Asap Karhutla, Dokter Ingatkan Masyarakat Jaga Kesehatan Pernapasan

Bulungan47 views

benuanta.co.id, BULUNGAN – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Bulungan mulai berdampak pada kondisi udara. Di Tanjung Selor yang merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), kabut asap mulai terlihat dan mengelilingi sejumlah wilayah, pemandangan ini terlihat di daerah tetangga.

Kondisi ini tentu menjadi perhatian karena masyarakat masih harus melakukan aktivitas sehari-hari. Ada yang bekerja, sekolah, bepergian menggunakan kendaraan dan kegiatan lainnya yang mengharuskan masyarakat tetap berada di luar rumah.

Asap dari karhutla sendiri tidak hanya membuat jarak pandang sedikit terganggu, tetapi juga bisa berdampak pada kesehatan, terutama pada sistem pernapasan. Hal ini dibenarkan oleh Spesialis Paru, dr. Fadlun.

Ia mengatakan, asap yang terhirup secara terus menerus tentunya tidak baik bagi tubuh. Apalagi masyarakat tidak mengetahui secara pasti apa saja yang terbakar sampai menghasilkan asap tersebut.

“Pastinya tidak baik untuk sistem pernapasan kita. Anak-anak, orang dewasa sampai orang tua itu pasti bisa terdampak, karena kita juga tidak tahu apa saja yang terbakar dan apa bahayanya bagi tubuh,” kata dr. Fadlun, Ahad (16/8/2026).

Baca Juga :  Gempa M5,9 di Teluk Tomini Terasa hingga Tanjung Selor, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami

Menurutnya, paparan asap dan udara yang tidak baik bisa membuat saluran pernapasan terganggu. Kondisi ini bisa dirasakan mulai dari batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, sesak napas sampai memperburuk kondisi orang yang sebelumnya sudah memiliki masalah pernapasan.

Ia juga menyebutkan, kondisi cuaca yang panas ditambah dengan adanya polusi dari asap membuat masyarakat harus lebih berhati-hati. Paparan yang terus terjadi dalam beberapa hari tentunya tidak bisa dianggap hal yang biasa saja.

“Akhir-akhir ini cuacanya sangat panas, ditambah lagi dengan polusi. Jadi pasien bisa lebih sering datang karena keluhannya kembali muncul atau tidak terkontrol,” katanya.

Anak-anak dan orang tua juga menjadi kelompok yang perlu diperhatikan. Terutama anak-anak karena sistem pernapasannya yang masih belum sempurna sehingga ketika harus berhadapan dengan udara yang banyak polusi, tentu bisa memberikan dampak.

“Anak-anak itu sistem pernapasannya masih belum sempurna, tiba-tiba harus menghadapi kondisi udara yang seperti ini. Jadi semuanya harus kita perhatikan,” jelasnya.

Baca Juga :  Anak 9 Tahun Dilaporkan Hilang di Sungai Jelarai

Sebenarnya salah satu cara untuk menghindari asap adalah lebih banyak berada di dalam rumah. Bahkan, menurut dr. Fadlun, jika ingin benar-benar mengurangi masuknya polusi, pintu dan jendela juga harus ditutup agar tidak ada celah udara dari luar masuk ke dalam rumah.

Namun hal itu tentunya tidak mudah dilakukan masyarakat. Tidak semua orang bisa hanya berada di rumah karena tetap harus bekerja, sekolah dan menjalankan aktivitas lainnya.

“Kalau mau menghindari sebenarnya kita harus berada di dalam rumah, pintu ditutup dan jangan ada celah polusi masuk. Tapi kan tidak mungkin untuk yang bekerja, anak-anak yang sekolah juga sulit. Jadi tetap kita harus proteksi diri,” ujarnya.

Salah satu perlindungan yang bisa dilakukan masyarakat yaitu menggunakan masker saat berada di luar rumah. Namun ia menyarankan agar masyarakat tidak hanya menggunakan masker biasa ketika kondisi udara sedang dipenuhi asap.

Baca Juga :  Karhutla Bulungan Mulai Bermunculan, BPBD: Belum Separah Tahun 2025

“Kalau masker jangan yang biasa saja, harus yang pertahanannya lebih seperti yang berlapis atau N95 itu lebih bagus lagi,” ungkapnya.

Penggunaan masker setidaknya dapat membantu mengurangi udara yang langsung masuk dan terhirup. Terutama bagi warga yang setiap hari harus menggunakan kendaraan roda dua untuk bekerja atau melakukan aktivitas lainnya.

Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap kabut asap sebagai hal biasa. Jika aktivitas di luar tidak terlalu penting, sebaiknya dikurangi dahulu. Apalagi ketika kondisi udara sedang terlihat pekat atau jarak pandang mulai terganggu.

Dr. Fadlun juga mengingatkan agar masyarakat memperhatikan kondisi tubuh masing-masing. Jika mulai mengalami batuk yang terus menerus, sesak napas atau keluhan pernapasan lainnya, sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja.

“Pertama jangan melakukan aktivitas kalau tidak terlalu perlu. Kalau memang harus keluar, kita proteksi diri. Jangan sampai kita terus terpapar karena itu yang akhirnya bisa membuat kondisi pernapasan kita terganggu,” pungkasnya. (*)

Reporter: Alvianita
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *