benuanta.co.id, TARAKAN – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga dan mengembangkan tradisi Iraw Tengkayu sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, sosial, edukasi, sekaligus potensi besar dalam mendukung sektor pariwisata daerah. Ajakan tersebut disampaikan pada prosesi puncak Festival Iraw Tengkayu ke-15 melalui upacara pelarungan Padaw Tuju Dulung di Pantai Amal, Tarakan, Ahad (5/7/2026).
Mewakili Gubernur Kalimantan Utara, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kalimantan Utara, Sanusi, menyampaikan ucapan selamat atas terselenggaranya Festival Iraw Tengkayu ke-15. Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan, khususnya prosesi pelarungan, dapat berlangsung dengan aman, lancar, dan menjadi momentum mempererat persaudaraan masyarakat.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, saya mengucapkan selamat dan sukses atas penyelenggaraan Festival Iraw Tengkayu ke-15. Semoga prosesi pelarungan hari ini berlangsung aman, lancar, penuh hikmat, serta menjadi momentum mempererat kebersamaan dan persaudaraan masyarakat,” ungkapnya.
Sanusi menjelaskan Iraw Tengkayu merupakan tradisi masyarakat Suku Tidung yang telah diwariskan secara turun-temurun dan mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Tradisi tersebut terus berkembang menjadi festival budaya yang tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga bernilai sosial, edukasi, dan pariwisata.
“Iraw Tengkayu tidak hanya sarat makna spiritual, tetapi juga memiliki nilai sosial, edukasi, dan pariwisata yang sangat strategis,” katanya.
Menurutnya, Festival Iraw Tengkayu memiliki potensi besar sebagai atraksi budaya yang mampu mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan di Kalimantan Utara. Terlebih, tradisi tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dalam kategori ritus budaya sehingga menjadi tanggung jawab bersama untuk terus melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya secara bijaksana.
“Tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Karena itu menjadi tanggung jawab kita bersama untuk terus melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya bagi kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Tarakan, tokoh adat, seniman, budayawan, serta seluruh masyarakat yang selama ini konsisten menjaga kelestarian Iraw Tengkayu. Menurutnya, upacara adat tersebut merupakan kekayaan budaya bangsa yang harus tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terus berkomitmen menjaga keluhuran tradisi Iraw Tengkayu agar tetap lestari,” ucapnya.
Lebih lanjut, Sanusi menilai keberlanjutan festival tersebut perlu menjadi sarana memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda. Ia berharap anak-anak dan pemuda Kalimantan Utara semakin mengenal, mencintai, serta bangga terhadap identitas budayanya sendiri melalui berbagai kegiatan budaya yang terus dilaksanakan setiap tahun.
“Melalui kegiatan ini kita berharap generasi penerus semakin mengenal, mencintai, dan bangga terhadap identitas budayanya sendiri,” tuturnya.
Sanusi juga mengapresiasi konsistensi Festival Iraw Tengkayu yang terus mendapat pengakuan sebagai salah satu agenda budaya nasional. Menurutnya, capaian tersebut membuktikan bahwa budaya lokal mampu menjadi daya tarik wisata sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi daerah apabila dikelola secara profesional dan berkelanjutan.
“Pengakuan ini menjadi bukti bahwa kekuatan budaya lokal mampu menjadi daya tarik pariwisata yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkuat jati diri daerah,” imbuhnya.
Karena itu, ia mendorong agar pengelolaan Festival Iraw Tengkayu terus ditingkatkan sehingga semakin menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Di sisi lain, generasi muda juga diharapkan berperan aktif melalui kreativitas dan inovasi dalam mengemas promosi budaya, baik melalui seni pertunjukan maupun dokumentasi digital.
“Generasi muda harus mengambil peran aktif melalui kreativitas dan inovasi agar tradisi ini terus hidup dan dikenal lebih luas,” lanjutnya.
Menurut Sanusi, pelestarian Iraw Tengkayu tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, tokoh adat, pelaku seni, dunia usaha, dan masyarakat. Sinergi tersebut dinilai penting agar nilai-nilai persatuan, gotong royong, rasa syukur, dan penghormatan terhadap leluhur tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
“Mari kita jadikan Iraw Tengkayu bukan hanya agenda budaya tahunan, tetapi identitas dan kebanggaan masyarakat Kalimantan Utara,” bebernya.
Di akhir, Sanusi mengajak seluruh masyarakat untuk terus mendukung pelestarian Iraw Tengkayu sebagai warisan budaya yang mampu memperkuat persaudaraan sekaligus mengharumkan nama Kalimantan Utara di tingkat nasional maupun internasional.
“Mari kita terus mendukung dan melestarikan Iraw Tengkayu agar tetap menjadi warisan budaya yang memperkokoh persatuan dan mengharumkan nama Kalimantan Utara,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina







