benuanta.co.id, BULUNGAN – Dalam meningkatkan populasi ternak sapi di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kaltara tak ingin bekerja sendiri untuk menghasilkan sapi. Tapi mengajak seluruh kabupaten kota terlibat dalam pengembangan peternakan sapi dengan sistem padang pengembalaan.
Kepala DPKP Kaltara, Heri Rudiyono melalui Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DPKP, Muhammad Rais Kahar mengatakan dalam konsep yang dimiliki DPKP berupa padang pengembalaan atau berupa peternakan sapi di alam terbuka yang dipagari.
“Kalau kami rencana awal 300 hektare dengan menggandeng perusahaan. Kami sudah ada kerja sama dengan PT PKN,” ucapnya kepada benuanta.co.id, Rabu 5 Oktober 2022.
Dia mengatakan selain Provinsi Kaltara, pihaknya telah mengajak pemerintah kabupaten kota untuk melaksanakan program ini. Agar ke depannya tidak mengandalkan sapi dari luar dengan sistem beli, tapi menghasilkan anakan sapi sendiri.
“Harapan kita 1 kabupaten itu paling tidak mengembangkan 30 hektare untuk 300 ekor sapi dengan 5 kabupaten kota maka sudah ada 150 hektare dengan 1500 ekor di luar dari 300 hektare tadi,” sebutnya.
Masih Rais Kahar, jika rencana ini berjalan di kabupaten kota, dirinya melihat jika pembibitan di tahun pertama dan tahun kedua sudah melaksanakan pembiakan yang ada di masyarakat dan tahun ketiga sudah mulai melakukan penggemukan sapi.
“Maka saya punya ancar-ancar (perkiraan waktu) di tahun ke 7 kita sudah swasembada tidak bergantung lagi dengan sapi potong dan bibit dari luar Kaltara,” jelasnya.
Lebih lanjut, dirinya menginginkan agar semua stakeholder mendukung program ini dan bersabar. Karena hasil yang diinginkan dari konsep padang pengembalaan adalah anakan yang nantinya semakin hari semakin bertambah.
“Yang penting mau bersabar. Kita akan punya sendiri, bahkan di tahun ketiga sudah kelihatan.
Dirinya menjelaskan sistem padang pengembalaan ini, nantinya di pagar jadi rumputnya tidak akan habis sepanjang tahun. Karena sistemnya pakan ini di bagi dengan sekat supaya makannya bisa bergilir.
“Kita rotasi tempat makannya. Kalau program ini berjalan, manfaat utamanya satu petani punya aset dan tiap tahun bertambah tetapi pekerjaan utamanya misalnya petani kebun tetap bisa berjalan karena tidak setiap hari mengurusi sapinya,” paparnya.
“Dengan catatan rumputnya harus siap pagarnya harus bagus baru isi ternak. Dampak yang dirasakan harga daging sapi di pasaran dapat kita turunkan, karena kita tidak beli lagi bibit dan sapi potongnya ini produksi sendiri,” sambungnya.
Lalu yang ketiga yang pasti ini akan membuka gairah orang untuk buka lahan beternak karena menguntungkan, keempat dampak globalnya peternakan dapat menyumbang PDRB bagi perekonomian daerah.
“Hitungan kami 300 hektare itu kalau value dalam rupiah di tahun ketiga menghasilkan bibit sapi betina nilainya sudah Rp 8,5 miliar dengan modal 3.000 ekor, kalau jantannya nilainya Rp 14,8 miliar, tahun berikutnya lagi begitu seterusnya. Di tahun ketiga juga bisa buka sekitar 405 peternak baru dan bisa membuka usaha penggemukan sekitar 100 orang,” tutupnya.(*)
Reporter: Heri Muliadi
Editor: Ramli







