tetapi juga mempersiapkan lulusan agar mampu bersaing lebih luas. Perkembangan zaman menuntut perguruan tinggi untuk membekali generasi muda dengan kemampuan yang dapat diterapkan dalam lingkungan nasional hingga internasional.
“Kami ingin generasi muda mampu mengikuti perkembangan zaman, baik secara nasional maupun secara internasional,” tegasnya.
Di sisi lain, penguatan karakter juga menjadi bagian penting dari arah pengembangan UBT. Rektor menilai kemampuan akademik perlu dibarengi etos kerja dan integritas agar sumber daya manusia yang dihasilkan kampus tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial.
“Etos kerja dan integritas akan menjadi semangat yang mudah-mudahan menjadi bagian penting dari visi entrepreneurship university,” imbuhnya.
Menurutnya, pengembangan UBT sebagai entrepreneurship university juga harus diterjemahkan melalui kontribusi nyata sivitas akademika kepada masyarakat. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan, tetapi juga menciptakan sumber daya manusia yang mampu memberikan manfaat lebih luas.
“Kita harus mampu memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat, bangsa dan negara,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina








