benuanta.co.id, BULUNGAN – Di tengah semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan transportasi online, ojek pangkalan ternyata masih bertahan di Tanjung Selor. Setiap hari, mereka tetap menunggu penumpang di pangkalan dengan harapan ada rezeki yang datang.
Salah satunya Muhammad Idris. Pria yang sudah puluhan tahun menjadi ojek pangkalan itu masih setia mangkal di kawasan Pasar Induk dan penyeberangan sungai kayan. Baginya, pekerjaan ini bukan hanya soal mencari penumpang, tetapi juga menjadi sumber nafkah yang telah dijalani sejak muda.
Idris bercerita dirinya mulai menjadi pengemudi ojek sekitar tahun 1990-an. Sejak saat itu, ia sudah berpindah-pindah pangkalan, mulai dari kawasan Sentosa hingga akhirnya menetap di Pasar Induk. Bahkan, ia mengaku ikut merintis pangkalan ojek di kawasan tersebut.
“Dulu penumpangnya banyak. Sekarang ya tinggal menunggu rezeki,” katanya, Ahad (5/7/2926).
Setiap hari, aktivitasnya dimulai sejak subuh. Waktu itu biasanya menjadi jam sibuk karena banyak warga yang berangkat bekerja atau anak sekolah yang membutuhkan jasa ojek. Setelah itu, ia kembali menunggu hingga sore hari.
Namun kondisi sekarang jauh berbeda dibanding dulu. Kehadiran transportasi online membuat jumlah penumpang ojek pangkalan semakin berkurang.
“Hari ini baru dapat Rp20 ribu, baru dua kali antar penumpang. Kadang sehari bisa lima penumpang, kadang juga tidak dapat sama sekali,” ujarnya.
Meski penghasilannya tidak menentu, Idris memilih tetap bertahan. Menurutnya, selama masih ada kesempatan mencari nafkah dengan cara yang halal, ia akan terus menjalani profesi tersebut.
Ia mengaku tidak mempermasalahkan keberadaan ojek online. Namun, ia berharap ada aturan yang lebih jelas agar pengemudi online dan ojek pangkalan bisa sama-sama bekerja tanpa menimbulkan persoalan di lapangan.
“Kalau bisa ada aturan yang jelas. Jadi sama-sama cari makan,” ucapnya.
Idris juga mengenang masa ketika Tanjung Selor belum seramai sekarang. Saat itu kawasan Sengkawit masih banyak hutan, tarif ojek masih dihitung puluhan rupiah, dan penumpang bisa datang silih berganti tanpa harus menunggu lama.
Kini suasana sudah berubah. Meski harus bersaing dengan perkembangan teknologi, ia tetap memilih duduk di pangkalan setiap hari sambil menunggu penumpang datang.
“Bagi kami yang penting tetap cari rezeki yang halal. Ada penumpang disyukuri, tidak ada ya tetap sabar,” tutupnya. (*)
Reporter: Alvianita
Editor: Ramli







