35 Petugas Disiapkan, DKPP Tarakan Perkuat Pelatihan dan Pengawasan Kurban

benuanta.co.id, TARAKAN – Menjelang Idul Adha, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Tarakan memperkuat kesiapan pelaksanaan kurban melalui dua langkah utama sekaligus, yakni pendampingan intensif ke peternak dan pengawasan ketat oleh puluhan petugas terlatih.

Sebanyak sekitar 35 petugas telah disiapkan untuk diterjunkan ke lapangan, setelah sebelumnya dibekali pelatihan teknis terkait pemeriksaan kesehatan hewan kurban hingga tata cara pemotongan yang higienis.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Tarakan, Paulus, mengungkapkan penguatan ini dilakukan agar seluruh proses kurban, mulai dari kandang hingga distribusi daging, berjalan sesuai standar kesehatan.

“Sesuai SK tim kurban itu sekitar 35 orang yang kita siapkan untuk turun ke lapangan dan semuanya sudah kita latih,” ungkapnya, Ahad 3/5/2026).

Tak hanya fokus pada hari pemotongan, DKPP juga lebih dulu melakukan pendampingan langsung ke peternak melalui monitoring kandang selama kurang lebih dua pekan. Petugas akan turun dari kandang ke kandang untuk melakukan pembinaan, pendataan, sekaligus memastikan kesiapan ternak yang akan dijadikan hewan kurban.

“Kami akan berjalan dari kandang ke kandang untuk melakukan pemeriksaan sekaligus pembinaan kepada peternak,” jelasnya.

Dalam pendataan tersebut, petugas tidak hanya menghitung jumlah ternak, tetapi juga memastikan hewan yang benar-benar siap dijual dan memenuhi kriteria kurban. “Data yang kami ambil itu berdasarkan yang siap dijual, bukan hanya populasi,” bebernya.

Selain itu, peternak juga diberikan edukasi terkait manajemen pakan dan perawatan ternak. Hal ini penting mengingat masih ditemukan praktik pemeliharaan yang belum optimal di lapangan.

“Kami juga edukasi soal pakan, karena masih ada yang memberi pakan asal-asalan, ini bisa mempengaruhi kesehatan ternak,” katanya.

Sementara itu, dari sisi pengawasan, seluruh petugas yang diterjunkan telah dibekali kemampuan pemeriksaan antemortem dan postmortem. Pemeriksaan antemortem dilakukan sebelum pemotongan untuk memastikan kondisi hewan sehat, sedangkan postmortem difokuskan pada pemeriksaan organ dalam seperti hati guna mendeteksi adanya penyakit.

“Petugas kita latih bagaimana memeriksa hewan sebelum dan setelah dipotong, terutama organ dalam seperti hati yang berpotensi ada cacing,” terangnya.

Jika dalam pemeriksaan ditemukan indikasi penyakit seperti cacing hati dengan kondisi berat, maka bagian tersebut akan dimusnahkan dan tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi. Tak hanya itu, petugas juga dibekali pemahaman terkait proses pemotongan yang higienis, pengemasan daging, hingga distribusi kepada masyarakat agar kualitas tetap terjaga.

Pada hari pelaksanaan kurban, petugas akan disebar ke seluruh titik pemotongan, mulai dari masjid hingga rumah potong hewan (RPH). Bahkan, di lokasi dengan aktivitas tinggi seperti RPH, jumlah petugas bisa mencapai sekitar 10 orang untuk memastikan pengawasan berjalan maksimal.

“Setiap lokasi pemotongan kita pastikan ada petugas yang memantau, supaya daging yang dibagikan benar-benar aman dan layak konsumsi,” tutupnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *