Soal Jenazah Covid-19, Begini Cerita Keluarga Pasien dan Klarifikasi Dirut RSUD Akhmad Berahim

benuanta.co.id, KTT – Keluarga pasien Covid-19 yang meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Akhmad Berahim KTT sedang hangat diperbincangkan, belakangan ini. Sebab, pihak keluarga merasa kecewa dengan pelayanan RSUD terhadap pasien Covid-19 yang meninggal lantaran tidak diurus dengan baik. Tak hanya itu, Direktur Utama (Dirut) RSUD Akhmad Berahim, dr Budi pun ikut mengklarifikasi kejadian tersebut.

Bermula dari akun Facebook @Mami Syariah Colection yang mengeluhkan pelayanan RSUD Akhmad Berahim KTT yang dianggapnya cukup membingungkan pihak keluarga. Sebab, pasien atas nama Masnun yang masuk dengan riwayat penyakit dinyatakan positif Covid-19 pada Selasa, 3 Agustus 2021 lalu.

“Awalnya Mama Tua saya itu muntah-muntah dan gulanya naik, beliau (Almarhum Masnun) ini menelpon pinjam mobil ke saya. Katanya mau ke praktik dokter di Sebiday, si dokter praktik ini merujuk ke rumah sakit (RSUD Akhmad Berahim). Setelah itu dibawa anak dua-duanya (Masnun dan suami) ke rumah sakit,” terang Mining yang akrab dikenal Mami Colection saat dihubungi benuanta.co.id pada Kamis, 12 Agustus 2021.

Sesampainya di RSUD Akhmad Berahim, sepasang suami istri tersebut langsung dites SWAB oleh petugas kesehatan rumah sakit. Hasil SWAB tersebut menyatakan keduanya positif Covid-19, lantaran almarhum Masnun homoglobin (Hb) menurun makan dipasangkan oksigen untuk membantu pernafasan.

Setelah menjalani dua hari perawatan di RSUD Akhmad Berahim, almarhum Masnun tampak sehat lantaran mendapatkan suplai oksigen. Ia pun sempat menyatakan dirinya sehat dan ingin pulang ke rumah.

“Merasa sehat dia (Almarhum Masnun) setelah dia mendapatkan oksigen. Hari ketiga itu dia drop, hari ke empat sesak nafas, hari kelima koma, dan hari ke enam meninggal,” terangnya.

“Saya sebenarnya waktu itu posisi lagi di Tarakan, temani adik lagi operasi. Dapat kabar begini (koma) dari keluarga di Sesayap, saya langsung berangkat. Baru juga saya sampai, sudah dengar kabar meninggal,” tambahnya.

Baca Juga : 

Setelah mendapat kabar tersebut, ia bergegas menuju RSUD Akhmad Berahim lalu mempertanyakan terkait proses pemakaman pasien meninggal Covid-19. Petugas RSUD Akhmad Berahim yang ditemuinya tersebut menyampaikan proses pemakaman pasien yang harus menggunakan peti serta proses lainnya yang telah ditentukan.

“Petugas itu bilang diizinkan dua keluarga untuk mendampingi pemandian jenazah. Setelah kami tahu begitu, agak lega hati kami karena bisa mendampingi almarhum meskipun hanya sekedar memandikan saja,” tukasnya.

Beberapa pihak keluarga yang berdatangan ke RSUD setelah mengetahui kabar duka tersebut pun kembali ke rumah, usai jenazah masuk ke ruang mayat. Namun begitu, janji petugas rumah sakit terkait ada pihak keluarga yang diperbolehkan ikut memandikan jenazah tak kunjung dikabarkan.

“Dari jam 12 malam kami tinggalkan tadi sampai jam 12 siang, saya kembali sangat sedih hati saya melihat jenazah Aya (Almarhum Masnun) saya dibiarkan di kamar mayat dengan kondisi masih mengenakan pakaiannya semasa hidup, belum juga diapa-apain. Itu yang merasa saya kecewa, saya sendiri yang melihatnya di ruang mayat lewat jendela,” ucapnya.

Setelah almarhum meninggal 09.15 malam, pihak keluarga sempat berdiskusi dengan petugas RSUD Akhmad Berahim terkait persiapan liang lahad dan proses lainya yang akan disiapkan pada pukul 6 pagi. Lantaran liang lahad sudah selesai dan menunggu kedatangan jenazah dari rumah sakit, sang adik yang lebih dulu mencari informasi terkait kedatangan jenazah di RSUD Akhmad Berahim malah mengetahui jenazah belum dimandikan.

“Dari keterangan adik itu katanya tidak ada yang kasih mandi di situ (RSUD Akhmad Berahim). Padahal tadi malam sudah dibahas semua, kami juga sudah siap kalau diminta mendampingi untuk memandikan. Ternyata di sana dilalaikan sampai jam 12 siang belum ada yang mandikan jenazah. Alasannya, tidak ada petugas yang memandikan jenazah perempuan di sana,” tuturnya.

Hal tersebut menambah bingung pihak keluarga lantaran jenazah sudah terbiarkan sekitar 12 jam lebih di dalam ruang mayat. Terlebih, pihak rumah sakit dianggap melalaikan harapan yang diberikan kepada keluarga almarhum terkait proses pemakaman. Tak lama berselang pihak keluarga kembali ke rumah sakit, dan secara bersamaan bertemu dengan petugas satgas Covid-19 yang mengaku baru mendapatkan kabar dari RSUD Akhmad Berahim terkait jenazah pukul 10 pagi.

“Kata petugas satgas itu dia baru tau jam 10 pagi, sementara keluarga kami ini meninggal jam 9 malam. Itu yang disampaikan kepada kami, kata orang rumah sakit itu (memandikan jenazah covid-19) tugas satgas. Sementara satgas bilang ke kami tugas mereka hanya menerima jenazah yang sudah divakum di dalam peti. Saya juga dalam hal ini tidak menyalahkan satgas, karena malam itu yang memberikan harapan untuk mengurus proses pemakaman jenazah ini adalah pihak rumah sakit,” paparnya.

Ia pun berharap kejadian tersebut tak lagi terulang, dan meminta pihak RSUD Akhmad Berahim ke depannya memberikan pelayanan yang terbaik dan tidak membuat bingung pihak keluarga pasien terlebih pasien meninggal Covid-19.

“Kalau memang meninggal karena Covid-19 biarlah kami ikhlas, tapi betul-betulah diurus jenazahnya. Jangan dibiarkan dengan alasan tidak ada petugas yang mengurus, karena ini orang meninggal jadi harus betul-betul diurus,” tuturnya.

Mengenai hal tersebut, Direktur Utama RSUD Akhmad Berahim, dr Budi menjelaskan hal tersebut bukan suatu kesengajaan pihak rumah sakit maupun pembiaran terhadap pasien. Terlebih, informasi yang beredar pun sempat menyatakan pasien dengan sengaja dicovidkan.

Pasien terdata masuk rumah sakit, dan mulai ditangani tenaga kesehatan sejak 3 Agustus 2021 dengan saturasi oksigen berada di angka 81. Sekedar informasi, saturasi oksigen merupakan tolak ukur kesehatan dalam menakar kadar oksigen dalam aliran darah. Normalnya, saturasi oksigen berada di atas angka 95.

“Setelah hasil saturasinya kita periksalah dengan antigen, dengan hasil positif. Penanganan langsung prokes masalah covid dan dimasukkan langsung di isolasi. Dalam dua hari itu stabil karena kita kasih penanganan terapi oksigen dan obat-obatan. Tanggal 6 itu mulai terjadi penurunan kesadaran, penilaian dari medis tingkat kesadaran turun ke 9 seharusnya kalau normal 15. Saturasi (oksigen) turun,” terangnya.

Di awal masuk, lanjut dr Budi pasien juga mengalami komorbid DM (penyakit penyerta) dengan hasil laboratorium 17 ribu leukosit yang merupakan istilah sel darah putih. Komponen ini berperan dalam melawan infeksi yang menyerang dalam tubuh. “Hari Jumat sudah mulai drop, sudah nafas satu-satu dan kita jelaskan kita edukasi bahwa proses rujukan ke rumah sakit tetangga sedang penuh. Sebenarnya di Tarakan itu bisa, tapi saat itu tidak ada ICU yang kosong. Nah setelah kita edukasi (pihak keluarga) terkait jika meninggal di rumah sakit Tarakan harus ikut prokes dan tidak bisa dibawa pulang,” tuturnya.

Rujukan ke rumah sakit Tarakan juga sudah melalui pertimbangan yang matang oleh pihak rumah sakit lantaran waktu perjalanan. Namun begitu, pihak keluarga yang telah mendapatkan edukasi masih ingin pasien dirawat di RSUD Akhmad Berahim dengan penanganan semaksimal mungkin dari pihak rumah sakit.

“Malam Senin drop karena sorenya itu kita lakukan bantuan pijat jantung tidak berhasil, dan meninggal karena henti jantung gagal pernapasan. Pada malam itu kebetulan yang jaga keponakan almarhum yang bertugas di sini (RSUD Akhmad Berahim). Berdasarkan prokes pasien covid tidak boleh dibiarkan bermalam, dan harus segera dimandikan. Juga pemulasaran jenazah sudah kita hubungi dan sudah siap. Tetapi pihak keluarga minta keesokan paginya, dan jenazah harus tetap di rumah sakit di kamar jenazah,” paparnya.

Sekitar pukul 8 pagi, dirinya mendapat informasi jika jenazah belum dimandikan dan dirinya langsung menuju ruang jenazah. Dari keterangan yang didapatkannya, petugas rumah sakit telah menghubungi pihak pemulasaran jenazah hingga ke Sesayap Hilir dan tidak ada yang bersedia. Lanjut dr Budi, pihak memandikan jenazah yang dihubungi rumah sakit malam sebelumnya yang sudah bersedia memandikan jenazah, berhalangan lantaran harus mendampingi suaminya di pelantikan kepala desa.

“Kita ambil opsi kedua, yang biasa mandikan jenazah kebetulan lagi sakit. Akhirnya saya mengumpulkan semua teman-teman yang bertugas, saya tanya siapa yang biasa mandikan dan pernah ikut pelatihan jenazah. Ternyata ada satu orang dari petugas kebersihan sanggup dan bisa memandikan jenazah,” terangnya.

“Setelah itu saya minta mereka menyiapkan teman-teman lain yang siap untuk memandikan jenazah. Saya bawa ada empat orang, dan langsung komunikasi ke pihak keluarga untuk segera memandikan jenazah kalau tidak salah saat itu pukul 21.30. Saya jelaskan petugas yang saya bawa pernah mengikuti pelatihan dan bisa memandikan jenazah,” tambahnya.

Lantaran petugas memandikan jenazah yang direkomendasikan pihak rumah sakit masih tergolong muda, dan beberapa di antaranya non muslim akhirnya pihak keluarga meragukan. Namun begitu, petugas non muslim yang ikut memandikan jenazah hanya sekedar menyiapkan perlengkapan memandikan jenazah.

“Yang mandikan jenazah tetap yang muslim dua orang, sementara duanya menyiapkan seperti tempat alat mandi hingga airnya,” sebutnya.

Pihak keluarga meminta waktu untuk berdiskusi terkait petugas yang memandikan jenazah. Setelah beberapa saat, kata dr Budi pihak keluarga ingin memandikan jenazah di rumah duka. Hal itu pun direspon pihak rumah sakit dengan berdiskusi ke pihak satgas Covid-19, yakni BPBD KTT dan akhirnya dengan begitu jenazah diserahkan ke pihak keluarga untuk dimandikan di rumah duka.

“Teman-teman yang bagian pemulasaran tadi saya suruh ikut ke rumah duka agar berjalan dengan prokes, namun informasinya jenazah dimandikan dengan biasanya (tidak prokes),” cetusnya.

Selain itu, ia juga tidak membenarkan tidak adanya petugas memandikan jenazah covid-19 perempuan di rumah sakit. Hanya saja, secara kebetulan di waktu yang ditetapkan pihak keluarga petugas yang memandikan jenazah berhalangan.

“Mis komunikasinya di situ, jika waktu malam itu pihak keluarga bersedia jenazah dimandikan dengan petugas yang kita sediakan mungkin tidak akan terjadi kejadian ini,” sebutnya.

Mengenai situasi tersebut, pihak rumah sakit memahami kondisi pihak keluarga yang dalam suasana berduka. Pihaknya mengaku siap jika diminta klarifikasi terkait kejadian tersebut oleh pihak keluarga pasien.

“Untuk keluarga pasien, saya mengucapkan berbelasungkawa mohon maaf merasa dikecewakan. Mewakili teman-teman di rumah sakit, kami sudah bekerja sesuai profesional, sesuai teknis, dan SOP yang sudah ditentukan serta ini buka faktor yang disengaja,” tutupnya. (bn1)

Editor : Nicky Saputra

[ht-ctc-chat number=+62813-3885-3377] TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *