benuanta.co.id, TARAKAN – Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kalimantan Utara mulai diarahkan untuk melihat peluang kerja yang lebih luas, termasuk pasar kerja luar negeri. Upaya tersebut dilakukan dengan memperkuat kompetensi lulusan sekaligus membuka kerja sama dengan lembaga yang memiliki akses terhadap peluang kerja internasional.
Hal tersebut mengemuka dalam Forum Konsultasi Publik Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2026 yang digelar beberapa waktu lalu. Dalam forum tersebut, penguatan vokasi juga diarahkan pada kerja sama dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kaltara untuk membuka peluang kerja bagi lulusan SMK.
Kepala Bidang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Utara, Hj. Arinda Susanti, S.Pd., mengungkapkan pengembangan pendidikan vokasi tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan dunia kerja, termasuk peluang kerja di luar negeri. Karena itu, sekolah perlu membangun kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperluas kesempatan bagi lulusannya.
“Kita memang harus bekerja sama dengan dunia kerja,” ungkapnya.
Menurut Arinda, kerja sama tersebut menjadi penting karena pendidikan vokasi tidak hanya bertujuan menghasilkan lulusan yang menyelesaikan pendidikan, tetapi juga memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
“Vokasi itu berkaitan dengan penyediaan tenaga kerja,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Kaltara memiliki 34 SMK yang tersebar di lima kabupaten/kota dengan 10 bidang keahlian dan 43 konsentrasi keahlian. Keberagaman bidang tersebut menjadi modal untuk menyesuaikan lulusan dengan kebutuhan pekerjaan, termasuk peluang yang tersedia di luar daerah maupun luar negeri.
“Kita punya 34 SMK di lima kabupaten/kota,” jelasnya.
Arinda menegaskan, pengembangan kompetensi siswa harus berjalan seiring dengan keterlibatan dunia usaha, dunia industri, serta lembaga terkait. Siswa tidak cukup hanya memperoleh keterampilan melalui pembelajaran di sekolah, tetapi juga perlu mendapatkan pengalaman dan informasi mengenai kebutuhan pekerjaan yang sebenarnya.
“Siswa tidak cukup belajar dari guru,” tegasnya.
Salah satu bentuk pengembangan tersebut ialah membuka akses kerja sama dengan BP3MI. Melalui kolaborasi tersebut, lulusan SMK dapat memperoleh informasi dan diarahkan pada peluang kerja yang sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.
“Kita juga melakukan kerja sama dengan BP3MI,” tukasnya.
Peluang tersebut kemudian diperkuat BP3MI Kaltara melalui program SMK Go Global. Ketua Tim Kelembagaan dan Kerja Sama BP3MI Kalimantan Utara, Usman Affan, mengatakan program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas alumni SMK berdasarkan jurusan dan jabatan yang tersedia di negara tujuan.
“Bagi anak-anak kita alumni SMK, sesuai dengan jurusan dan sesuai dengan jabatan yang ada di luar negeri,” imbuhnya.
Usman menjelaskan, program SMK Go Global tidak sekadar memberikan informasi mengenai lowongan pekerjaan luar negeri. Calon pekerja juga akan mendapatkan peningkatan kemampuan teknis dan bahasa asing yang disesuaikan dengan pekerjaan serta negara tujuan penempatan.
“Kita membuat program itu diberikan pelatihan baik itu pelatihan teknis maupun bahasa asing sesuai dengan job dan tujuan negara penempatan,” tuturnya.
Ia mencontohkan bidang hospitality, khususnya housekeeping, sebagai salah satu kompetensi yang memiliki peluang untuk diarahkan ke pasar kerja luar negeri. Salah satu negara yang disebut memiliki peluang untuk bidang tersebut adalah Turki.
“Sebagai contoh seperti untuk hospitality, khususnya housekeeping, peluang kerja itu di Turki,” katanya.
Menurut Usman, kemampuan bahasa asing juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan calon pekerja. Pembekalan akan disesuaikan dengan negara tujuan, sementara kompetensi utama sesuai bidang pekerjaan tetap menjadi dasar.
“Kalau negara tujuannya ke Korea, kita harus siapkan bahasa Korea. Tetap berkompetensi BNSP,” bebernya.
Arinda menambahkan, kesiapan lulusan untuk memasuki pasar kerja global juga harus didukung peningkatan kompetensi tenaga pendidik dan penyesuaian pembelajaran dengan perkembangan kebutuhan industri. Hal tersebut penting karena dunia kerja terus mengalami perubahan, termasuk akibat perkembangan teknologi.
“Kita perlu upskilling dan reskilling guru,” tuturnya.
Sementara itu, BP3MI Kaltara masih melakukan pemetaan terhadap potensi lulusan dan kebutuhan tenaga kerja yang dapat diproyeksikan melalui program tersebut. Pemetaan diperlukan agar kompetensi lulusan dapat disesuaikan dengan jabatan dan persyaratan yang tersedia di negara tujuan.
“Kita masih terus memetakan, paling tidak untuk tahun depan persiapannya,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







