benuanta.co.id, NUNUKAN – Kondisi terkini Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menunjukkan geliat pemulihan di berbagai sektor pasca bencana, namun sejumlah persoalan mendasar masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Di sektor infrastruktur, keluhan masyarakat terkait jalan rusak dan sistem drainase yang tidak berfungsi optimal masih kerap terdengar.
Wakil Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Utara, Akbar Ali, mengatakan persoalan tersebut menjadi aspirasi utama warga saat kunjungan lapangan.
“Masalah jalan dan drainase ini harus segera ditangani karena sangat berdampak pada aktivitas masyarakat,” tutur Akbar Ali, Sabtu (25/4/2026).
Sementara itu, tekanan ekonomi juga mulai dirasakan pelaku usaha. Kenaikan harga bahan baku dan biaya distribusi berdampak pada meningkatnya ongkos produksi, khususnya bagi usaha kecil dan menengah.
Hal ini diakui salah satu pelaku usaha roti di Nunukan, Siti Rahma, yang menyebut harga bahan baku terus mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir.
“Kami terpaksa menyesuaikan harga jual, karena biaya produksi ikut naik,” katanya.
Di sisi lain, Nunukan perlahan bangkit dari dampak bencana banjir yang sempat melanda beberapa kecamatan seperti Lumbis dan Sembakung.
Kepala Pelaksana BPBD Nunukan, Arief Budiman, menyampaikan bahwa kondisi saat ini sudah mulai normal.
“Status tanggap darurat sudah dicabut, dan masyarakat mulai kembali beraktivitas seperti biasa,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan potensi bencana hidrometeorologi masih cukup tinggi, terutama saat perubahan cuaca ekstrem.
Permasalahan lain yang tak kalah krusial adalah ketersediaan air bersih, khususnya di wilayah Pulau Sebatik.
Camat Sebatik Timur, Abdul Rahman, mengungkapkan bahwa krisis air masih dirasakan masyarakat akibat terbatasnya sumber air dan minimnya curah hujan.
“Kami berharap ada solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan air bersih ini,” tuturnya.
Dari aspek keamanan, aparat terus meningkatkan pengawasan guna menekan angka kriminalitas, termasuk peredaran narkoba yang masih menjadi perhatian di kawasan perbatasan.
Meski demikian, sejumlah sektor mulai menunjukkan harapan. Komoditas unggulan seperti rumput laut mengalami peningkatan harga, memberikan angin segar bagi perekonomian masyarakat pesisir.
Pemerintah daerah pun diharapkan mampu mempercepat penanganan berbagai persoalan tersebut melalui program pembangunan yang lebih merata dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, Nunukan saat ini berada dalam fase transisi bangkit dari berbagai tantangan, namun masih membutuhkan perhatian serius agar pembangunan dapat berjalan optimal dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. (*)
Reporter: Soni Irnada
Editor: Endah Agustina







