benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Utara mencatat total 119 kejadian bencana sepanjang Januari hingga Maret 2026 yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di wilayah tersebut.
Kepala BPBD Kalimantan Utara, Andi Amriampa, mengungkapkan jumlah tersebut mencerminkan tingginya dinamika bencana di awal tahun, dengan variasi jenis kejadian yang cukup beragam. Ia menjelaskan bahwa bencana tidak hanya didominasi satu jenis, melainkan tersebar pada beberapa kategori utama yang perlu diwaspadai secara bersamaan.
“Sebaran 119 kejadian ini menunjukkan bahwa potensi bencana di Kaltara cukup kompleks dan terjadi hampir di semua wilayah,” ungkapnya, Kamis (30/4/2026).
Berdasarkan data, tanah longsor menjadi salah satu jenis bencana yang paling sering terjadi dengan total 21 kejadian atau sekitar 18 persen dari keseluruhan. Selain itu, cuaca ekstrem juga menunjukkan angka signifikan dengan 17 kejadian atau 14 persen, yang terdiri dari peristiwa pohon tumbang, kekeringan, dan hawa panas. Kondisi ini menggambarkan pengaruh faktor alam dan perubahan cuaca terhadap meningkatnya risiko bencana di daerah.
“Tanah longsor dan cuaca ekstrem menjadi indikator penting karena berkaitan langsung dengan kondisi geografis dan perubahan iklim,” ujarnya.
Bencana lainnya yang turut tercatat antara lain banjir sebanyak 12 kejadian (10 persen), kebakaran bangunan 14 kejadian (12 persen), serta gempa bumi yang tercatat sebanyak 2 kejadian (2 persen). Sementara itu, kategori lain yang membahayakan manusia seperti kecelakaan transportasi, orang hilang, dan rumah roboh mencapai 10 kejadian atau sekitar 8 persen. Hal ini menunjukkan bahwa risiko kebencanaan tidak hanya berasal dari faktor alam, tetapi juga dari peristiwa non-alam yang berdampak langsung pada keselamatan masyarakat.
“Kejadian non-alam juga menjadi perhatian karena menyangkut keselamatan jiwa dan perlu penanganan cepat,” jelasnya.
Dari sisi sebaran wilayah, Kabupaten Bulungan, Nunukan, dan Kota Tarakan menjadi daerah dengan jumlah kejadian relatif tinggi, khususnya pada kategori tanah longsor dan kejadian terkait cuaca ekstrem. Sementara Kabupaten Malinau dan Tana Tidung mencatat jumlah yang lebih rendah, meskipun tetap menunjukkan adanya potensi bencana di wilayah tersebut.
“Setiap daerah memiliki karakteristik risiko yang berbeda sehingga penanganannya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing,” katanya.
Khusus pada bulan Maret 2026, BPBD mencatat sebanyak 40 kejadian bencana dengan rincian tanah longsor 7 kejadian, banjir 3 kejadian, gempa bumi 1 kejadian, serta pohon tumbang 4 kejadian. Selain itu, terdapat pula kejadian kebakaran bangunan dan orang hilang masing-masing sebanyak 4 kasus, yang menunjukkan bahwa intensitas bencana masih cukup tinggi dalam satu bulan terakhir.
“Dalam satu bulan saja terdapat 40 kejadian, ini menandakan bahwa kewaspadaan harus terus ditingkatkan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Kota Tarakan tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak pada bulan Maret, yakni 16 kejadian, disusul Kabupaten Bulungan dengan 12 kejadian, dan Nunukan sebanyak 6 kejadian. Kabupaten Malinau mencatat 4 kejadian, sementara Tana Tidung sebanyak 2 kejadian. Distribusi ini menunjukkan adanya konsentrasi kejadian di wilayah tertentu yang memerlukan perhatian khusus dalam upaya mitigasi.
“Wilayah dengan frekuensi tinggi harus menjadi prioritas dalam penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan,” bebernya.
BPBD Provinsi Kalimantan Utara menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana yang terus meningkat. Upaya mitigasi, edukasi, serta kesiapsiagaan dinilai menjadi kunci utama untuk mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan di masa mendatang.
“Kesiapsiagaan bersama adalah langkah utama untuk meminimalkan dampak bencana di Kalimantan Utara,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







