BMKG Prediksi Kemarau 2026 Wilayah Kaltara, Musim Kering Datang Bertahap

benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas III Tanjung Harapan secara resmi memaparkan Prediksi Musim Kemarau 2026 Provinsi Kalimantan Utara dalam kegiatan daring melalui Zoom Meeting, Rabu (29/4/2026) pukul 10.00 WITA. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Meteorologi Dunia ke-76 yang mengusung tema Observing Today, Protecting Tomorrow.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Tanjung Harapan, Abdul Haris Zulkarnaen, ST, mengungkapkan awal musim kemarau di Kalimantan Utara (Kaltara) tidak datang serentak, melainkan berlangsung bertahap mulai Mei hingga Agustus 2026 sesuai karakteristik masing-masing wilayah. Ia mengatakan pola musim di Kaltara berbeda antara kawasan pesisir, perkotaan, hingga pedalaman.

“Awal musim kemarau di Kalimantan Utara terjadi secara bertahap sesuai karakteristik wilayah masing-masing,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Ia menjelaskan, wilayah Kota Tarakan dan sebagian Kabupaten Bulungan diprediksi menjadi daerah yang lebih awal memasuki musim kemarau, yakni mulai Mei hingga Juni 2026. Sementara Kabupaten Tana Tidung dan sebagian wilayah Malinau diperkirakan menyusul pada Juni sampai Juli 2026.

“Beberapa wilayah pesisir cenderung lebih cepat memasuki musim kemarau dibanding wilayah pedalaman,” jelasnya.

Untuk wilayah pedalaman dan dataran tinggi seperti sebagian besar Kabupaten Malinau serta Nunukan bagian utara, awal musim kemarau diperkirakan datang lebih lambat, yakni sekitar Juli hingga Agustus 2026. Hal itu dipengaruhi kondisi geografis serta masih tingginya peluang hujan lokal di daerah tersebut.

“Wilayah pedalaman umumnya lebih lambat memasuki musim kemarau,” bebernya.

Meski demikian, berdasarkan analisis BMKG pada Dasarian I Mei 2026 atau periode sepuluh hari pertama Mei, sebagian besar wilayah Kalimantan Utara masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas menengah. Kondisi ini menunjukkan masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau masih berlangsung.

“Pada dasarian pertama Mei, sebagian besar wilayah Kalimantan Utara masih berpotensi turun hujan dengan intensitas menengah,” imbuhnya.

Ia menerangkan, hujan yang masih terjadi di awal Mei dipengaruhi kondisi atmosfer yang masih cukup mendukung pertumbuhan awan hujan. Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung menganggap seluruh wilayah telah memasuki musim kemarau.

“Meskipun menuju musim kemarau, potensi hujan masih tetap ada dan perlu diwaspadai,” katanya.

Selain potensi hujan, BMKG juga memprediksi sifat hujan di Kalimantan Utara pada periode tersebut secara umum berada pada kategori atas normal. Artinya, jumlah curah hujan yang turun diperkirakan lebih tinggi dibandingkan rata-rata klimatologis pada waktu yang sama.

“Secara umum sifat hujan di Kalimantan Utara masih diprediksi atas normal,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, Abdul Haris menyebut dinamika iklim global turut menjadi perhatian pada 2026. Salah satu fenomena yang dipantau adalah El Nino, yang diprediksi memiliki peluang berkembang dengan kategori lemah hingga sedang pada pertengahan tahun. Fenomena ini dikenal dapat menurunkan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia apabila berkembang signifikan.

“El Nino berpeluang terjadi sehingga perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pola hujan,” lanjutnya.

Selain El Nino, BMKG juga memprediksi munculnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif mulai Mei 2026 dan berpotensi bertahan hingga semester kedua tahun ini. Kondisi IOD positif biasanya menyebabkan berkurangnya pasokan uap air ke wilayah Indonesia bagian barat dan selatan sehingga dapat memicu penurunan hujan di beberapa daerah.

“IOD positif diprakirakan mulai Mei dan dapat berlangsung sampai semester kedua 2026,” tuturnya.

Menurut Abdul Haris, dampak gabungan El Nino dan IOD positif terhadap Kalimantan Utara tidak akan seragam di setiap daerah. Hal itu karena Kalimantan Utara memiliki karakteristik wilayah dan pola musim yang berbeda-beda.

“Dampaknya tidak sama di tiap wilayah karena masing-masing daerah memiliki kondisi musim yang berbeda,” katanya.

Ia menambahkan, Kalimantan Utara memiliki tujuh Zona Musim (ZOM) dengan pola hujan monsunal. Dengan kondisi tersebut, awal musim kemarau di setiap kabupaten/kota tidak datang secara bersamaan, melainkan bertahap sesuai karakter wilayah masing-masing.

“Kalimantan Utara memiliki tujuh zona musim, sehingga waktu masuk musim kemarau berbeda antarwilayah,” terangnya.

Wilayah yang memiliki pola musim lebih jelas diperkirakan lebih dahulu memasuki kemarau, sementara daerah yang masih dipengaruhi hujan lokal berpotensi mengalami musim kemarau lebih lambat. Karena itu, masyarakat diminta memahami bahwa prakiraan musim bisa berbeda antara satu daerah dengan daerah lain di Kaltara.

“Masyarakat perlu melihat informasi cuaca sesuai wilayah masing-masing,” terangnya.

BMKG juga mengimbau pemerintah daerah agar menggunakan data prakiraan musim dalam menyusun kebijakan mitigasi bencana, terutama terkait kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta pengelolaan sumber daya air. Sektor pertanian juga diminta menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi cuaca tahun ini.

“Informasi musim ini penting untuk perencanaan pemerintah dan sektor pertanian,” imbaunya.

Selain itu, pelaku transportasi laut, nelayan, dan masyarakat umum diingatkan untuk terus memantau informasi cuaca harian karena kondisi atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu. BMKG meminta masyarakat mengakses informasi resmi melalui kanal yang tersedia.

“Kami mengajak masyarakat rutin memantau pembaruan informasi cuaca agar dapat melakukan antisipasi sejak dini,” tutupnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *