Hadiri Penas KTNA XVII 2026 di Gorontalo, Bupati Nunukan Disambut Adat Mopotilolo

benuanta.co.id, NUNUKAN – Bupati Nunukan, H. Irwan Sabri, bersama rombongan mendapat sambutan adat khas Gorontalo setibanya di Bandara Jalaluddin, Gorontalo, beberapa waktu lalu. Penyambutan tersebut dilakukan melalui prosesi adat Mopotilolo, sebuah tradisi yang diperuntukkan bagi tamu kehormatan yang pertama kali menginjakkan kaki di daerah tersebut.

Prosesi penyambutan berlangsung khidmat dan sarat makna budaya. Jika masyarakat Nunukan mengenal tradisi Tepung Tawar sebagai bentuk penghormatan kepada tamu, maka masyarakat Gorontalo memiliki Upacara Adat Mopotilolo yang diwariskan turun-temurun sebagai simbol penghormatan dan penerimaan tamu oleh masyarakat adat.

“Penyambutan ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi kami. Tradisi yang dijaga dengan baik seperti ini menunjukkan kekayaan budaya bangsa yang harus terus dilestarikan,” kata Irwan Sabri.

Baca Juga :  Pemkab Nunukan Klarifikasi Nilai 0,16 dari Pemprov Kaltara: Bukan Penilaian Kinerja Pembangunan

Upacara diawali dengan Hanthalo Ulipu atau tabuhan genderang adat sebagai penanda dimulainya rangkaian penyambutan. Tahap pertama adalah Mopodungga Lo Tilolo, yakni penyajian sekapur sirih kepada tamu kehormatan yang baru pertama kali berkunjung ke Gorontalo.

Prosesi tersebut merupakan ungkapan rasa syukur sekaligus ucapan selamat datang dari masyarakat adat Gorontalo yang menjunjung falsafah ‘Adat Bersendikan Syara, Syara Bersendikan Kitabullah.’

Rangkaian berikutnya adalah Mopodungga Lo Uyilomu, yaitu penyajian minuman dan kue adat Gorontalo. Dalam tradisi ini terdapat empat unsur kehidupan yang disimbolkan, yakni huta (tanah), taluhu (air), dupoyo (angin), dan tulu(api).

Baca Juga :  Pemkab Nunukan Tambah Anggaran Jaminan Kesehatan Masyarakat Menjadi Rp 37 Miliar

Keempat unsur tersebut mengandung makna bahwa tamu yang datang telah diterima secara resmi oleh masyarakat adat Gorontalo dan mendapat restu untuk berada di wilayah tersebut.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Mopotowuli Lo Tania Lo Uyilumo atau pengembalian peralatan sajian minum. Sebelum upacara dinyatakan selesai, rangkaian adat ditutup dengan pembacaan doa oleh ulama dan pemangku adat serta prosesi mongabi.

Irwan menilai tradisi tersebut mencerminkan kuatnya nilai penghormatan dan persaudaraan yang masih dijaga masyarakat Gorontalo.

Baca Juga :  Pemkab Nunukan Kucurkan Modal Rp3 Miliar untuk Pembiayaan Usaha Mikro

“Indonesia memiliki keragaman budaya yang luar biasa. Tradisi seperti ini menjadi pengingat bahwa perbedaan budaya justru menjadi kekuatan untuk mempererat persatuan,” ujarnya.

Kedatangan Bupati Nunukan dan rombongan ke Gorontalo dalam rangka mengikuti Pekan Nasional (Penas) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVII Tahun 2026 yang dipusatkan di Limboto pada 20–25 Juni 2026.

Pada ajang nasional tersebut, Kabupaten Nunukan mengirimkan sekitar 80 orang yang terdiri dari petani dan nelayan untuk mengikuti berbagai kegiatan, termasuk temu wicara, pameran, serta pertukaran pengetahuan dan teknologi di bidang pertanian dan perikanan. (*)

Reporter: Novita A.K

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *