benuanta.co.id, TARAKAN – Meski Kalimantan Utara (Kaltara) tidak termasuk wilayah yang terdampak langsung fenomena El Nino, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya titik panas (hotspot) yang dapat memicu Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Pasalnya, dampak kebakaran di provinsi tetangga juga dapat menurunkan kualitas udara di Kaltara.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan, M. Sulam Khilmi, mengatakan fenomena El Nino diperkirakan memasuki fase kuat pada Agustus hingga September 2026. Namun, dampaknya di Pulau Kalimantan tidak merata.
“Yang berdampak signifikan yaitu Provinsi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan sebagian Kalimantan Timur. Sedangkan Kalimantan Utara tidak terdampak langsung karena merupakan wilayah dengan karakteristik hujan sepanjang tahun,” ujarnya.
Kendati demikian, penguatan El Nino tetap dapat meningkatkan potensi kemunculan hotspot ketika suatu wilayah tidak diguyur hujan selama beberapa hari berturut-turut.
Ia mengatakan, kondisi tersebut juga berlaku di Kalimantan Utara, termasuk Kota Tarakan. Berdasarkan karakteristik cuaca di daerah ini, potensi hotspot mulai muncul apabila hujan tidak turun lebih dari tiga hari.
“Ketika lebih dari tiga hari tidak hujan, bahkan sampai empat atau lima hari, di beberapa lokasi sudah bisa berpotensi muncul hotspot. Karena itu masyarakat diminta tidak melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan munculnya titik panas,” terangnya.
Hingga saat ini, BMKG belum mendeteksi adanya hotspot di wilayah Kalimantan Utara. Kondisi tersebut menunjukkan situasi masih relatif aman meskipun fenomena El Nino mulai menguat.
“Untuk sampai hari ini di Provinsi Kalimantan Utara belum terpantau hotspot,” ungkapnya.
Meski tidak terjadi kebakaran di Kalimantan Utara, Sulam mengingatkan masyarakat tetap perlu mewaspadai dampak tidak langsung apabila Karhutla terjadi di provinsi tetangga. Sebaran asap dari wilayah lain berpotensi terbawa angin menuju Kalimantan Utara sehingga memengaruhi kualitas udara.
“Kalau di beberapa provinsi tetangga terjadi karhutla, dampak tidak langsungnya kualitas udara kita bisa semakin menurun karena adanya sebaran asap dari daerah tersebut,” jelasnya.
Menurutnya, penurunan kualitas udara akibat asap Karhutla bukan hanya mengganggu kenyamanan masyarakat, tetapi juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Ia menyebutkan, salah satu penyakit yang berpotensi meningkat akibat paparan asap adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Kalau sudah ada karhutla, kualitas udara akan menurun. Pada prosesnya, kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko penyakit ISPA,” katanya.
Selain berdampak terhadap kesehatan, asap Karhutla juga dapat mengganggu aktivitas transportasi. Jarak pandang yang berkurang akibat kabut asap berpotensi memengaruhi operasional transportasi udara maupun transportasi perairan.
“Karhutla juga dapat mengganggu lalu lintas transportasi, baik udara maupun di perairan,” tambahnya.
Oleh itu, BMKG mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan aktivitas lain yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan, terutama saat cuaca panas dan hujan tidak turun selama beberapa hari.
Selain itu, masyarakat juga diminta menyesuaikan aktivitas selama periode penguatan El Nino karena suhu udara diperkirakan lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
“Bagaimanapun musim kemarau yang dibarengi fenomena El Nino akan membuat suhu udara lebih tinggi. Masyarakat harus menyesuaikan aktivitas dan menghindari kegiatan yang dapat menyebabkan kebakaran hutan dan lahan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Ramli







