benuanta.co.id, TARAKAN – Tingginya jumlah kunjungan pasien menjadi salah satu tantangan pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Jusuf SK Tarakan. Dalam sehari, jumlah pasien yang datang dapat mencapai sekitar 500 hingga 600 orang dari 26 poliklinik.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan, dr. Budy Azis B, mengatakan tingginya jumlah pasien membuat antrean tidak sepenuhnya dapat dihindari.
“Rata-rata kita 500-600 pasien. Semua dari 26 poli,” sebutnya.
Menurutnya, persoalan antrean tidak hanya terjadi pada pelayanan poliklinik. Keterbatasan ruang juga menjadi tantangan ketika pasien membutuhkan rawat inap. Kondisi tersebut biasanya semakin terasa ketika terjadi lonjakan kasus penyakit, seperti demam berdarah dengue (DBD), maupun setelah momentum Idulfitri dan Iduladha.
Ketika seluruh tempat tidur penuh, pasien terpaksa menunggu di UGD. Namun, Budy menegaskan pasien tetap mendapatkan pelayanan medis selama menunggu ketersediaan kamar. “Kadang nunggu di UGD. Tapi nunggu di UGD artinya bukan tidak kita rawat,” ungkapnya.
Guna mengendalikan antrean rawat jalan, rumah sakit kini menerapkan pendaftaran melalui Mobile JKN bagi pasien peserta BPJS Kesehatan. Sistem tersebut memungkinkan rumah sakit mengatur jumlah pasien sesuai kapasitas masing-masing poli dan tenaga medis.
Dirinya mencontohkan pelayanan fisioterapi. Dengan jumlah dokter yang terbatas, waktu pelayanan setiap pasien harus diperhitungkan agar beban tenaga medis tetap realistis.
“Kalau dokternya cuma satu, berarti 10 menit dikali sampai jam 4 sore, cuma 80 pasien. Tidak boleh lebih dari itu. Kalau lebih, kasihan dokternya pulang jam berapa,” jelasnya.
Keterbatasan ruang juga membuat rumah sakit kesulitan menambah jumlah poliklinik maupun membuka pelayanan baru. Menurut Budy, sebagian besar ruang rumah sakit saat ini telah terpakai.
“Poli saja kita masih kurang. Sepit-sepitan di ruangan itu,” ungkapnya.
Kondisi serupa terjadi pada pelayanan farmasi. Jumlah pasien yang mengambil obat disebut berada di kisaran 500 hingga 600 orang per hari. Untuk mengurangi penumpukan, RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan tengah menyiapkan konsep apotek satelit yang nantinya dikhususkan bagi kelompok tertentu, termasuk pasien lanjut usia dan penyandang disabilitas.
Dengan pemisahan tersebut, pasien lansia dan penyandang disabilitas diharapkan tidak perlu bercampur dalam antrean apotek utama. Ia mengatakan penambahan tenaga di apotek juga telah dilakukan. Jika sebelumnya terdapat sekitar 10 petugas, kini jumlahnya telah ditambah menjadi sekitar 20 orang.
Namun, penambahan tenaga belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan karena keterbatasan ruang tetap menjadi kendala. “Tidak ada ruangan kosong, penuh. Poli saja kita masih kurang,” katanya.
Dalam jangka panjang, rumah sakit telah menyiapkan rencana pembangunan gedung baru di bagian belakang kompleks rumah sakit. Namun, pembangunan tersebut masih membutuhkan proses dan anggaran sehingga belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina







