benuanta.co.id, TARAKAN – Pertumbuhan ekonomi Kota Tarakan sebesar 4,77 persen pada triwulan II 2026 belum sepenuhnya menggambarkan kuatnya seluruh sektor ekonomi. Di balik pertumbuhan tersebut, sektor konstruksi dan investasi justru masih mengalami tekanan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan, Umar Riyadi, mengatakan ekonomi Tarakan pada triwulan II 2026 tumbuh 4,77 persen secara tahunan dibandingkan triwulan II 2025.
“Ekonomi Kota Tarakan triwulan II-2026 terhadap triwulan II-2025 tumbuh sebesar 4,77 persen,” ujarnya.
Dari 17 lapangan usaha yang membentuk perekonomian Tarakan, terdapat empat lapangan usaha yang mengalami kontraksi. Lapangan usaha Konstruksi menjadi sektor dengan kontraksi terdalam, yakni minus 2,07 persen. Kemudian Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang terkontraksi 0,54 persen.
Tekanan juga terlihat dari sisi pengeluaran. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang menjadi salah satu indikator aktivitas investasi mengalami kontraksi sebesar 0,25 persen secara tahunan. Kondisi tersebut semakin terlihat pada perbandingan triwulan. Pada triwulan II 2026, PMTB terkontraksi hingga 3,62 persen dibandingkan triwulan I 2026.
“Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 17,15 persen,” ungkapnya.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh sejumlah sektor yang tumbuh cukup kuat. Jasa Perusahaan menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 11,56 persen, disusul Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 11,14 persen.
Sektor Perdagangan, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor yang memiliki peran dominan terhadap ekonomi Tarakan juga tumbuh 8,82 persen.
Secara keseluruhan, ekonomi Tarakan pada triwulan II 2026 tumbuh 2,04 persen secara kuartalan.
Namun, pertumbuhan kuartalan tersebut juga memperlihatkan tekanan pada sejumlah komponen. Selain PMTB yang minus 3,62 persen, konsumsi LNPRT terkontraksi 0,47 persen dan konsumsi rumah tangga turun 0,28 persen.
Di sisi lain, konsumsi pemerintah menjadi satu-satunya komponen pengeluaran yang tumbuh secara kuartalan, dengan pertumbuhan mencapai 34,86 persen.
Data tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi Tarakan masih menghadapi tantangan, khususnya dalam mendorong investasi dan aktivitas sektor riil. Pertumbuhan positif secara agregat belum otomatis berarti seluruh mesin ekonomi bergerak dalam arah yang sama.
“Pada triwulan II 2026, PDRB Tarakan tercatat Rp16,20 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp7,38 triliun atas dasar harga konstan 2010,” pungkasnya.
Dengan capaian tersebut, Tarakan memberikan kontribusi 39,99 persen terhadap struktur ekonomi Provinsi Kalimantan Utara pada triwulan II 2026. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Ramli







