benuanta.co.id, TARAKAN – Perkembangan Kota Tarakan yang diikuti meningkatnya kebutuhan energi dan komunikasi dinilai harus dibarengi dengan penataan infrastruktur yang lebih baik. Di balik manfaat jaringan listrik dan telekomunikasi yang semakin luas, keberadaan kabel yang semrawut di ruang publik mulai memunculkan persoalan baru berupa polusi visual, gangguan akses kendaraan besar, hingga berkurangnya estetika kota.
Akademisi Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr. Margiyono, S.E., M.Si., mengungkapkan perkembangan sebuah kota tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan fasilitas pendukung, mulai dari energi, komunikasi, hingga transportasi. Menurutnya, setiap pembangunan infrastruktur selalu menghadirkan dampak positif sekaligus dampak negatif yang perlu dikelola secara seimbang.
“Perkembangan kota tidak bisa dipisahkan dengan kebutuhan fasilitasnya, baik kebutuhan energi, kebutuhan komunikasi, dan juga transportasi,” ungkapnya, Rabu (15/7/2026).
Ia menjelaskan semakin maju suatu kota, kebutuhan energi juga akan semakin besar. Kondisi itu menuntut peningkatan kapasitas produksi listrik yang kemudian didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan industri, rumah tangga, pendidikan, maupun aktivitas sosial lainnya. “Semakin maju suatu kota, maka kebutuhan energinya makin besar,” jelasnya.
Selain energi, kebutuhan komunikasi juga terus meningkat. Berbeda dengan layanan listrik yang lebih terpusat melalui PT PLN, layanan komunikasi disediakan oleh banyak perusahaan melalui jaringan kabel maupun nirkabel.
“Untuk pelayanan komunikasi ini banyak sekali perusahaan yang memberikan layanan kepada masyarakat, baik melalui kabel atau nirkabel,” katanya.
Dr. Margiyono menilai lonjakan kebutuhan komunikasi terjadi sejak pandemi Covid-19. Internet yang sebelumnya hanya menjadi pelengkap kini telah berubah menjadi kebutuhan dasar masyarakat karena digunakan hampir di seluruh aspek kehidupan.
“Sekarang internet menjadi basic need yang keempat karena faktanya hampir orang tidak bisa hidup tanpa internet,” imbuhnya.
Menurutnya, tingginya kebutuhan internet dimanfaatkan perusahaan dengan terus meningkatkan jangkauan layanan kepada masyarakat. Meski demikian, perlu diingat bahwa setiap pembangunan fasilitas tidak hanya menghadirkan manfaat, tetapi juga dampak yang harus diantisipasi. “Setiap fasilitas itu selain memberikan dampak positif tentu juga ada dampak-dampak negatif,” tambahnya.
Ia menilai selama ini perhatian terhadap dampak negatif tersebut masih belum proporsional. Akibatnya, persoalan yang muncul dari pembangunan infrastruktur sering kali luput dari perhatian. “Berkaitan dengan dampak negatif ini kadang-kadang kita menjadi kurang proporsional,” ujarnya.
Dr. Margiyono mencontohkan kondisi jaringan listrik di Tarakan yang masih didominasi kabel udara. Dari pengamatannya, masih terdapat jaringan lama menggunakan tiang berukuran kecil dan jaringan baru dengan tiang yang lebih besar sehingga keduanya berdiri berdampingan di sejumlah kawasan. “Tiang yang kecil tetap ada, tiang yang besar juga tetap eksis,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui keberadaan jaringan tersebut memberikan manfaat karena semakin luas jangkauan listrik, semakin banyak pula kebutuhan masyarakat yang dapat terlayani, baik untuk rumah tangga, pendidikan, maupun kegiatan ekonomi.
“Semakin jaringannya menjangkau masyarakat, berarti kebutuhan masyarakat juga semakin terlayani,” tuturnya.
Persoalan berbeda justru terlihat pada jaringan komunikasi berbasis kabel. Menurutnya, selain layanan nirkabel seperti Telkomsel, Indosat, dan XL, masih banyak kabel telekomunikasi yang dipasang dengan jumlah sangat banyak dan menggantung rendah.
“Kabel itu sangat banyak sehingga terlihat melengkung, bahkan kadang hampir menyentuh bak mobil,” bebernya.
Kondisi tersebut, lanjut Dr. Margiyono, tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga menyulitkan kendaraan berukuran besar saat melintas di sejumlah ruas jalan. “Truk pengangkut peti kemas sampai harus membawa jolokan untuk mengangkat kabel saat melintas,” ucapnya.
Menurutnya, persoalan semakin terlihat ketika jaringan kabel memasuki kawasan permukiman. Kabel dari berbagai penyedia layanan tampak melintang tanpa penataan yang jelas sehingga mengurangi estetika lingkungan. “Hampir ratusan kabel itu melintang-pintang dan sangat mengganggu pandangan,” tegasnya.
Ia mengaku mengalami langsung kondisi tersebut di rumahnya. Di depan rumahnya terdapat satu tiang yang menjadi titik sambungan berbagai kabel menuju rumah kontrakan. Karena penyewa sering berganti, kabel lama dibiarkan begitu saja hingga terus menumpuk. “Saya pernah menyingkirkan kabel itu sampai satu karung penuh,” ujarnya.
Dr. Margiyono menilai kondisi itu menunjukkan perlunya evaluasi terhadap kabel pelanggan yang sudah tidak digunakan. Menurutnya, kabel-kabel lama seharusnya segera dilepas agar tidak terus menambah kesemrawutan jaringan. “Coba kalau yang sudah ganti itu diputus, jangan dibiarkan melintang ke mana-mana,” katanya.
Ia berpandangan penataan kabel seharusnya menjadi perhatian sebagaimana pemerintah menata pedagang kaki lima demi menjaga keindahan kota. Penataan jaringan utilitas dinilai penting agar pelayanan tetap berjalan tanpa mengorbankan estetika.
“Pelayanan jasa telepon maupun PLN juga perlu ditertibkan dan dirapikan sehingga pelayanan tetap terjaga, tetapi keindahan kota juga terjaga,” tergasnya.
Sebagai contoh, Dr. Margiyono menyoroti kondisi kabel di depan Bakso ABC, Kampung Bugis, Jalan Sumatera. Menurutnya, secara fungsi ekonomi jaringan tersebut memang penting, tetapi dari sisi tata kota sudah sangat mengganggu pandangan.
“Secara fungsi ekonomi saya menerima, tetapi dalam sisi perkembangan kota kabel itu sangat mengganggu pandangan mata,” sebutnya.
Ia menambahkan persoalan tersebut juga berkaitan dengan dampak lingkungan. Selain mengurangi keindahan kota, kabel yang semrawut dapat mengganggu akses kendaraan besar dan menurunkan kenyamanan masyarakat.
“Kalau kabelnya ke mana-mana, dampak lingkungannya tidak nyaman dan mengganggu visualitas serta aksesibilitas kendaraan besar,” tambahnya.
Menurut Dr. Margiyono, kondisi ini perlu menjadi perhatian Pemerintah Kota Tarakan. Sebagai kota yang terus berkembang, pelayanan listrik dan internet harus tetap efisien, namun penataan infrastrukturnya juga tidak boleh diabaikan. “Sebagai metropolitan Kaltara, hal ini harus menjadi perhatian pemerintah kota,” lanjutnya.
Ia mengaku gagasan tersebut terinspirasi dari langkah Pemerintah Kota Yogyakarta yang mulai menata jaringan kabel demi menjaga keindahan kawasan. Menurutnya, semangat serupa dapat diterapkan di Tarakan agar menjadi kota yang nyaman dan layak huni. “Tarakan sebagai kota yang modern juga harus memikirkan hal itu,” ujarnya.
Dr. Margiyono menilai ketegasan pemerintah tidak boleh hanya menyasar pedagang kecil, tetapi juga perusahaan penyedia layanan yang memperoleh manfaat ekonomi dari masyarakat. Mereka juga perlu memiliki tanggung jawab terhadap estetika kota.
“Jangan sampai pedagang kecil kita tertibkan, tetapi perusahaan-perusahaan besar tidak peduli terhadap keindahan dan kenyamanan kota,” tegasnya.
Sebagai solusi, ia mengusulkan penataan jaringan kabel dilakukan secara bertahap melalui pembangunan jalur khusus atau terowongan bawah tanah sehingga tidak lagi memenuhi ruang udara kota. “Perlu penataan, penertiban, dan kepedulian terhadap keindahan kota,” jelasnya.
Menurutnya, langkah tersebut sebaiknya mulai dipersiapkan sejak sekarang sebelum jumlah penduduk dan kebutuhan infrastruktur terus meningkat. Pemerintah juga perlu membangun komunikasi dengan seluruh penyedia layanan agar penataan dapat dilakukan secara bertahap.
“Alangkah baiknya mulai sekarang pemerintah berkomunikasi dengan penyedia layanan agar kabel tidak lagi lewat udara, tetapi ditata melalui jalur bawah tanah yang lebih rapi. Itu akan memberikan keindahan dan juga kenyamanan kota,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







