Akses Darat Lumpuh, Harga Bahan Pokok dan BBM di Krayan Selatan Melonjak

benuanta.co.id, NUNUKAN – Masyarakat di Kecamatan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, kini harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kerusakan parah pada akses jalan penghubung antarwilayah membuat distribusi barang tersendat, memicu kenaikan harga sembako hingga 30 persen dan menyebabkan bahan bakar minyak (BBM) semakin sulit diperoleh.

Kondisi tersebut terjadi dalam beberapa bulan terakhir seiring memburuknya ruas jalan yang menjadi jalur utama distribusi logistik menuju wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia itu.

Akibatnya, kendaraan pengangkut barang maupun BBM kesulitan menjangkau sejumlah desa di Krayan Selatan.

Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli, mengatakan dampak kerusakan jalan tidak hanya dirasakan pelaku usaha dan distributor, tetapi juga langsung membebani masyarakat yang bergantung pada pasokan barang dari luar daerah.

“Kenaikan harga kebutuhan pokok saat ini berkisar antara 20 hingga 30 persen akibat terganggunya distribusi barang,” kata Oktavianus, Sabtu (6/6/2026).

Baca Juga :  Gotong Royong Bangun Jembatan Darurat, Akses Warga Sungai Limau Kembali Terhubung

Ia menjelaskan, jalur darat yang menghubungkan Long Layu, Krayan Barat hingga Long Bawan saat ini dalam kondisi rusak berat. Perjalanan yang sebelumnya dapat ditempuh dalam waktu satu hingga dua jam kini bisa memakan waktu berhari-hari.

Menurut Oktavianus, kendaraan sering terjebak di jalan berlumpur, mengalami kerusakan di tengah perjalanan, bahkan sopir terpaksa berjalan kaki untuk mencari bantuan atau suku cadang.

“Dulu perjalanan hanya satu sampai dua jam. Sekarang bisa sampai enam hari baru tiba di tujuan karena banyak kendaraan rusak di jalan,” ujarnya.

Terhambatnya distribusi barang membuat stok kebutuhan pokok di tingkat pedagang semakin terbatas. Kondisi tersebut kemudian mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas penting.

Harga gula yang sebelumnya sekitar Rp25 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp28 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram. Kenaikan juga terjadi pada bahan bangunan, seperti semen yang sebelumnya dijual sekitar Rp280 ribu per sak dan kini mencapai Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per sak.

Baca Juga :  Lagi, Pohon Tumbang Tutup Jalan Sudirman di Nunukan

Kelangkaan paling terasa terjadi pada BBM. Pasokan bahan bakar yang selama ini diangkut melalui jalur darat semakin sulit masuk ke Krayan Selatan akibat kondisi jalan yang tidak memungkinkan dilalui kendaraan pengangkut.

Akibatnya, harga BBM yang sebelumnya berkisar Rp15 ribu per liter melonjak menjadi Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per liter.

“BBM sekarang sangat langka. Sebagian pasokan memang berasal dari Malaysia, tetapi tetap harus melewati jalur darat yang saat ini kondisinya rusak parah,” jelasnya.

Kondisi tersebut berdampak terhadap 13 desa di wilayah Krayan Selatan. Selain BBM, masyarakat juga mulai kesulitan memperoleh minyak goreng, gula, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya.

Untuk sementara, distribusi barang hanya mengandalkan transportasi udara dari Nunukan, Tarakan, dan Malinau. Namun penerbangan yang hanya beroperasi sekitar satu kali dalam sepekan dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Baca Juga :  Jembatan Penghubung di Sebatik Tengah Ambruk Diterjang Longsor, Masyarakat Terpaksa Seberangi Sungai

Selain kapasitas angkut yang terbatas, biaya pengiriman udara juga relatif tinggi, mencapai sekitar Rp20 ribu per kilogram, sehingga turut memengaruhi harga jual barang di tingkat konsumen.

Pemerintah Kecamatan Krayan Selatan telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, hingga instansi terkait agar penanganan kerusakan jalan segera dilakukan.

Oktavianus berharap perbaikan akses jalan menuju Krayan Selatan dapat menjadi prioritas karena menyangkut kelancaran distribusi barang dan kebutuhan dasar masyarakat di wilayah perbatasan.

“Jika akses jalan diperbaiki, distribusi barang akan kembali lancar, harga kebutuhan pokok lebih stabil, dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat pulih,” pungkasnya. (*)

Reporter: Novita A.K

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *