benuanta.co.id, TARAKAN – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) terus mendorong penguatan sektor perikanan melalui kehadiran pasar ikan higienis di Pelabuhan Perikanan Tengkayu II, Kota Tarakan.
Fasilitas ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas perdagangan ikan, tetapi juga menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
Staf Ahli Gubernur Kalimantan Utara Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Hubungan Antar Lembaga, Wahyuni Nuzband, M.A.P., mengungkapkan kehadiran pasar ikan higienis bertujuan memastikan masyarakat mendapatkan akses terhadap ikan yang lebih berkualitas.
Ia menilai langkah ini penting untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing daerah.
“Untuk memastikan bahwa masyarakat khususnya di Kota Tarakan mendapatkan akses terhadap ikan yang lebih bersih, lebih sehat, dan dengan harga yang lebih terjangkau,” ungkapnya, Ahad (3/5/2026).
Ia mengatakan, pengembangan pasar ini juga menjadi bagian dari strategi menjadikan Tarakan sebagai pusat perdagangan perikanan di wilayah perbatasan yang modern dan tertata. Dengan kondisi tersebut, kepercayaan masyarakat terhadap kualitas ikan diharapkan meningkat.
“Kita juga ingin membuat posisi Kota Tarakan sebagai pusat perdagangan hasil perikanan di wilayah perbatasan yang modern, tertata, dan berdaya saing,” katanya.
Menurutnya, keberadaan pasar ikan higienis akan memberikan dampak berantai terhadap aktivitas ekonomi, mulai dari meningkatnya transaksi hingga bertambahnya pendapatan pedagang. Ia optimistis konsumsi ikan masyarakat juga akan ikut terdorong.
“Kehadiran pasar ikan higienis ini kita harapkan benar-benar bisa menjawab kebutuhan masyarakat, sehingga kepercayaan meningkat, aktivitas transaksi semakin ramai, pendapatan pedagang meningkat, dan konsumsi ikan masyarakat juga bertambah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Wahyuni menekankan pentingnya konsumsi ikan sebagai bagian dari peningkatan gizi masyarakat. Ia menyebut pemerintah hadir melalui program pasar ikan murah dan penguatan distribusi untuk menjaga stabilitas harga.
“Hal ini penting karena konsumsi ikan yang baik akan berkontribusi terhadap peningkatan gizi masyarakat, sehingga pemerintah hadir agar harga bisa lebih stabil dan terjangkau,” tegasnya.
Selain itu, ia mendorong pengembangan produk olahan berbasis perikanan sebagai peluang bagi pelaku usaha, khususnya UMKM. Menurutnya, sektor perikanan tidak boleh berhenti pada aktivitas penangkapan dan penjualan ikan segar semata.
“Tidak hanya menjual ikan segar, tetapi juga mengembangkan produk olahan seperti abon ikan, kerupuk ikan, dan lainnya sebagai peluang besar bagi UMKM,” bebernya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kesejahteraan nelayan dan kelestarian lingkungan melalui praktik perikanan berkelanjutan. “Kesejahteraan nelayan dan kelestarian lingkungan harus berjalan seimbang agar sumber daya laut tetap terjaga,” ujarnya.
Wahyuni menilai posisi Tarakan yang strategis sebagai wilayah perbatasan menjadi peluang besar dalam pengembangan sektor perikanan yang lebih kompetitif. Ia berharap pasar ikan higienis dapat menjadi simbol perubahan menuju sistem perdagangan yang lebih baik.
“Mari kita jadikan pasar ini bukan hanya tempat jual beli, tetapi simbol perdagangan yang lebih bersih, ekonomi yang lebih kuat, dan masyarakat yang lebih sehat,” imbuhnya.
Berdasarkan pemantauan langsung di lapangan, ia mengungkapkan antusiasme masyarakat terhadap pasar ikan murah sangat tinggi sejak pagi hari. Bahkan, beberapa pedagang sempat kehabisan stok karena tingginya permintaan.
“Antusias masyarakat sangat luar biasa, dari pagi bahkan ada pedagang yang sempat kehabisan stok, namun syukurnya stok kembali datang,” lanjutnya.
Ia merinci perbedaan harga sejumlah komoditas ikan yang dijual lebih murah dibandingkan pasar umum. Di antaranya, ikan dengan harga sekitar Rp25 ribu atau selisih Rp10 ribu, udang galah yang biasanya Rp90 ribu hingga Rp100 ribu dijual sekitar Rp80 ribu, serta bawal putih yang dijual Rp65 ribu per kilogram dari harga normal Rp75 ribu.
“Memang ada selisih harga sekitar Rp10 ribu, sehingga masyarakat sangat terbantu,” sebutnya.
Selain itu, ia juga menyebut jenis ikan lain seperti yang biasanya dijual Rp40 ribu dapat dibeli sekitar Rp30 ribu di pasar tersebut. Menurutnya, kondisi ini menjadi bukti nyata intervensi pemerintah dalam menjaga keterjangkauan harga.
“Ada juga ikan yang biasanya Rp40 ribu, di sini bisa Rp30 ribu, ini tentu sangat membantu masyarakat,” sebutnya.
Wahyuni turut menyoroti peran komoditas ikan terhadap inflasi daerah, seperti bandeng yang berkontribusi sekitar 0 hingga 0,5 persen dan ikan layang sekitar 0 hingga 0,9 persen. Dengan adanya pasar ikan higienis, ia berharap pengendalian harga dapat dilakukan lebih optimal.
“Komoditas seperti bandeng dan ikan layang itu menyumbang inflasi, sehingga pasar ini diharapkan bisa membantu mengendalikan harga,” tambahnya.
Wahyuni turut menyinggung pentingnya peningkatan standar mutu dan fasilitas pendukung, termasuk di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), agar kualitas ikan yang dipasarkan memenuhi standar minimal.
“Kita harapkan ke depan sarana prasarana UPTD dapat dilengkapi sehingga mampu memberikan pelayanan optimal dan memenuhi standar mutu,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina







