benuanta.co.id, TARAKAN – Prosesi pelarungan Padaw Tuju Dulung di Pantai Amal menjadi puncak rangkaian Festival Iraw Tengkayu ke-15 Kota Tarakan, Ahad (5/7/2026). Masyarakat memadati kawasan pantai untuk menyaksikan prosesi adat masyarakat Tidung yang digelar setiap tahun sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus pelestarian tradisi budaya.
Wali Kota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes., mengungkapkan penyelenggaraan Festival Iraw Tengkayu tahun ini kembali mencatatkan capaian dengan masuk dalam daftar 100 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Menurutnya, pengakuan tersebut menjadi kebanggaan bagi Kota Tarakan karena budaya lokal terus mendapat perhatian di tingkat nasional.
“Alhamdulillah Festival Iraw Tengkayu kembali masuk dalam 100 Karisma Event Nusantara. Ini menjadi kebanggaan bagi Kota Tarakan,” ungkapnya.
Khairul menjelaskan, Festival Iraw Tengkayu telah lima kali berturut-turut masuk dalam KEN. Capaian tersebut diharapkan menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan sehingga ke depan dapat masuk dalam kategori yang lebih tinggi.
“Harapan kami ke depan bisa masuk 45 besar Karisma Event Nusantara,” katanya.
Ia menambahkan, pelaksanaan Festival Iraw Tengkayu tahun ini tetap berjalan meski berada di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Berbagai penyesuaian dilakukan tanpa menghilangkan substansi kegiatan agar tradisi tahunan tersebut tetap dapat dilaksanakan.
“Walaupun di tengah keterbatasan anggaran, festival ini tetap kami laksanakan bersama,” tuturnya.
Khairul mengatakan keberlangsungan Festival Iraw Tengkayu tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, panitia, hingga masyarakat. Ia menilai semangat kebersamaan menjadi modal utama agar festival budaya tersebut terus berlangsung setiap tahun.
“Persatuan dan kebersamaan inilah yang harus terus kita pertahankan,” tukasnya.
Sementara itu, salah seorang warga Tarakan, Cahyanti, mengaku sengaja datang bersama keluarganya untuk menyaksikan prosesi pelarungan Padaw Tuju Dulung. Menurutnya, momen tersebut menjadi salah satu tradisi yang menarik untuk disaksikan sekaligus menjadi sarana mengenalkan budaya daerah kepada anak-anak.
“Setiap tahun kami usahakan datang karena anak-anak juga perlu mengenal tradisi daerah sendiri,” katanya.
Meski kawasan Pantai Amal dipadati pengunjung, ia menilai pelaksanaan kegiatan berlangsung cukup tertib. Ia berharap ke depan fasilitas pendukung seperti area parkir maupun akses menuju lokasi dapat semakin ditingkatkan agar pengunjung merasa lebih nyaman.
“Kalau pengunjung memang ramai, tapi secara keseluruhan acaranya tetap nyaman untuk dinikmati,” ujarnya.
Pengunjung lain, Amaruddin, yang datang bersama sejumlah rekannya. Ia menilai prosesi pelarungan menjadi penutup yang menarik dari rangkaian Festival Iraw Tengkayu karena memberikan kesempatan kepada masyarakat menyaksikan langsung salah satu tradisi adat Tidung yang masih dilestarikan hingga kini.
“Bagus karena masyarakat bisa melihat langsung prosesi adat yang mungkin belum semua orang pernah menyaksikannya,” tuturnya.
Ia berharap Festival Iraw Tengkayu tetap menjadi agenda tahunan Kota Tarakan dengan terus mempertahankan nilai budaya yang menjadi ciri khasnya. Menurutnya, keberadaan festival tersebut tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda maupun pengunjung dari luar daerah.
“Semoga tradisi seperti ini terus dijaga dan tetap menjadi bagian dari identitas Kota Tarakan,” tutupnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina







