benuanta.co.id, TARAKAN – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) meresmikan pasar ikan higienis sekaligus menggelar pasar ikan murah di Pelabuhan Perikanan Tengkayu II, Ahad (3/5/2026).
Peresmian ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas fasilitas perdagangan ikan sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Utara, Rukhi Syayahdin, S.ST.Pi., mengungkapkan pembangunan pasar ikan tersebut merupakan hasil sinergi antara anggaran pusat dan daerah yang dilakukan secara bertahap sejak beberapa tahun terakhir.
“Wujud fisik pasar ikan higienis ini merupakan hasil pembangunan yang berkelanjutan dan sinergi antara anggaran pusat dan anggaran daerah,” ungkapnya, Ahad (3/5/2026).
Ia merinci, pembangunan dimulai pada 2021 melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) berupa bangunan dasar. Kemudian pada 2023 dilakukan penambahan sarana operasional seperti keranjang ikan, motor roda tiga, hingga perlengkapan pendukung lainnya.
“Selanjutnya pada tahun 2025 hingga 2026 melalui APBD Provinsi Kalimantan Utara kami melakukan penyempurnaan, termasuk sistem sanitasi tertutup dan pengadaan meja stainless steel,” jelasnya.
Secara fisik, pasar ikan ini berdiri di atas lahan berukuran 30 x 15 meter dan mampu menampung sekitar 20 pedagang ikan. Fasilitas tersebut dilengkapi meja stainless steel untuk menunjang aktivitas jual beli yang lebih bersih dan tertata.
“Dengan luas tersebut, fasilitas ini mampu mengakomodir sekitar 20 pelaku atau penjual ikan,” sebutnya.
Konsep utama yang diusung adalah pasar ikan bersih dan sehat, dengan penekanan pada sistem drainase yang baik dan penggunaan material higienis. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kesan kumuh yang selama ini melekat pada pasar ikan.
“Kami berupaya meminimalisir genangan air, menghilangkan bau tidak sedap, serta meningkatkan kenyamanan bagi penjual dan pembeli,” tegasnya.
Dalam rangkaian peresmian, DKP Kaltara juga menggelar pasar ikan murah yang menyediakan berbagai jenis ikan laut dengan harga lebih terjangkau dibandingkan harga pasar. Program ini mendapat dukungan dari para pelaku usaha perikanan setempat.
“Harga yang ditawarkan lebih rendah sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000 dibandingkan harga pasar pada umumnya,” sebutnya.
Rukhi juga menambahkan, meski bangunan pasar telah ada sejak 2021, kelengkapan sarana dan prasarana baru terpenuhi secara menyeluruh pada tahun ini. “Bangunan ini sebenarnya sudah lama, tetapi sarana prasarana lainnya belum lengkap, dan sekarang sudah kita lengkapi semuanya,” terangnya.
Lebih lanjut, Rukhi menekankan kehadiran pasar ikan higienis ini diharapkan mampu mengubah citra pasar ikan yang selama ini identik dengan bau dan kotor. “Kita ingin mengubah image pasar ikan menjadi lebih bersih, nyaman, dan higienis,” tegasnya.
Dari sisi teknis, sistem drainase menjadi perhatian utama agar tidak terjadi genangan air di area pasar. Bahkan, perbaikan terus dilakukan setelah uji coba saat hujan. “Drainase sudah kita atur, tidak ada lagi air tergenang setelah kita lakukan perbaikan,” ujarnya.
Pasar ini juga beroperasi setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 21.00 WITA untuk melayani kebutuhan masyarakat. Selain itu, jenis ikan yang dijual disesuaikan dengan daya beli masyarakat, berbeda dengan ikan bernilai tinggi yang umumnya diekspor.
“Ikan yang dijual di sini adalah ikan yang terjangkau bagi masyarakat seperti ikan layang dan bandeng,” bebernya.
Terkait harga, ia menegaskan, perbedaan harga hanya berlaku saat program pasar ikan murah berlangsung. “Untuk pasar ikan murah khusus untuk hari ini saja, agar menarik minat masyarakat, bebernya.
Menurutnya, terselenggaranya pasar ikan murah tidak terlepas dari kolaborasi dengan mitra strategis, termasuk pengusaha perikanan di kawasan Pelabuhan Perikanan Tengkayu II. “Kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi aktif seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini,” pungkasnya.
Peresmian pasar ikan higienis ini diharapkan menjadi awal perubahan tata kelola pasar ikan di Tarakan menuju standar yang lebih bersih, sehat dan modern. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina







