benuanta.co.id, BULUNGAN – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Utara (Kaltara) memperkuat pengawasan di wilayah perbatasan dan jalur masuk internasional menyusul tingginya kerawanan peredaran narkotika di provinsi tersebut. Di tengah keterbatasan personel, BNN mengandalkan sinergi dengan berbagai instansi serta memperluas edukasi kepada masyarakat.
Kepala BNNP Kaltara, Brigjen Pol. Abdul Hasyim, S.H., M.Si. mengatakan, peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026 menjadi momentum untuk menguatkan komitmen seluruh jajaran BNN dalam memerangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.
“Melalui Hari Anti Narkotika Internasional ini, seluruh jajaran BNN semakin bersemangat bekerja keras memerangi penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Dampaknya sangat berbahaya, terutama bagi generasi muda,” ujarnya usai mengikuti peringatan HANI 2026 di Tanjung Selor, Rabu (23/7/2026)
Menurutnya, Kaltara memiliki tingkat kerawanan yang tinggi karena berbatasan langsung dengan Malaysia. Selain memiliki lima daerah administratif, provinsi ini juga mempunyai garis pantai yang mencapai sekitar 7.500 kilometer sehingga menjadi tantangan tersendiri dalam pengawasan. Di sisi lain, jumlah personel BNNP Kaltara masih sangat terbatas, yakni sekitar 50 orang. Sementara BNN Kabupaten baru terbentuk di Bulungan dan Tarakan.
“Karena keterbatasan itu, kami harus terus bersinergi, berkolaborasi, dan berkoordinasi dengan Polda Kaltara, TNI, Bea Cukai, serta pihak bandara dan pelabuhan untuk mempersempit ruang gerak jaringan narkotika,” katanya.
Ia menambahkan, pengawasan juga diperketat di sejumlah pelabuhan internasional maupun pelabuhan rakyat yang berpotensi menjadi jalur masuk narkoba. Nurhadi mengungkapkan, hingga kini para pelaku masih menggunakan modus lama dengan menyamarkan narkotika ke dalam kemasan makanan dan minuman. Dalam beberapa kasus, petugas menemukan narkotika yang dikemas menyerupai permen, teh, hingga susu.
“Modusnya belum banyak berubah. Barang haram itu disamarkan dalam kemasan makanan atau minuman agar tidak menimbulkan kecurigaan. Karena itu pengawasan di bandara dan pelabuhan terus kami tingkatkan,” ujarnya.
Selain penindakan, BNNP Kaltara terus mengedepankan langkah pencegahan melalui edukasi. Program Aksi Nasional Bersih Narkoba (Anak Bersinar) dan pembentukan penggiat antinarkoba di sekolah terus digencarkan agar anak-anak memahami bahaya narkotika sejak usia dini.
“Kami ingin anak-anak mengenal bahaya narkoba sejak dini sehingga mereka memiliki keberanian untuk menolak narkoba. Pencegahan harus dimulai dari sekolah, keluarga, hingga masyarakat,” katanya.
Data BNNP Kaltara mencatat, sejak 2024 hingga pertengahan 2026 terdapat 67 pelaku tindak pidana narkotika yang berhasil ditangkap. Sementara itu, sekitar kurang lebih 200 orang telah menjalani rehabilitasi, baik melalui rawat jalan maupun rawat inap. Angka tersebut merupakan data pengguna yang telah teridentifikasi dan belum mencerminkan keseluruhan penyalahguna narkotika di Kaltara.
“Kami berharap angka peredaran maupun penyalahgunaan narkoba terus menurun. Syukur-syukur bisa mencapai nol, meski itu membutuhkan kerja keras seluruh pihak,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ike Julianti
Editor: Endah Agustina







